
"Jadi, ayo ... bunuh aku!" bentakku.
"Hah ...." Pemimpin iblis di sini pun menatapku dengan tajam.
"Cih. Hahahahahah!!!" Semua iblis di tempat itu langsung menertawaiku.
"Apa-apaan manusia ini?! Apa kau pikir kami tidak bisa membunuhmu, hah?!" tanya salah satu iblis merendahkanku.
"Ray, apa yang kau lakukan?" tanya Risa padaku dengan suara pelan.
"Hem." Aku hanya tersenyum tipis dan terus menatap pemimpin iblis di sini.
"Hoi, Seisu. Kau dengar apa yang dia katakan? Sebenarnya apa yang sudah kau ajarkan pada teri ini?" tanya iblis itu mengejekku.
"Lagi pula, bagaimana bisa kau mengirim teri untuk melawanku?" tanya iblis itu lagi.
"Kau terlalu meremehkanku," sambung iblis itu.
"Kekekek," kekeh iblis itu.
"Yah, terserahlah. Jika kau memang masih meremehkanku. Maka akan aku tunjukkan padamu kehebatanku," ujar iblis itu.
"Baiklah bocah. Kau ingin aku membunuhmu, kan?" tanya iblis itu sambil berjalan pelan ke arahku.
TSING.
Iblis itu mengaktifkan pedang tulangnya pada salah satu tangannya, yaitu tangan kiri.
ZHUTT.
Lalu, iblis itu mengarahkan pedangnya tersebut ke arahku.
"Heh." Iblis itu tersenyum licik.
"Kau pikir aku tidak membunuhmu karena aku takut padamu, yah?" tanya iblis itu.
"Ya. Memangnya iblis sepertimu bisa apa?" tanyaku mengejeknya.
"Cih. Satu-satunya alasan kenapa aku masih membiarkanmu hidup adalah ... karena darahmu ... sangat menarik," ujar iblis itu menatapku dan semakin mendekatkan mata pedangnya hingga menyentuh leherku.
"Kau membentakku seakan-akan kau sedang berkuasa saat ini. Ingatlah perkataanku ini bocah, 'Jika kau ingin mengatakan sesuatu, lihatlah dulu posisimu." Kau mengerti?!" bentak iblis itu.
"Wah, jadi iblis juga bisa menghasilkan kata-kata mutiara, yah. Aku benar-benar tidak menyangka bisa mendengar kalimat itu dari mulutmu," ujarku pelan.
"Haahh." Semua iblis di sana dan juga Risa langsung menatapku.
"Ada yang punya buku? Ehh, catatan juga boleh. Aku mau pinjam, buat mencatat kalimat tadi," pintaku yang sebenarnya mencoba untuk membuat pemimpin iblis terpancing emosi.
"Sialan, kau!" teriak si pemimpin iblis sambil menggerakkan tangan kanannya dengan gerakan seperti akam membelah kepalaku.
PUKK.
"Ehheheh ... aku yakin nyamuk sekalipun tidak akan mati dengan pukulanmu itu," ejekku.
__ADS_1
"Haah ...." Iblis itu tampak semakin kesal.
"Heh. Sakit ... tapi, tinggal sedikit lagi," batinku.
"Kepalaku ini sangat-sangat keras, loh. Kau tidak akan pernah bisa menghancurkannya," ujarku dengan senyum licik.
"Hohh, begitu. Hehh, kalau begitu akan kuhancurkan kepalamu dengan pedangku!" teriak iblis itu sambil mengangkat pedangnya ke atas.
"Yosh. Lakukan!" batinku dengan percaya diri sambil tersenyum.
"Tapi ... aku tidak tahu apa ini akan benar-benar berhasil ...," batinku lagi dengan perasaan cemas sambil mencoba mempertahankan senyumku.
TSINGG.
Iblis itu pun mengayunkan pedang tulangnya ke arah kepalaku.
ZRIITT.
Pedang iblis itu pun mengenai ubun-ubunku. Namun, bukannya terbelah, kepalaku justru hanya terdorong ke bawah terasa seperti tersetrum.
Dari kepalaku, sebuah energi terasa mengalir dari kepalaku. Rasanya, menggelikan. Namun karena itu, energiku sudah terisi kembali seperti semula. Tidak, aku merasakan energi baru, mengalir di dalam tubuhku melebihi kecepatan aliran darah.
"Berhasil," batinku dan aku pun tersenyum lega.
"Konsentrasi ... alirkan energimu secara merata ke seluruh tubuh," batinku dengan memejamkan mata.
SRINGG.
Sebuah ledakan energi keluar dari dalam tubuhku dan memancarkan sinar biru. Ledakan energi itu cukup kuat sehingga membuat semua iblis di sini termasuk iblis yang mencoba membelah kepalaku tadi terhempas, dan tiang besi yang menjebak aku dan Risa pun hancur dan kami berdua berhasil terlepas.
