Pewaris Dewa Kematian

Pewaris Dewa Kematian
Kekuatan Risa, Sang Ratu Koi


__ADS_3

Iblis darah sudah berubah, atau bertransformasi menjadi makhluk yang lebih menjijikkan dari sebelumnya. Tubuhnya terlihat seperti hanya tersusun dari gumpalan darah. Meskipun tidak memiliki kaki, tubuhnya saat ini memiliki tinggi sekitar dua setengah meter.


"Ghee. Mati kau!!" Iblis darah mengangkat tangan kanannya ke atas, lalu dia menggerakkan tangannya itu ke bawah untuk menyerangku.


"Keren, tangannnya panjang sekali," pikirku sambil meloncat ke kiri untuk menghindari serangan iblis darah.


"Hiaa!" Aku melesat ke arah iblis darah untuk menyerangnya dengan sabit milikku.


"Lambat!" Iblis darah menebaskan tangan kanannya tadi ke arahku.


"Ekh." Serangannya itu pun berhasil mengenai tubuhku, sehingga membuatku terpental ke samping.


"Ada apa? Kau sudah jauh melemah dari yang tadi!" lantang iblis darah.


"Berisik," balasku.


"Huhh. Sebisa mungkin aku harus menghemat dan mengumpulkan energiku. Dan pada saat yang tepat, aku akan melakukan serangan penghabisan," pikirku.


"Yosh." Aku berdiri dengan kuda-kuda siap bertarung.


Namun setelah itu, aku melihat ke atas sejenak untuk memastikan bahwa Risa sudah pergi.


"Hem. Bagus," batinku.


"Ayo kita mulai, iblis sialan!" teriakku.


"Jangan menantangku!" balas iblis darah.


"Hiaa!!" Aku terbang ke arah iblis darah sambil membawa sabitku.


"Energi darah. Auman makhluk darah!" Tubuh iblis darah menembakkan cairan darah merah yang deras ke arahku.


"Sial." Aku menghentakkan sabitku ke tanah sehingga membuat tubuhku terdorong ke atas, dan berhasil menghindari serangan iblis darah tadi.


"Hiaa!!" teriakku sambil menambah kecepatan terbangku ke arah iblis darah.


"Bodoh!" Iblis darah menembakkan cairan darah tubuhnya ke arahku layaknya semprotan air milik pemadam kebakaran.


"Ahh ...!" Aku pun terdorong ke belakang hingga menghantam puing-puing dari reruntuhan langit-langit.


"Kenapa? Apa kau ingin menghemat energimu?" tanya iblis darah sambil bergerak lambat ke arahku.


"Aduh, duh. Ketahuan," gumamku sambil berdiri.


"Berhentilah bermain-main!" tegas iblis darah.


"Ghaa!! Energi darah, benang kematian!" Dari tubuh iblis darah, muncul benang-benang berwarna merah darah.


"Kematian akan menjemputmu!" lantang iblis darah. Bersamaan dengan itu, benang-benag darah tadi pun bergerak ke arahku.


"Aku tahu, tapi tidak sekarang!" tegasku membalas ucapan iblis darah tadi.


Whushhh.


Aku terbang mengelilingi tempat ini secepat yang aku bisa untuk menghindari benang-benang iblis darah yang aku percaya sangat berbahaya.

__ADS_1


Boom, boom, boom.


"Gawat, benang itu terlalu kuat," pikirku saat melihat benang-benang iblis darah menghantam dan menghancurkan puing-puing reruntuhan hingga dinding dari tempat ini.


"Percuma saja menghindar! Benang-benangku akan terus mengejarmu bahkan hingga mati," ujar iblis darah.


"Dia benar, terus-terusan terbang seperti ini justru hanya akan menghabiskan energi dan juga staminaku," batinku.


"Hiiaa!!" Aku pun terbang ke arah iblis darah dengan rencana agar benang-benang tadi juga mengarah ke iblis darah.


"Begitu, yah. Rencanamu terlalu sederhana," ucap iblis darah.


"Energi darah. Darah penghukuman!" Sebagian darah penyusun tubuh iblis darah bergerak ke arahku.


Darah-darah itu lalu menyemprotku, dan saat bersentuhan dengan tubuhku, darah itu mengeras dari tubuh iblis darah hingga ke tubuhku. Alhasil, darah yang mengeras itu menahan dan membuatku tidak dapat bergerak.


"Ekh. Jurus keren apa lagi ini?" tanyaku.


Boom, boom, boom.


"Akk ...!" Benang-benang darah yang mengejarku tadi menusuk dan akhirnya meledak di dalam tubuhku.


"Ray!!!"


"Ugh, ugh." Tubuhku terasa hancur, aku batuk darah. Dan aku juga mendengar suara Risa yang memanggil namaku.


"Hahahahhaha. Jangan memasang raut wajah seperti itu," ejek iblis darah sambil tersenyum.


