
Aku dan Risa pun masuk ke dalam ruang bk. Atau bisa juga disebut sebagai istana guru bk yang bernama ibu Isabella.
"Kreek." Suara pintu terbuka yang agak berkarat membuat suasana hatiku semakin tegang.
"Permisi, Buk," ucapku dan Risa dengan sopan.
Ketika masuk ke dalam, aura gelap yang mengerikan sudah amat terasa. Hal itu membuat aku dan Risa tak bisa berkata apalagi bergerak. Terlihat di sana, Bu Isabella sedang duduk di kursinya dengan tangan di atas meja sambil menggerak-gerakkan jari telunjuk dari atas ke bawah.
"Tunggu apa lagi kalian?! Cepat ke sini!" suruh Bu Isabella dengan tegas tanpa melirik ke arah kami sedikitpun.
"I-iya, Buk." Aku dan Risa berjalan ke arah guru bk itu.
"Glek." Aku pun menelan ludah karena merasa terlalu cemas.
Lalu, aku dan Risa duduk di kursi yang berhadapan dengan Bu Isabella.
"Lah?! Siapa yang suruh kalian duduk?!" tanya Bu Isabella marah.
"Ek. Glek." Aku dan Risa hanya bisa menelan ludah mendengar ucapan Bu Isabella.
"Maaf, Buk." Kami berdua pun kembali berdiri.
"Duduk," kata Bu Isabella pelan menyuruh kami duduk lagi.
"Ehh??!!" teriakku heran dengan sikap Bu Isabella.
"Kenapa?" tanya Bu Isabella sambil menatapku dengan tajam.
"T-tidak ada, Buk." Aku dan Risa pun kembali duduk di kursi tadi.
Setelah kami berdua duduk, Bu Isabella menatap kami dengan tajam. Sehingga membuat kacamata yang ia pakai seperti bersinar.
"Siswa tercerdas dan siswi paling rajin seantero sekolah. Kenapa kalian kemarin bolos sekolah?" tanya Bu Isabella pelan sambil sedikit menaikkan kacamatanya.
"Duhh, mau jawab apa, nih?" pikirku.
1
2
3
"Cepat jawab!" bentak Bu Isabella sambil memukul meja.
"Mia sakit, Buk!" jawabku lantang tak sengaja sambil menunduk. Karena ucapanku yang lantang, Bu Isabella dan Risa pun melihat ke arahku.
"Eh?" gumamku pelan karena terkejut aku mengatakan alasan itu.
"Mia saha?" tanya Bu Isabella dengan nada yang kembali pelan.
"Adik saya, Buk," jawabku sopan.
"Jadi adik kamu sakit?" tanya Bu Isabella sambil mendekatkan wajahnya ke arahku.
"Iya, Buk. Dan saya harus segera ke sana untuk menemani dia. Siapa tahu itu bisa jadi saat-saat terakhir saya bertemu dengannya," ucapku ceplas-ceplos.
Setelah aku mengucapkan itu, Risa terus memandangiku dengan menaikkan salah satu alisnya. Tapi aku juga tidak tahu apa maksud ekspresinya itu.
__ADS_1
"Mia, maafkan mulut kakak yang jahat ini, yah," batinku.
"Hahahah!!" Nishide tertawa kegirangan mendengar suara hatiku.
"Berisik!" batinku kesal pada Nishide.
"Tapi kenapa kamu tidak izin?!" tanya Bu Isabella dengan nada yang kembali meninggi.
"Kalo izin tuh, kan ... prosesnya lama, Buk. Ntar adik saya ... keburu-" ujarku berusaha berbohong.
"Hadehh ...," gumam Bu Isabella sambil menghela napas memotong penjelasanku.
"Huhh. Untung aku belum sempat mengucapkan kelanjutannya," batinku sambil membuang napas.
"Kamu?! Kenapa kamu bolos?! Padahal selama ini kamu itu yang paling rajin. Udah merasa jadi yang paling hebat?!" tanya Bu Isabella dengan nada ucapan seperti sedang mencaci Risa secara bertubi-tubi.
Mendengar pertanyaan Bu Isabella yang seperti itu, Risa pun tertegun. Dan dia menaikkan kedua alisnya.
"Yes. Akhirnya bagianku selesai," batinku kegirangan seperti baru keluar dari penjara bawah tanah.
"Huhh." Risa menghela napas.
Mungkin dia sedang berpikir untuk mencari alasan yang logis. Namun, selogis apapun alasannya, hal itu tidak akan membuat kami berdua lolos dari hukuman.
"Cepat jawab! Kok, dari tadi kamu cuma diam aja, sih?!" bentak Bu Isabella.
"Jadi gini, Buk." Risa mulai menjelaskan alasannya yang aku yakin adalah suatu kebohongan.
"Kan kemarin Mia alias adiknya Ray itu sakit. Nah waktu si Ray datang ke rumah sakit ternyata si Mia nggak mau ketemu sama kakaknya-" ujar Mia.
