
Sebelumnya, aku masuk ke alam bawah sadarku. Di sana, aku menembukan sebuah bola kecil yang bersinar, dan bola itu bisa bersuara. Cahaya itu mengaku bahwa dirinya adalah Dewa Kematian, dan seenak jidatnya, ia memilihku sebagai pewarisnya.
*****
"Pewaris?" gumamku.
"Ya, kau berkewajiban untuk melindungi Bumi ini," kata Si Dewa.
"Hmm ... baiklah," kataku sambil menghela napas.
"Bagus," katanya.
"Mulai sekarang ... yah sebenarnya dari malam tadi, sih. Mulai saat ini, kita adalah satu, apapun yang kau pikirkan, aku bisa mendengarnya. Jadi, kita bisa berkomunikasi melalui pikiranmu," jelasnya.
"Dan karena jiwaku tinggal dalam jantungmu, kau sudah memiliki DNA ku-" katanya.
"Mana ada roh yang punya DNA," ujarku.
"Hmh, kau pintar juga ternyata," dia terkekek.
"Uhuk-uhuk." Dia batuk lagi.
"Jangan meremehkanku!" Aku kesal dan mengacungkan tinjuku padanya.
"Yah, kau bisa sebut itu sebagai DNA." Ia tidak menggubris kekesalanku.
"Kau memiliki energi yang kupunya, energi jiwa," sambungnya.
"Energi ... jiwa?" tanyaku.
"Ya, semakin banyak nyawa manusia yang kau cabut, semakin kuat pula dirimu-" jelasnya.
"Menjadi kuat dengan membunuh orang, aku sama saja dengan monster," kataku.
"Kau mencabut nyawa, bukan membunuh. Lagi pula kau mencabut nyawa untuk-" ujarnya.
"Melindungi Bumi, kan?" Aku memotong ucapannya.
"Ya!" jawabnya dengan semangat. Entah kenapa aku pun tersenyum mendengar itu.
"Jadi, bagaimana caraku keluar dari sini?" tanyaku.
"Aku khawatir dengan tubuhku yang mungkin masih tergeletak di wc," ujarku.
"Pukul saja jantungmu," jawabnya.
"Oh, baiklah." Aku pun memukul jantungku, dan akhirnya aku keluar dari alam bawah sadarku tadi.
*****
Di dunia nyata.
Perlahan-lahan aku membuka mataku.
"Emm ... hah?!" aku terkejut saat menyadari bahwa tubuhku sedang digotong oleh orang-orang.
Karena aku berteriak tadi, pegangan orang-orang yang membawaku tadi pun terlepas, dan aku terjatuh.
"Ehh, dia sudah sadar," kata salah seorang dari mereka.
"Huhh, syukurlah dia sudah sadar," syukur Ashley yang berada di sana.
"Ray, apa yang terjadi denganmu?" tanya Ashley.
"Kenapa kalian menggotongku?" tanyaku yang tidak menggubris pertanyaan Ashley.
"Yah ... tadi aku menemukanmu pingsan di wc," ujar Ashley lirih.
__ADS_1
"Ohh, em ... begitu yah." Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal karena malu.
"Emm ... kenapa tubuhku terasa sangat dingin?" tanyaku lagi.
"Hahahahahah ...," orang-orang di sana menertawaiku.
"Heh, Ray, kau itu pingsan dan tergeletak beberapa jam di wc. Jadi pakaianmu jadi basah," kata Ashley.
"Oh ... begitu yah?" aku menggaruk-garuk kepalaku karena malu.
"Ray, sebaiknya kau pulang saja dan istirahat. Jangan sampai nanti kau pingsan lagi!" kata seorang laki-laki yang mengenalku.
"Em." Ashley mengangguk sambil menatap ke arahku.
"Iya-iya." Aku berdiri.
Setelah itu, aku bersiap untuk pulang ke rumah dengan alasan tidak enak badan. Aku ditemani oleh Ashley. Karena disekolahku, siapapun yang izin harus ditemani seseorang.
*****
Di perjalanan ke rumah.
"Ash, kenapa kau tidak langsung membawa tasmu saja?" tanyaku.
"Heheh, yah kan nanti masih ada jam pelajaran." Dia tersenyum.
"Kau hanya menghabiskan tenagamu," kataku.
"Ahh tidak apa-apa, kok." Dia masih tersenyum.
"Lagian, kenapa kau mau menemaniku?" tanyaku sambil menatap wajahnya.
"Heh, Bodoh. Tentu saja karena kita teman, kita adalah ... sahabat." Dia juga menatapku.
Dia sudah sering mengatakan itu, tapi entah kenapa yang kali ini, terasa berbeda, dan membuatku tertegun.
"Ashley, terima kasih, yah!" teriak ibuku sambil melambaikan tangan.
"Iya tante!" Teriak Ashley sambil terus berlari dan melambaikan tangan.
