
"Hiaa!!!" Tiba-tiba Dewa Seisu berteriak dan mengarahkan berbagai jurus air kepadaku dari segala arah.
"Hah?" Aku sangat terkejut ketika melihat jurus Dewa Seisu yang begitu dahsyat.
Awalnya aku berniat untuk mengeluarkan jurus yang sebanding dengan jurus Dewa Seisu itu dengan menggunakan energi yang Nishide berikan padaku sesaat sebelum dia pergi. Namun pada saat aku baru berkonsentrasi, Dewa Seisu berteriak mengeluarkan jurusnya seperti di awal.
ZWUSSSH.
"Aaghh!!" teriakku kesakitan karena terkena jurus serangan dari Dewa Seisu itu.
Jurus ini jauh lebih kuat dan menyakitkan dibanding dengan jurus-jurus yang pernah menganaiku sebelumnya.
SRINGG.
Dewa Seisu semakin menunjukka ekspresi yang mengerikan dan menambah kekuatannya.
"Sebaiknya kau menyerah, atau sekarang akan menjadi saat-saat terakhir bagimu," ujar Dewa Seisu.
Dia juga terus mempertahankan jurusnya yang membuatku terkekang di dalam kumpulan air. Dan dari luar kumpulan air itu juga ada jurus-jurus air lain yang datang menyerangku.
"Aku ... tidak akan menyerah!" tegasku.
"Nishide sudah mengorbankan dirinya agar aku dapat menyelamatkan Clarissa dari dirimu. Karena itu, aku akan bertahan, menang, lalu menyelamatkan Clarissa dari dirimu!" lantangku.
"Apa maksudmu? Aku tidak pernah menculik iblis itu! Untuk apa aku menculik iblis yang kubenci, jika aku bisa membunuhnya?!" tegas Dewa Seisu.
"Eh? Benar ... juga," gumamku mulai kesulitan untuk berbicara.
"Tapi-"
"Matilah kau!!" teriak Dewa Seisu membuat jurus kekangannya menjadi lebih kuat dan membuat serangan lainnya menjadi lebih cepat mengenaiku.
"Aaagh!!!!!" teriakku merasa sangat kesakitan.
BRUKK.
Saat Dewa Seisu menghentikan jurusnya, aku pun terjatuh ke lantai dalam keadaan sudah seperempat sadar.
"Risa bukanlah ... iblis," ucapku sangat pelan karena sudah tidak punya tenaga lagi.
Lalu mataku tertutup dan aku pun pingsan.
*****
Perlahan-lahan aku membuka mataku. Aku masih belum mengerti di mana aku berada sekarang. Yang aku lihat adalah sebuah tempat dengan dinding dan tempat dari tanah.
"Hah?!" Aku terkejut karena menyadari bahwa aku sedang berada di dalam penjara bawah tanah.
"Yah, nggak jadi mati, nih?" tanyaku dalam hati sedikit kecewa.
"Hemh. Ya, aku tahu. Aku tidak boleh mati sebelum berhasil menyelamatkan Risa. Tidak, aku tidak boleh mati sebelum aku berhasil melindungi Bumi dari para iblis dan juga Hozai," gumamku.
__ADS_1
"Tapi, jika aku masih hidup. Itu berarti Dewa Seisu tidak jadi membunuhku, namun dia hanya memasukkanku ke dalam penjara. Heh, Dewa Pemarah itu ternyata masih punya hati yang baik," pikirku.
"Hmm ... huhh." Aku menghela napas dan meletakkan tangan kananku di dada.
Lalu aku memejamkan mata dan berkonsentrasi untuk masuk ke dalam alam bawah sadarku.
SRINGG.
Saat aku membuka mata, apa yang kulihat hanyalah kegelapan yang kosong.
"Huhh, syukurlah aku masih bisa," syukurku.
"Tapi, apa ini benar-benar alam bawah sadarku?" tanyaku pada diri sendiri.
"Nishide! Nishide!" teriakku dengan masih berharap Nishide masih hidup dan membalas teriakanku.
"Huhh ... cih," gumamku kesal karena tidak ada yang membalas teriakanku.
"Tempat ini gelap gulita. Sudah jelas dia sudah tidak ada lagi," pikirku.
Lalu, aku pun keluar dari alam bawah sadarku itu.
"Hhuhh, jadi saat ini aku benar-benar sendirian, yah," pikirku.
"Tapi setidaknya saat ini aku bisa bernapas dengan tenang."
"Agh!" Tiba-tiba kepalaku sakit dan tiba-tiba aku melihat ibuku, Ashley, dan juga Risa dalam pikiranku yang seakan-akan memperingati diriku agar tidak pernah menyerah dan bersantai-santai.
"Cih. Kalian bertiga cerewet sekali, yah. Setidaknya berikan aku waktu bernapas untuk beberapa saat," gumamku sambil memegang kepalaku yang masih terasa agak sakit.
"Baiklah, kalau begitu aku akan bernapas sambil mengamati situasiku untuk melarikan diri dari sini," gumamku seakan-akan berbicara dengan ibuku, Ashley, dan juga Risa.
"Jika kulihat, apapun yang ada di sini adakah tanah. Tidak ada pintu, ventilasi, jendela, bahkan lampu. Tapi entah kenapa di sini cukup terang."