"Penghukumannya belum berlangsung," sambung iblis darah.


"Ini." Iblis darah langsung menjawab pertanyaanku dengan instan.


"Agh!!!" Darahku dihisap oleh iblis darah melalui jurusnya yang menahanku tadi.


"Gawat, jurus ini ... juga menghisap energiku," pikirku.


Sringg.


Jubah dan sabitku pun menghilang, mungkin karena aku sudah kekurangan energi untuk mempertahankannya. Alhasil, aku kembali ke bentuk asliku, sebagai manusia biasa.


"Hahahahah! Ternyata aku benar, kau hanya seorang manusia biasa yang entah bagaimana memiliki kemampuan energi jiwa," kata iblis darah.


"Andai kau bisa melihatnya. Wajahmu sangat pucat, dan tubuhmu juga terasa dingin. Inilah bukti bahwa kau hanyalah, manusia yang lemah!" ejek iblis darah.


"Berisik. Aku, ohok ... tidak mendengar itu ... dari makhluk lemah sepertimu!" tegasku.


"Apa?" Raut wajah yang menjengkelkan dari iblis darah mulai sirna dan tergantikan oleh raut wajah marahnya.


"Ya. Itu lebih baik," batinku.


"Aku ... lemah? Siapa yang lemah!?" Iblis darah menambah daya hisap dari jurusnya.


"Ahh!!!" teriakku kesakitan.


"Hen-tikan! Kumohon, sekali ini saja ... tolong aku!" teriakku.

__ADS_1


"Hah? Kau ... memohon padaku? Seandainya kau melakukannya lebih cepat, aku pasti akan mengampunimu," ucap iblis darah.


"Jangan bercanda," gumamku.


"Siapa juga yang memohon padamu, iblis sialan?!" teriakku.


"Hiaa!!!" Risa muncul dari atas dengan memegang dua pedang, satu di tangan kiri, dan satunya lagi di tangan kanan.


TSINGG.


Risa menebaskan kedua pedangnya, dan ia berhasil memotong jurus iblis yang menghisap darah dan juga energiku.


"Apa?!" Iblis darah sangat terkejut dengan kedatangan Risa.


"Uhh."


Bukk.


Aku terjatuh ke tanah dengan kondisi yang sangat tidak keren. Sedangkan Risa mendarat ke tanah dengan sangat anggun, gagah, dan juga sangat keren.


"Hahh. Tch, sudah kuduga ... dia ... adalah ratu," batinku yang melihat Risa tampak sangat keren berada di depanku, dan aku tambah yakin bahwa dia benar-benar seorang ratu, koi.


Risa juga terlihat sangat cantik, walaupun sebenarnya saat ini aku tidak melihat wajahnya. Selain itu, kedua pedang Risa memancarkan sinar berwarna biru muda yang terang.


Whushh.


"Kyaa!!" Risa berlari dengan posisi pedang di tangan kirinya di depan sedangkan yang kanan berada di belakang.


Pedang kirinya berfungsi untuk membelah sisa-sisa dari jurus iblis darah tadi.


"Jangan menggangguku gadis ja*ang!" ucap iblis darah kesal sambil mengibaskan tangan kanannya yang memanjang untuk menyerang Risa.


"Iblis sepertimu tidak berhak berkata seperti itu padaku! Karena aku bukanlah 'itu', aku adalah seorang ratu!" lantang Risa sambil meloncat ke atas, dan dengan itu ia berhasil menghindari serangan iblis darah.


"Kau salah Risa. Harusnya kau bilang, 'Tidak ada satupun orang yang boleu berkata seperti itu padaku!'," batinku.


"Ratu katamu?!" Iblis darah mengibaskan tangan kirinya yang juga panjang dari atas ke bawah untuk menyerang Risa lagi.


"Hap." Risa kembali berhasil menghindari serangan iblis darah dengan meloncat ke atas dan menyelip melalui sela-sela jari tangan kiri iblis darah.


"Ya!" Kemudian Risa berlari ke arah iblis darah dengan memanfaatkan lengan kiri iblis darah sendiri sebagai jalurnya.


"Beraninya makhluk lemah sepertimu menginjak lenganku!" bentak iblis darah kesal, sambil menggerakkan kedua lengannya, mungkin dengan tujuan agar Risa terjatuh.


Namun dengan reaksi yang cepat, Risa sempat melompat ke arah iblis darah dengan kuat.


"Aku mungkin lemah. Tapi aku, masih mampu melindungi seseorang yang mau kulindungi!" lantang Risa.


"Seseorang ... yang mengakui keberadaanku!" Risa memutar-mutar tubuhnya ke arah kanan dengan cepat.


"Hem." Aku tersenyum mendengar ucapan Risa.


"Bacot!" balas iblis darah.


TZINGG.

__ADS_1


Dan akhirnya, Risa berhasil menebas dan memotong tubuh iblis darah menjadi dua bagian yang tidak simetris.


__ADS_2