
TZIINGG.
"Ekh!"
Risa berhasil menebas tubuh iblis darah sehingga membuatnya terpisah menjadi dua bagian.
Brusst.
Gumpalan darah penyusun tubuh iblis darah pun tumpah. Iblis darah sudah tak memiliki bentuk lagi, yang ada hanyalah tumpahan cairan darah yang sangat banyak.
"Huhh, huhh, huhh ...." Khaira menghembuskan napas berat karena kelelahan.
"Aku berhasil ...," ucap Khaira sambil berbalik dan menatapku.
"Hahh ...." Aku menghela napas dan berusaha untuk duduk.
Tubuhku masih terasa sangat lemas dan sakit. Lalu, Risa berlari ke arahku, dan tampak seperti tidak menghiraukan tentang iblis darah lagi.
"Hoi, kau baik-baik saja, kan?" tanya Risa sinis.
"Kau tahu, masih ada cara yang lebih baik untuk menanyakan kondisi seseorang, loh," jawabku.
"Ehh, baiklah aku tahu, kau pasti baik-baik saja," ucap Risa sambil berbalik ke belakang.
"Jahat. Bisakah kau bersikap keren seperti tadi lagi?" tanyaku.
"Hah? Menurutmu ... aku tadi itu, keren?" tanya Risa. Aku melihat dari belakang bahwa telinga Risa berwarna merah.
"Heh. Bagaimanapun kau tadi, terima kasih sudah menyelamatkanku," kataku lirih.
"Ahh, iya, sama-sama. Tapi jangan terlalu sering seperti itu, kau terlihat lebih menyedihkan dari biasanya," balas Risa.
"Padahal, tadinya akulah yang ingin melindunginya. Namun ternyata, kenyataan tak selalu berjalan sesuai dengan keinginan," pikirku melihat Risa yang berdiri membelakangiku.
"Atau justru, wanita ini memang tidak perlu dilindungi," pikirku lagi.
"Hehh ... akh!" Aku mencoba untuk berdiri, namun baru di pertengahan jalan, aku sudah terjatuh dan kembali duduk berlutut.
"Hei, jangan memaksakan dirimu!" ucap Risa sambil memutar balik lago tubuhnya dan melihatku.
"Duduklah di sini, dan serahkan semuanya padaku. Kali ini, akulah yang akan melindungimu." Risa duduk berlutut sambil memegang bahu dan dengan tatapan mata bercahaya.
"Iya, iya," jawabku dengan tersenyum.
"Hem." Risa pun ikut tersenyum.
"Tapi ... bolehkah aku menanyakan satu hal?" tanyaku pada Risa.
"Boleh. Dan yang barusan itu sudah termasuk pertanyaan," jawab Risa.
"Guhh. Kenapa kita tidak langsung kabur saja dari sini?" tanyaku.
"Jangan meledekku. Aku tidak bisa terbang," jawab Risa.
"Tapi kan kau bisa-"
"Lagi pula meskipun aku bisa terbang, aku tidak akan pergi dari sini," potong Risa sambil berdiri.
"Kenapa?" tanyaku.
"Karena aku tahu bahwa iblis itu masih hidup," jawab Risa.
"Justru karena itulah kita harusnya pergi dari sini," ucapku.
__ADS_1
"Sehingga membuat iblis itu mengejar kita hingga ke kerajaan, dan membuatnya mengacau di sana?" tanya Risa.
"Hah ...." Aku tertegun mendengar ucapan Risa.
"Hih." Aku tersenyum karena menurutku, pertanyaan Risa barusan sangatlah keren.
"Hih." Dan lagi-lagi, Risa juga turut tersenyum denganku.
Risa tetap memikirkan kerajaan air, walaupun tidak ada satupun orang yang menerima dirinya di sana. Dia masih bersikap layaknya seorang putri. Tidaxk, justru dia sudah bersikap sebagai seorang ratu. Menurutku, dia sangat keren.
"Hoi, hoi, hoi!" Tiba-tiba tubuh iblis darah kembali terbentuk dari darah-darah yang bertumpahan tadi.
"Tch." Risa langsung bersiap dengan kuda-kuda bertarungnya.
"Huhh. Jangan membuatku jijik!" tegas iblis darah setelah menghembuskan napas.
"Hoi, justru dirimu lah yang membuatku jijik," batinku.
"Ray, berlindunglah! Aku akan melawan iblis itu!" suruh Risa.
Setelah itu Risa berlari ke arah iblis darah sambil membawa kedua pedangnya. Risa menatap iblis darah dengan tajam dan dengan senyuman yang kaku.
"Kau pikir bagaimana caraku untuk berlindung? Berdiri saja aku tidak bisa," pikirku.
"Gadis sialan, kau mengganggu kesenanganku. Tapi karena aku ini baik, maka aku akan memberimu hadiah. Kau akan menerima kehormatan sebagai orang pertama yang aku habisi dengan wujud ini," ucap iblis darah.
"Diam kau ...," balas Risa.
"Kyaa!!" teriak Risa dengan keras. Namun aku tidak merasakan semangat dari teriakannya itu.
"Eh, tidak keren ...," gumamku.
Aku merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda dari Risa, dibanding sebelumnya. Dari wajahnya, terlihat seperti ia sedang menghiraukan sesuatu.
"Apa yang terjadi? Apa dia sengaja?" tanyaku dalam hati.
"Hiaa!!!" Risa kembali berteriak dengan keras.
"Jangan habiskan suaramu untuk hal yang jelas! Karena setelah ini, aku akan membuatmu berteriak sekencang-kencangnya sampai Raja Lucifer mendengarnya," ucap iblis darah.