"Itu berarti Dewa Seisu ataupun prajurit-prajuritnya telah memasang semacam jurus di sini. Lagi pula tidak mungkin mereka memasukkan penyusup ke dalam penjara tanpa sistem keamanan yang memadai," pikirku.
"Energi jiwa. Laser jiwa." Aku menembakkan sedikit laser jiwa ke arah dinding penjara itu untuk memastikan kebenaran dari dugaanku.
Dan ternyata benar, laser jiwaku menciptakan ledakan kecil saat menabrak dinding tanah itu. Harusnya, jika dinding itu memang hanya tanah biasa, maka laser jiwaku bisa menembus dinding itu beberapa meter. Namun, karena hal itu tidak terjadi, maka berarti Dewa Seisu atay pun prajurit-prajuritnya telah memasang jurus di dalam penjara ini.
"Hem ... tapi sepertinya tempat ini juga bisa kutembus dengan jurus yang memiliki dampak besar. Tapi aku juga tidak boleh membuang-buang energiku hanya untuk keluar dari sini," pikirku.
"Harusnya di sini ada satu titik yang ketahanan jurusnya paling lemah dari yang lain. Tapi di mana? Diatas, tidak mungkin. Mereka pasti sudah menduga bahwa aku akan kabur ke atas," pikirku lagi.
"Berarti di bawah." Aku tersenyum karena berhasil mendapatkan ide untuk kabur dari penjara ini.
"Laser jiwa."
Aku kembali menembakkan laser jiwa. Kali ini aku menembakkannya ke arah bawah dan dalam intensitas yang tinggi.
Meskipun tidak semudah yang kupikirkan, namun akhirnya aku berhasil membuat sebuah lubang pada tanah itu. Lalu, sambil terus menembakkan laseri jiwa, aku pun memasuki lubang yang sudah seperti sumur itu, untuk kabur dari sana.
__ADS_1
Saat memasuki lubang itu, aku kira semuanya sudah dalam kendaliku. Namun ternyata, beberapa tanah sangat sulit untuk kuhancurkan.
Bahkan, aku juga sempat kembali lagi ke tempat yang sudah pernah kulalui. Jadi, aku serasa sedang bermain puzzle untuk mencari tanah yang mudah dihancurkan dan membuat jalan keluar.
"Sedikit lagi! Aku akan keluar dari sini!" lantangku sambil melesat ke atas dan terus menembakkan laser dari mataku.
BRUSSSHHTT.
"Yosha!!" Akhirnya aku berhasil keluar dari dalam tanah dan terus melesat beberapa meter di atas permukaan tanah.
Saat aku keluar, aku langsung melihat langit yang gelap di Kerajaan Air. Mungkin sekarang sudah malam, meskipun saat aku melihat langit itu tidak ada satu pun bintang ataupun bulan. Namun yang tampak adalah seperti air yang bergelombang dan terus bergerak dan terlihat seperti aurora.
"Ke-ren," ucapku saat berada di udara.
"Huh ... huhh ... huhh." Aku membuang napas berat dengan posisi membungkuk saat sudah mendarat karena merasa lelah.
Lalu aku mengangkat kepalaku dan melihat di depanku berdiri sebuah gerbang besar yang merupakan gerbang Istana Laut.
"Hah? Aku keluar tepat di depan istana?" tanyaku merasa heran karena kebetulan ini.
"Baiklah, lagi pula tujuanku memang ingin masuk ke dalam lagi dan melawan Dewa Seisu lagi," kataku sambil berjalan.
Namun baru beberapa langkah aku berjalan, terdengar suara Dewa Seisu dari belakangku.
"Jika kau memang ingin melawanku lagi, maka menghadaplah ke belakang!" tegas Dewa Seisu.
"Hah?" Aku terkejut dan langsung menghadap ke belakang.
Dan aku pun melihat Dewa Seisu sedang berdiri dengan gagah sambil memegang trisula emasnya.
"Heh." Aku tersenyum kaku karena merasa agak takut ketika berhadapan dengannya.
"Kenapa kau benar-benar ingin melawanku?" tanya Dewa Seisu.
"Huhh, syukurlah dia tidak langsung menyerangku," batinku.
"Sudah jelas karena aku ingin menyelamatkan Clarissa yang kau culik!" tegasku.
"Kenapa kau menuduhku menculik iblis itu?" tanya Dewa Seisu lagi.
"Tentu saja karena aku tahu kau sangat membencinya, dan kau ingin membunuhnya!" tegasku lagi.
"Lalu untuk apa aku menculik dirinya jika aku bisa langsung membunuhnya?" tanya Dewa Seisu yang membuatku tertegun.
"Benar juga, ya. Kalau tidak salah, saat kami bertarung, dia juga beralasan seperti itu. Dan itu bukanlah alasan yang buruk," pikirku.
"Lalu, siapa?" tanyaku pada Dewa Seisu.
"Aku tidak tahu. Satu-satunya yang kupikirkan saat bertemu iblis itu adalah aku ingin membunuhnya," kata Dewa Seisu.
"Hah?" Aku sangat terkejut saat mendengar perkataan Dewa Seisu.
__ADS_1
"Jadi Risa, telah kau bunuh?" tanyaku kaku.
"Cih."