Pewaris Dewa Kematian

Pewaris Dewa Kematian
Versus Iblis Darah


__ADS_3

"Hahh!?" Si iblis darah tampak sangat-sangat marah.


"Energi darah. Pedang berdarah," ucap si iblis seperti mengeluarkan teknik darahnya.


Dan tidak lama kemudian, kedua pedang iblis itu berubah warna. Warna pedang yang layaknya seperti tulang biasa, berubah menjadi warna darah, yaitu merah pekat.


"Ayo kita mulai," ajak si iblis.


"Osh!" Aku lalu melesat ke atas, ke arah iblis itu.


Ctingg.


Aku menebaskan sabitku ke arah si iblis. Namun dengan mudahnya dia berhasil menahan seranganku menggunakan kedua pedangnya.


"Hah? Apakah ini adalah efek dari jurusnya tadi?" tanyaku dalam hati.


"Hem. Lemah," ucap si iblis pelan.


Setelah mengatakan hal itu, si iblis langsung mendorong kedua pedangnya yang sekaligus membuat sabit dan tubuhku terdorong. Aku tidak sanggup menahan dorongannya.


"Ahh!" Alhasil, aku pun terhempas kembali ke bawah.


Bukk, bukk, bukk.


"Kuat ... sekali," batinku sambil terus mengangkat kepalaku untuk melihat ke arah si iblis darah.


"Ghaa!!" Dan hanya sesaat kemudian, para iblis tingkat bawah menggeram dan bergerak ke arahku.


"Hentikan!" teriak si iblis darah yang merupakan pemimpin iblis di sini.


"'Badut' ini milikku. Kalian urus saja wanita lemah di sana!" perintah iblis darah.


"Ghee. Baik, Tuan." Iblis-iblis rendahan tadi pun mematuhi perintah pemimpin mereka dengan pergi ke arah Risa dan mengabaikanku.


Pada saat itu juga aku melihat Risa yang tampak sangat kesulitan menghadapi pasukan iblis yang sangat banyak. Apalagi Risa kan tidak bisa menggunakan jurus-jurus apapun sebagai keturunan dari Karim.


"Siiall!" Aku mencoba untuk bergerak melawab iblis-iblis yang sedang mengincar Risa tadi.


"Energi air. Tusukan pusaran air!" Aku mengeluarkan jurus yang pernah digunakan oleh Frans untuk melawanku.


Sabitku mengeluarkan sebuah pusaran air yang tampak sangat cepat dan kuat. Dengan jurus itu, aku berhasil menghempaskan beberapa iblis tingkat rendah yang ingin menyerang Risa tadi. Namun aku rasa itu tidak terlalu mengubah keadaan karena pasukan iblis di sini memiliki jumlah yang sangat banyak.


"Cih, sial ...," gumamku kesal.


"Cukup sampai di situ! Energi darah. Tebasan darah kegelapan!" Si iblis darah memotong ucapanku dan dia mengeluarkan beberapa jurus tebasannya untuk menyerangku.


"Ener ...." Aku tidak sempat mengeluarkan jurus untuk menahan serangan iblis itu.


"Ekh." Alhasil, aku pun terpental beberapa meter ke belakang.


"Ini belum berakhir!" teriak iblis darah sambil melesat ke arahku.


"Aku juga maunya begitu!" balasku dengan lantang.


"Energi jiwa, laser jiwa!" Aku lalu mengeluarkan jurus laserku untuk menyerang iblis darah.


"Lasermu lambat!" teriak si iblis darah yang berhasil menghindari seranganku di udara.

__ADS_1


"Rasakan ini! Energi darah, cipratan darah!" Iblis darah lalu melakukan serangan balik terhadap diriku.


Di menebaskan pedangnya ke udara. Dan dari pedangnya itu keluar tetesan-tetesan darah yang bergerak dengan cepat ke arahku.


"Kecil sekali. Tapi sepertinya itu cukup berbahaya," pikirku.


Lalu, aku terbang ke atas untuk menghindari tetesan-tetesan darah itu.


"Yosh! Sekarang giliranku lagi!" lantangku.


"Hehe," kekeh si iblis darah.


Brusst.


Setetes darah mengenai jubahku. Bagian jubahku yang terkena tetesan darahku tadi pun terbakar dan perlahan-lahan apinya menyebar ke semua bagian jubahku.


"Heh. Sudah kuduga ini pasti berbahaya," batinku.


"Energi air. Air biasa! Padamkan!"


Sebenarnya aku tidak tahu itu akan berhasil atau tidak. Namun sepertinya itu benar-benar berhasil. Kulitku menyemprotkan air yang cukup deras sehingga dapat memadamkan api yang membakar setengah bagian dari jubahku ini.


"Huhh, berhasil," syukurku dalam hati.


Lalu, perlahan-lahan jubahku memperbaiki dirinya sendiri dengan menggunakan sebagian dari energi jiwa yang masih kumiliki.


"Hem." Iblis darah pun tersenyum entah karena apa.


"Siapa kau sebenarnya, manusia?" tanya si iblis darah sinis.