Ibuku lalu menutup pintu rumah kami.
"Ya ampun, Ray! Apa yang terjadi denganmu?" tanya ibuku yang tampak khawatir.
"Tadi aku lupa bernapas di wc," jawabku sambil berjalan ke kamar.
"Ray!" bentak ibuku.
"Huhh. Tadi aku pingsan, di wc." Aku berhenti sejenak untuk menjawab pertanyaan ibuku.
"Pfft, ternyata Ray bisa pingsan juga, yah. Mungkin ta*kmu terlalu bau, dan kau tidak tahan lalu pingsan. Hihihihihi." Ibu meledekku sambil tertawa.
"Huhh." Aku lanjut berjalan sambil menghela napas karena ledekan dari ibuku.
"Padahal tadi dia khawatir, lalu dia marah, dan kemudian dia meledekku. Benar-benar tidak jelas," batinku.
"Pfft." Si Dewa juga meledekku.
*****
Di kamar.
"Hahh, baru hari pertama jadi dewa saja aku sudah mengalami hal memalukan seperti ini," gumamku sambil berbaring di kasur.
"Hahaha, uhuk-uhuk." Si Dewa tertawa dalam pikiranku.
"Berisik! Jangan seenaknya tertawa dalam pikiran orang lain!" teriakku sambil menutup telingaku dengan bantal.
__ADS_1
"Ray!" teriak ibuku dari bawah.
"Aku hanya mengigau, Bu! Tak perlu khawatir!"
"Hahahahahah. Maaf-maaf," kata Si Dewa.
"Oh iya. Mau kutunjukkan sesuatu yang menyenangkan saat kau menjadi dewa?" tawarnya.
"Nggak ah. Aku mau bernapas saja," jawabku.
"Bodoh, kau tetap bisa bernapas saat kau bersenang-senang!" katanya.
"Huhh. Baiklah!" jawabku penuh semangat.
"Tapi ... bagaimana?" tanyaku pada Si Dewa.
"Tekan pergelangan tangan kirimu, maka sebuah jubah dan sabit akan muncul," ujarnya.
"Emm, baiklah!" kataku sambil menekan pergelangan tangan kiriku, sesuai dengan yang diperintahkan Si Dewa.
Tiba-tiba, aku langsung mengenakan sebuah jubah hoodie berwarna hitam dan memegang sebuah sabit yang besar.
"Wahh, keren," kataku.
"Hahaha, padahal kebanyakan orang mengatakan bahwa itu menyeramkan," katanya.
"Ohh, benarkah?" kataku tak percaya.
"Huhh, selama ini kau hidup di mana? Kan banyak cerita-cerita dan gambar-gambar menyeramkan tentangku," katanya.
"Ohh, aku tidak terlalu peduli tentang itu," ujarku.
"Tapi, apa kau tidak merasa tersinggung dengan cerita dan gambar-gambar itu?" tanyaku.
"Tersinggung? Sedikit. Tapi setidaknya aku masih dikenal oleh manusia," jawabnya lirih. Mendengar itu, aku pun tersenyum.
"Baiklah, apa lagi kemampuanmu selain jubah dan sabit ini?" tanyaku.
"Ohh, dengan jubah itu, kau bisa membuat dirimu menembus benda mati kecuali elemen dasar alam, seperti api, udara, air, tanah, petir, tanaman, juga cahaya," jelasnya.
"Selain itu, dengan jubah ini kau juga tidak bisa dilihat oleh manusia dan suaramu pun tidak akan terdengar oleh manusia biasa," sambungnya.
"Emm ... boleh juga." Aku mengangguk-nganguk.
"Kau juga bisa terbang, loh," katanya lagi.
"Ehh, benarkah?" kataku yang agak terkejut dan senang mendengar hal itu.
"Bagaimana?" tanyaku.
"Kau hanya perlu sedikit berkonsentrasi untuk melakukannya," jawabnya.
Aku pun berkonsentrasi untuk terbang. Beberapa saat kemudian, tubuhku mengambang dan aku bisa terbang.
"Wahhaha, aku terbang!" teriakku.
"Ya," kata Si Dewa.
"Baiklah, ayo kita bersenang senang!" seruku. Aku lalu menembus atap kamarku, dan terbang berkeliling kota. Aku melakukan hal-hal yang selama ini tidak bisa aku, bahkan semua orang tidak bisa lakukan.
"Hoi, Dewa! Ternyata menjadi dewa itu menyenangkan, yah," ujarku.
"Hemh, jadi selama ini kau pikir jadi dewa itu tidak menyenangkan?" katanya.
"Aku bahkan tidak peduli tentang itu!" ujarku.
Siang itu, aku benar-benar senang. Sungguh saat-saat yang menyenangkan.
__ADS_1
Tapi, ini semua hanyalah sisi baiknya saja.