
Sebelumnya, aku datang dan memasuki Kerajaan Air dengan meninggalkan Risa di atas jembatan penghubung Kerajaan Air dengan permukaan Bumi. Aku memasuki kerajaan ini sendirian dengan niat untuk membeli pakaian untuk menyamar. Namun sayang, aku lupa bahwa aku tidak memiliki alat tukar atau uang yang berlaku di sini😔.
*****
"Huhh, jadi bagaimana rencanamu sekarang?" tanya Nishide padaku.
"Rencana? Tentu saja tidak ada," batinku menjawab pertanyaan Nishide.
"Untuk sekarang aku hanya ingin merasakan oksigen di kerajaan ini," sambungku.
"Hmm ... hahh." Aku menghela napas dengan pelan.
"Ray, seriuslah!" tegas Nishide.
Tuk tuk tuk tuk tuk tuk.
Aku mendengar langkah kaki yang sangat keras datang dari bawah gedung yang aku tempati.
"Apa itu?" tanyaku dengan bergumam sambil melihat ke bawah. Dan ternyata di bawah sana ada sekumpulan orang dengan memakai pakaian seragam berwarna biru muda. Dan mereka membawa sebuah kotak besar yang muat diisi dengan 2 sampai 3 manusia dewasa.
"Apa? Di mana?" tanya Nishide penasaran.
"Emangnya kau bisa melihat?" tanyaku dalam hati.
"Ya, tentu saja. Meskipun saat ini penglihatanku masih terbatas," jawab Nishide.
"Begitu, yah?" tanyaku lagi untuk memastikan.
"Iya," jawab Nishide dengan nada mulai kesal.
"Lihatlah di bawah sana!" kataku dalam hati.
"Di pasar," sambungku.
"Wahh, ini benar-benar rezeki kita! Ayo cepat turun ke sana!" perintah Nishide.
"Hah? Kenapa?" tanyaku dalam hati lagi.
"Sudah cepat lakukan!" tegas Nishide.
"Hmm ... huhh ... iya-iya." Aku menghela napas untuk terakhir kalinya dari gedung ini sebelum mematuhi perintah Nishide dan berlari turun ke arah pasar di Kerajaan Air.
Setelah menuruni lift yang ada di gedung itu, aku langsung berlari keluar dan menuju ke arah pasar. Karena aku sudah mengamati kerajaan ini dari atas tadi, jadi aku sudah sedikit hafal tentang jalur-jalur yang bisa kulewati untuk sampai ke beberapa tempat, termasuk pasar.
"Hehh ... hehh ... hehh ... sebanarnya ... ada apa?" tanyaku pada Nishide sambil mencoba mengatur napas dan terus berlari.
"Nanti saja penjelasannya. Dan sebaiknya kau atur detak jantungmu ini! Di sini seperti sedang gempa!" ujar Nishide.
"Bodoh! Mana ada manusia yang bisa mengatur detak jantungnya sendiri!" batinku.
"Ya, sudah! Yang penting teruslah berlari ke pasar itu dengan cepat!" tegas Nishide.
"Kau pikir dari tadi apa yang sedang kulakukan, hah?!" batinku kesal.
Setelah beberapa saat aku berlari dan menghabiskan ratusan tarikan napas. Juga telah mengambil jalan pintas yang telah kuhafalkan saat memandangi kota dari atas gedung tadi. Aku rasa jarak ke pasar itu tinggal beberapa meter lagi.
"Cepat!!!" seru Nishide.
__ADS_1
"Hiaa!!!" teriakku dari sebuah lorong sempit yang merupakan jalan pintas terakahir untuk mencapai pasar itu.
Akhirnya, aku melihat sebuah cahaya terang dari ujung lorong itu dan juga terdengar sorak sorai orang-orang di sana.
"Akhirnya, kita sampai!" teriakku keluar dari lorong itu dan sampai di pasar.
"Hahh ...," gumamku terbelalak ketika melihat puluhan lembaran kertas seperti uang melayang-layang di udara.
"Cih. Sekarang aku tahu harus berbuat apa," batinku sambil tersenyum dan terus berlari mengambil ancang-ancang untuk melompat agar dapat mengambil uang-uang itu.
BOOOSSST.
Aku melompat setinggi mungkin untuk mengambil uang-uang itu.
"Ambil semuanya!!!" seru Nishide.
"Kyaa!!!" teriakku sambil mengibaskan tanganku ke segala arah agar dapat mengambil semua uang yang melayang di sana.
"Huhhuy!! Yossha!!" teriak warga Kerajaan Air di pasar itu.