"Heh. Kalau memang itu jawabanmu, ya sudah. Tapi jangan harap aku akan membunuhmu dengan cepat," ucap si iblis darah pelan.


"Aku akan membuatmu menderita! Aku akan menyiksa, mencabik-cabik dirimu. Lalu akan kuserahkan tubuhmu kepada tuanku," sambung iblis darah.


"Hem. Bilang saja kau tidak bisa membunuhku!" lantangku sambil melesat ke arah iblis darah.


Ctingg.


Iblis darah juga melesat ke arahku. Dan senjata kami saling beradu lagi.


"Heh. Sepertinya aku harus mengajarimu ... arti kata 'menyerah'!" lantang si iblis darah sambil menambah kekuatan dorongannya terhadap diriku.


"Ekh." Alhasil, diriku pun terhempas ke belakang.


"Ternyata sabitku memang tidak cukup kuat untuk beradu kekuatan dengan pedang iblis itu," pikirku.


"Tapi kunci kemenangan dalam pertarungan ini, tidak hanya bergantung pada kekuatan," pikirku lagi sambil melesat ke arah si iblis darah.


"Ya, majulah. Agar pedangku dapat menebas tubuhmu!" lantang si iblis darah dengan kuda-kuda siap bertarung.


"Aku harus terus bergerak dengan cepat dan lincah. Tapi aku juga harus menghemat energiku. Benar-benar merepotkan," batinku.


"Hehh. Energi darah, cipratan darah!" Iblis darah mengeluarkan jurus yang sama saat ia berhasil membuat jubahku terbakar tadi.


"Tidak lagi!" Lantangku dengan terbang lebih tinggi lagi untuk menghindari tetesan-tetesan darah yang menjijikkan itu.


"Energi darah, tebasan darah!" Iblis darah yang melihatku berhasil menghindari serangannya langsung mengeluarkan jurus lain miliknya untuk menyerangku.

__ADS_1


"Hah?!" Aku cukup terkejut melihat jurus-jurus tebasan iblis darah yang bergerak dengan cepat ke arahku.


"Heh." Setelah itu aku tersenyum kaku dan bersiap untuk melesat ke bawah, ke arah iblis darah.


WHUSSH.


Aku pun melesat dengan cepat dan cermat ke arah iblis darah sambil menghindari semua serangannya.


"Hahaha!" Aku pun tertawa dengan keras untuk memancing kemarahan iblis darah karena aku sudah berhasil menghindari tujuh puluh persen jurus tebasannya tadi.


"Masih belum! Hiaa!!" Iblis darah yang terpancing emosi pun kembali mengeluarkan jurus yang sama untuk menyerangku.


"Hmm ... huhh ...."


Aku menghela napasku dan berkonsentrasi membuat aliran energi air dalam tubuhku untuk mengalir lebih deras bersamaan dengan aliran darahku. Dengan itu aku harap gerakanku nantinya akan menjadi lebih lincah dan tubuhku pun menjadi lebih lentur.


WHUSSH.


Aku pun berhasil menghindari semua serangan iblis darah termasuk jurus yang baru ia keluarkan tadi.


"Cih. Walaupun kau bisa menghindari seranganku, itu semua percuma jika kau tidak bisa membuatku terkena seranganmu," bacot iblis darah yang dalam posisi siap bertarungnya.


"Maju!!" teriak iblis darah.


"Hiiaa!!" Aku pun terus melesat ke arah iblis darah dengan posisi sabitku berada di belakang sebelah samping kananku.


"Ghee." Mata iblis darah tampak sangat fokus menatapku, tidak, lebih tepatnya ke arah sabitku.


"Hehe," kekehku pelan.


WHESHH.


Aku lalu melemparkan sabitku ke arah si iblis darah. Dengan itu, iblis darah pasti sudah terkena efek "kejut" dan saat ini tubuhnya pasti hanya terdiam dan tidak bisa bergerak. Namun itu hanya sebentar, karena itu aku harus bergerak dengan cepat ke arah yang tepat agar bisa melakukan serangan yang telak di titik yang vital.


PSST.


Dengan cepat, aku sudah berada tepat di belakang iblis darah.


"Osh. Sabit non-aktif." Aku lalu membuat sabitku menghilang sehingga hal itu akan membuat iblis darah kembali terkena efek "kejut" tadi.


"Sabit aktif." Lalu aku kembali mengaktifkan sabitku, dan saat ini sabitku sudah kembali ke tanganku.


"Mati kau!!" teriakku.


"Energi air. Tusukan pusaran air!"


"Energi jiwa. Laser jiwa!"


Aku menembakkan dua jurus sekaligus ke arah tubuh bagian belakang iblis darah.


BRUSST.


*BAMM*.


Kedua jurusku tadi membuat iblis darah terdorong ke atas sampai ke langit-langit "sarang iblis" ini.


"Laserku mungkin masih lambat. Tapi dengan otakku yang cerdas, aku bisa memaksimalkannya hingga berhasil mengalahkanmu," batinku.

__ADS_1


__ADS_2