"Hahahahah!" tawaku dengan keras karena kegelian.
"Ray ... hentikan ...," pinta Risa pelan dengan tempo pengucapan yang lambat seperti kesulitan untuk berbicara.
Mungkin energinya juga sudah habis seperti diriku tadi. Ditambah lagi, dia juga terkena dampak ledakan energiku tadi.
"Ahhahahahah!" Aku duduk berlutut dan masih tertawa dengan keras karena tidak bisa menahan rasa geli ini.
Bukannya aku tidak mendengar atau pun tidak menggubris ucapan Risa. Namun aku memang tidak bisa menghentikannya, bahkan aku tidak bisa menggerakkan satu bagian tubuh pun karena tidak mampu menahan rasa geli ini.
"Ray ...." Risa mencoba bergerak dengan mengangkat tangan kanannya ke atas.
"Ahhahahah!" Aku masih terus tertawa, namun kali ini aku mulai merasa cemas.
"Ehh. Kumohon jangan pukul, jangan pukul kepalaku. Kau pikir sudah berapa kali kepalaku dipukul dalam waktu satu hari ini, hah?" tanyaku dalam hati.
Karena menurut pengalaman hidupku, jika seseoarang mengangkat satu tangan ke atas, dengan menatap orang yang berada di hadapannya. Berarti orang itu akan memukul kepala orang di hadapannya seperti akan membelahnya.
"Ray ...." Risa mengayunkan tangan kanannya ke bawah, ke arah kepalaku.
PUK.
Ternyata pengalamanku sudah mengkhianatiku, namun pengkhianatan ini justru membuatku senang. Dan aku baru menyadari bahwa tidak semua pengkhianatan itu membawa kesedihan.
__ADS_1
Ternyata Risa tidak berusaha untuk mencoba memukul kepalaku. Ia justru hanya ingin memegang kepalaku.
"Hentikan," kata Risa pelan.
"Hah." Aliran energi tadi sudah tidak lagi membuatku geli. Alirannya perlahan-lahan semakin lamhat dan akhirnya seimbang dengan alirah darahku.
"Terima kasih, Risa," kataku lirih.
"Energi ini ... berbeda. Sangat-sangat berbeda dari energi jiwa yang biasa aku rasakan," pikirku.
"Mungkinkah ini ...."
"Ray, energimu tadi ... energi air ...," ujar Risa.
"Heh?" Aku pun terkejut sekaligus heran mendengar perkataan Risa tadi.
"Energi ... air?" tanyaku.
"Bagaimana kau bisa mendapatkannya?" tanya Risa.
"Eh? Itu ...."
***
Flashback, ketika aku masih terjebak di dalam pusaran air di dalam mimpiku.
"Gunakan kepalamu!"
"Dasar bodoh, gunakan kepalamu!"
"Ehh ... kenapa? Apa kekuatan keras kepalamu itu sudah hilang?!"
"*Gu*nakan! Gunakan! Gunakan kepalamu!"
Suara-suara yang menjengkelkan dari Dewa Seisu terus-terusan mengisi pikiranku.
"Berisik. Saat ini aku juga sedang menggunakan kepalaku, secara bahasa mungkin harus, 'memakai kepalaku'. Lagi pula jika aku tidak memakai kepalaku, pasti aku sudah mati, dong," pikirku.
"Benar-benar bodoh. Ternyata kepalamu itu hanya keras saja, yah. Tidak ada isinya sama sekali," ejek Dewa Seisu.
"Haah? Appa maksudmu?!" tanyaku dalam hati dengan perasaan kesal.
"Ngajak berantem?" tanyaku lagi.
"Ingatlah!" tegas Dewa Seisu.
Tiba-tiba, aku langsung terbayang kembali saat-saat di mana Dewa Seisu memegang kepalaku dan melempar diriku saat sebelum aku dikejar-kejar oleh prajurit-prajurit pasukan air.
"Hah. Benar juga, saat kepalaku dipegang dengan tangannya, aku merasakan energi yang licin mengalir masuk ke dalam tubuhku," batinku.
"Hahh. Mungkinkah ... saat kau memegang kepalaku itu, kau menyalurkan energimu. Jadi maksudmu 'gunakan kepalamu!' Itu adalah ... aku harus menggunakan energi yang kau salurkan ke dalam tubuhku," pikirku.
"Wahh, tidak kusangka ternyata kau perhatian juga, yah. Dewa pemarah, egois, pecundang, dan tidak mau kalah sepertimu ternyata juga memiliki sisi baik juga, yah."
__ADS_1
"Terima kasih, Seisu."
"Hoi, di mana sopan santumu dalam berterima kasih?!"