"Tidak, itu bukan hal yang disengaja oleh Risa. Teriakannya itu, itu adalah teriakan untuk menghilangkan rasa khawatir dan cemasnya," pikirku.
"Dia punya kekuatan. Tapi dia masih belum bisa mengendalikannya," pikirku lagi.
"Risa, mundur!!!" teriakku.
"Hiaa!!!" Risa tidak menghiraukanku, dia hanya terus berlari dengan membawa kedua pedangnya.
"Energi darah. Jarum darah!" Puluhan hingga ratusan gumpalan darah membentuk jarum-jarum yang tajam, layaknya jarum suntik.
"Tenang saja, Ray! Baik dengan kekuatan air ataupun tidak, aku tetap bisa mengalahkan iblis ini!" lantang Risa seakan-akan tahu isi pikiranku.
"Ghaa!!" Iblis darah menggerakkan jarum-jarum darahnya ke arah Risa.
"Hiiiaa!!!" Sambil terus berlari, Risa memposisikan kedua pedangnya berada tepat di depan perut hingga wajah, untuk melindungi dirinya dari serangan iblis darah.
"Cih. Aku tidak bisa terus berdiam diri seperti ini. Wanita itu, membuntuhkan bantuan," batinku, sambil berusaha berdiri.
Cting, cting, cting.
Dari kejauhan, aku mendengar suara seperti ada dua logam yang beradu. Ternyata, itu adalah suara ketika jarum-jarum dari iblis darah membentur kedua pedang Risa. Hal itu pun membuat terdapat bekas goresan dari pedang Risa.
"Heaahh ...!" Aku berjuang keras untuk berdiri.
__ADS_1
Kemudian, kecepatan lari Risa menurun. Hingga akhirnya ia berhenti sambil terus menahan serangan iblis darah yang menghujani dirinya dengan ratusan jarum.
"Eghh. Akh! Akh!" Perlahan-lahan, pertahanan Risa mulai tembus. Tubuh Risa sudah tergores jarum berkali-kali, bahkan beberapa di antaranya sampai menusuk tubuhnya.
"Hoi, hoi. Mundurlah jika kau tidak bisa menahannya," batinku, sambil mempertahankan posisi berdiriku dengan mencoba menyeimbangkan tubuhku agar tidak terjatuh.
"Heheheh. Matilah kau!" teriak iblis darah.
"Ini ... belum ... berakhir ...," ucap Risa.
"Hiiaa!!" Risa menebaskan kedua pedangnya ke segala arah untuk menghancurkan jarum-jarum darah, meskipun ada beberapa yang tidak mengarah ke dirinya.
"Woi ... gerakkanlah tubuhmu, Ray," batinku.
"Heh. Energi darah, darah penghukuman!" Iblis darah mengeluarkan jurusnya yang sama dengan yang ia keluarkan sebelumnya untuk menangkapku, dan kemudian menghisap darah dan energiku.
"Kiiyaa!!!" Risa tak gentar, ia memposisikan kedua pedangnya di belakang untuk memotong jurus iblis darah itu seperti yang ia lakukan untuk menolongku sebelumnya.
K**RINGG.
"Hah ...." Kedua pedang Risa hancur berkeping-keping seperti kaca yang pecahn sehingga membuat Risa tercengang.
BUKK.
"Akh!" Risa pun tertangkap oleh jurus "penghukuman" iblis darah.
"Sepertinya jarum darahku bekerja dengan baik. Mereka perlahan-lahan membuat goresan di kedua pedangmu, sampai akhirnya goresan-goresan itu membuat pedangmu dapat kuhancurkan dengan mudah," jelas iblis darah.
"Hahahahahah ...!" Iblis darah pun tertawa karena sudah berhasil mengalahkan Risa.
"Si-al," ucap Risa yang mulai lemas.
"Tenang saja. Aku tidak akan langsung menghukum dirimu. Kau akan merasakan kepedihan yang hampir sama dengan apa yang dirasakan oleh 'badut' itu," ucap iblis darah sambil membuat kembali puluhan jarum darah dari tubuhnya.
"Energi ...."
"Kekkekekeke." Iblis darah terkekeh.
"Jiwa ..."
"Nah, sekarang menjeritlah sekuat-kuatnya!" teriak iblis darah sambil mengendalikan jarum-jarumnya untuk menusuk Risa.
WHUSHH.
"Mati kau!!" teriak iblis darah lagi.
"Aku ... tidak boleh ... kalah lagi!" tegas Risa.
TSINGG.
"Sabit jiwa!" Dengan kerennya aku datang dan langsung memotong jurus iblis darah yang menangkap Risa.
"Ray ... kau ...." Risa tercengang, dan kemudian ia tersenyum lega.
"Apa?!" Iblis darah pun tampak terkejut.
"Perisai jiwa!!!" Lalu, dengan tetap di udara, aku mengeluarkan jurus perisaiku untuk menahan semua jarum-jarum iblis darah, untul melindungki diriku dan juga Risa.
"Kau adalah 'badut' terburuk yang pernah ada, manusia sialan," ucap iblis darah.
"Ya. Maaf membuatmu kecewa, iblis sialan!" teriakku.
"Pitcher ...." Aku mengubah perisaiku menjadi sebuah bola kecil seukuran bola kasti dengan jarum-jarum iblis darah berada di dalamnya.
__ADS_1
"Kematian!!!" Lalu aku melempar bola kasti itu ke arah iblis darah layaknya seorang pitcher dalam permainan softball.