"Kenapa?" tanya Bu Isabella padaku sinis.
"Nggak apa-apa, Buk. Saya cuma terkejut Ratu Koi, maksud saya Risa bisa mengetahui hal itu," jelasku berbohong.
"Hemm." Bu Isabella masih menatapku.
"Lanjutkan," suruh Bu Isabella dengan suara pelan pada Risa.
"Baik Buk, saya lanjutkan," jawab Risa.
"Kan si Mia tadi nggak mau ketemu sama Ray. Nah dia maunya ketemu sama saya, Buk. Karena kata Mia dia lebih suka sama saya dibanding kakaknya sendiri," ujar Risa.
"Ehh?!!!" aku kembali bereaksi mendengar ucapan Risa.
"Hahahah. Ternyata adikmu tidak menyayangi kakaknya sendiri," kata Nishide sambil tertawa terbahak-bahak.
"Berisik!" batinku kesal pada Nishide.
"Heheh," kekeh Bu Isabella.
"Hahahahahah!" Bu Isabella tertawa terbahak-bahak persis seperti penyihir jahat di film-film.
"Kalau mau bohong itu kerja sama dulu. Hahahah!" ujar Bu Isabella sambil tertawa.
"Maksud Ibu?" tanya Risa pelan.
"Aku sudah tahu kalau kalian berbohong!" tegas Bu Isabella.
__ADS_1
"Kalian berdua ... dihukum skors lima hari!" tegasnya lagi.
"Lah, cuma diskors. Yahhuy," batinku kegirangan.
"Lah, kenapa kau senang?" tanya Nishide heran.
"Yah, karena waktuku untuk bernapas jadi semakin bertambah," jawabku. Aku pun senyum-senyum sendiri saat itu.
"Duhh. Selama sekolah kau juga bernapas otak karbon!" ujar Nishide kesal padaku.
"Yah, sudahlah. Dengan diskors aku juga memiliki waktu luang untuk menyelesaikan misi tanpa khawatir dengan sekolah," kataku.
"Benar juga, yah. Baiklah, hidup skors!" seru Nishide.
"Oi, kenapa kau tersenyum?" tanya Bu Isabella menatapku dengan sinis. Risa pun ikut menatapku.
"Nggak apa-apa kok, Buk," kataku.
"Hukuman skors ini saya berikan agar kalian bisa merenungi kesalahan kalian dan apa yang harus kalian lakukan! Bukan agar kalian bisa bersenang-senang!" tegas Bu Isabella.
"Cepat keluar dari ruangan saya. Lima hari kemudian, pastikan kalian menemui saya terlebih dulu sebelum masuk ke kelas!" sambung Bu Isabella.
"Iya, Buk," kataku dan Risa sambil berdiri.
Lalu, kami berdua pun keluar dari ruangan itu.
"Hmm haahhh." Aku dan Risa menghela napas.
Sepertinya oksigen yang berada di bk dengan oksigen yang ada di luarnya itu berbeda. Oksigen di luar ruangan itu terasa lebih segar.
"Akhirnya ...," ucapku sambil meregangkan tubuh.
Sementara itu, Risa sudah berjalan ke kelas dengan meninggalkanku. Ternyata semua kelas sudah masuk saat itu. Aku pun berlari ke kelas.
"Permisi, Pak," ucapku dan Risa sopan pada Pak Guru di kelas kami sambil mengetuk pintu.
Bapak itu melihat ke arah kami dengan sinis. Dia sepertinya sudah tahu kami dari mana dan mau apa masuk ke kelas itu. Dia hanya mengacungkan tangan kanannya ke arah meja murid sebagai simbol memperbolehkan kami masuk.
Dengan cepat, aku dan Risa mengambil tas dan langsung pergi keluar kelas. Saat kami berdua berada dalam kelas, semua murid laki-laki di sana menatapku dengan tajam. Dan entah kenapa tidak ada yang menatap Risa. Tapi yah, dengan jurus super cuek aku tidak terlalu mempedulikan mereka.
Setelah keluar dari kelas, kami berdua segera berjalan untuk keluar dari sekolah.
"Yes! Perang yang menakutkan melawan Bu Isabella berakhir juga. Dan sekarang, aku bisa bebas bernapas saat tidak ada misi!" kataku kegirangan.
"Duh kenapa kau malah kegirangan?!" tanya Risa kesal.
"Ini semua karena dirimu!" sambungnya marah padaku.
"Lah, kenapa salahku?!" tanyaku yang ikut kesal.
"Kenapa kau harus bereaksi saat aku mengatakan hal tentang adikmu tadi?!" marah Risa.
"Lah, kenapa kau harus menyebutkan adikku sebagai bagian dari kebohonganmu?!" balasku.
"Gheee." Risa menatapku dengan penuh emosi.
"Huhh." Aku pun hanya membuang napas berat.
__ADS_1