*****
Beberapa saat kemudian, acara bagi-bagi uangnya pun selesai. Orang-orang berseragam biru muda yang membagikan uang tadi pun sudah pergi ke sebuah bangunan besar yang lebih tepat disebut sebagai istana.
"Kau dapat berapa?" tanya Nishide.
"Hanya seratus tiga puluh," jawabku.
"Hanya? Itu sudah sangat banyak! Bergembiralah!" kata Nishide dengan keras dan dengan nada gembira.
"Kenapa?" tanyaku.
"Hanya dengan lima puluh 'pin' saja kau sudah bisa membeli dua jubah yang bisa dipakai untuk menyamar," jelas Nishide.
"Ehh, benarkah?" tanyaku.
"Padahal di tempatku uang seratus rupiah ini ... permen pun tidak dapat," batinku.
"Ini Kerajaan Air, Ray. Bukan tempatmu," kata Nishide.
"Sudah cepat beli apapun yang dibutuhkan untuk menyamar! Setelah itu langsung kembali ke jembatan tadi!" suruh Nishide.
"Iya-iya," jawabku sambil melihat-lihat sekitar untuk penjual pakaian di pasar itu.
"Cepat! Kasihan juga Clarissa nungguin kita!" tegas Nishide.
"Lah, iya!" batinku kesal.
Lalu, aku berjalan-jalan di pasar itu untuk mencari penjual pakaian.
"Tapi, tunggu. Tadi itu apa?" tanyaku dalam hati.
"Maksudmu?" tanya Nishide heran.
"Orang-orang berseragam yang bagi-bagiin duit tadi ...," jawabku.
"Ohh, itu. Yang tadi itu adalah tradisi di Kerajaan Air ini," jawab Nishide.
__ADS_1
"Hem?" gumamku yang masih penasaran.
"Jadi, setiap kali ada prajurit Negeri Air yang baru selesai menuntaskan misi, akan memberi laporan ke istana. Lalu, mereka akan menerima gaji mereka. Nah, sebagian dari gaji itu harus dibagikan kepada rakyat," jelas Nishide.
"Itu adalah tradisi yang sudah menjadi kewajiban di Kerajaan Air," sambugnya.
"Begitu, ya," batinku.
"Tapi, misi mereka itu apa?" tanyaku lagi.
"Tentu saja membasmi para iblis," jawab Nishide.
"Oh," gumamku.
"Hahh ... di sana! Akhirnya!" teriakku sambil menunjuk ke salah satu toko pakaian.
*****
Sesudah aku membeli pakaian penyamaran, yaitu jubah berawarna abu-abu. Aku pun langsung berlari lagi ke arah jembatan tempat Risa menunggu. Beberapa saat kemudian, aku aku akhirnya sampai di bawah jembatan itu.
"Ohh, sial," gumamku sambil menatap ke atas jembatan yang sangat tinggi dan panjang itu.
"Tidak bisakah aku terbang saja menggunakan mode dewaku?" tanyaku dalam hati.
"Jika ada orang yang melihatmu dalam mode dewa. Maka orang itu akan langsung melaporkanmu ke istana dan kau akan langsung ditangkap oleh mereka," ujar Nishide.
"Oooh ayolah ...," gumamku kesal.
"Huhh ... apa boleh buat." Aku pun berlari menaiki jembatan itu untuk menemui Risa yang berada di atas sana. Tepat di depan gerbang perbatasan Bumi dengan Kerajaan Air.
Tuk.
Tuk.
Tuk.
Aku rasa, aku sudah menghabiskan waktu hampir setengah jam untuk mencapai ujung jembatan ini dengan berlari. Lebih parahnya lagi, aku berlari sprint, bukan lari santai😧.
"Lah?! Risa di mana?!" tanyaku keras sambil membalik-balikkan badan untuk mencari Risa.
"Dia tidak ada," kataku.
"Apa yang terjadi?" tanyaku lagi meskipun aku tahu tidak ada orang di sana yang bisa menjawab pertanyaanku ini.
"Mungkinkah dia ...," Nishide tidak meneruskan ucapannya.
"Mungkin apa?" tanyaku pada Nishide.
"Mungkin dia kembali lagi ke permukaan Bumi karena tidak ingin menghadapi Seisu," ujar Nishide.
"Cih. Yang benar saja," gumamku.
Lalu, sekilas aku melihat Istana Dewa Seisu yang begitu megah dari atas jembatan ini.
"Tunggu. Harusnya kita sudah tahu dari tadi apa yang telah terjadi," kataku.
"Ya, kau benar," jawab Nishide yang mengetahui pikiranku.
__ADS_1
"Risa pasti tertangkap dan dia dibawa ke ... istana," kataku sambil terus melihat ke arah Istana Dewa Seisu.