Pewaris Dewa Kematian

Pewaris Dewa Kematian
Sarang Iblis, Ambruk


__ADS_3

BAMM.


Iblis darah menumbur dan tersangkut di langit-langit tempat ini. Atau yang bisa aku sebut dengan langit-langit "Sarang Iblis".


"Hehehe. Ini belum berakhir!" teriakku.


"Energi jiwa, laser jiwa!" Aku menembakkan laserku untuk menyerang iblis darah dengan memanfaatkan kondisi iblis darah yang kepalanya sedang tersangkut di langit-langit.


"Akk! Panas! Pan*atku!" teriak iblis darah kesakitan.


Aku terus menyerang iblis darah dengan laserku. Namun iblis darah terus beregenerasi dengan sisa energi darah yang masih ia miliki.


"Begitu, yah. Kau masih bertahan karena kau masih punya energi darah. Tapi, jika terus seperti ini ... lama-lama energi itu pasti juga akan habis," pikirku.


"Sialan kau!" Iblis darah mengeluarkan suara marah dan kali ini dia hanya memfokuskan energi darahnya untuk disalurkan ke pedangnya. Sepertinya, dia ingin menancapkan kedua pedangnya di langit-langit tempat ini.


"Tidak akan aku biarkan," kataku dengan memegang sabit di posisi kananku, bersiap untuk mengeluarkan jurus tebasan.


Meskipun sebenarnya aku sendiri tidak tahu apa yang ingin dilakukan iblis darah. Tapi karena dia iblis, aku yakim dia pasti mempunyai rencana licik dan pastinya akan sangat berbahaya.


"Energi jiwa. Tebasan jiwa!" Aku mengeluarkan jurus sinar tebasanku untuk memotong kedua tangan iblis darah yang ada pedangnya itu.


"Ghaa!" Di saat yang sama, iblis darah berteriak layaknya monster, yah dia memang bisa disebut monster.


Krakk.


Tsingg.


Jurus sinar tebasanku berhasil mengenai dan memotong lengan iblis darah. Namun sayang, sepertinya aku masih terlambat. Iblis darah sudah lebih dulu menancapkan kedua pedangnya di langit-langit, tepat sebelum jurusku berhasil memotong tangannya.


Dengan hal itu, aku merasa bahwa dugaanku tadi adalah benar. Tapi aku tidak merasa senang dengan hal itu.


"Hiaa!" Aku berteriak kencang dan terbang ke atas, ke arah iblis darah.


Entah apa yang sebenarnya direncanakan oleh iblis darah, tapi apapun itu aku yakin bahwa hal yang merepotkan akan terjadi.


"Wihh, perasaanku tidak enak," batinku.


Aku terus melihat ke arah iblis darah dan terbang ke arahnya. Dan pada saat itu juga aku baru sadar bahwa pedang iblis darah yang tadinya berwarna merah karena disalurkan energi darah, sekarang sudah berubah warna menjadi warna putih layaknya tulan kembali.


"Heheh. Aku masih belum kalah," ucap iblis darah.


"Aku ... tidak ... peduli!" teriakku bersiap untuk menusuk iblis darah secara langsung dengan sabitku.


Krekk!


Suara retakan yang sangat keras terdengar dari langit-langit. Dan ternyata, langit-langit itu memang retak dengan cepat dan sepertinya akan runtuh ke bawah.


"Tidak mungkin," gumamku terkejut.


BROKK.


Langit-langit itu runtuh tepat di depan mataku.


"Energi jiwa, perisai jiwa!" Dengan cepat pula, aku mengeluarkan jurus perisaiku agar tidak ada pecahan langit-langit yang menimpaku dan membuatku jatuh ke bawah.


"Sial. Tapi ... aku rasa ini tidak terlalu buruk," pikirku.


"Aku dapat 'mencium' bau-bau oksigen yang segar," pikirku lagi.


Lalu, aku melihat setitik cahaya, yang semakin lama semakin besar dan terang. Dan ternyata, langit-langit yang runtuh itu membuat sebuah lubang yang sangat besar, dan dapat aku gunakan untuk keluar dari tempat ini.


"Yes!" Aku sangat senang karena akhirnya aku bisa keluar dari tempat ini.

__ADS_1


"R-R-Ray!!" Tiba-tiba, aku mendengar suara Risa yang memanggilku dengan keras.


"Wanjir! Maaf, lupa." Aku baru ingat bahwa Risa masih berada di bawah dan melawan pasukan iblis.


Shutt.


Aku pun langsung melesat ke bawah untuk menyelamatkan Risa dari langit-langit yang jatuh ke bawah.


"Energi jiwa, laser jiwa!" Aku menembakkan laser untuk menghancurkan batu-batu penyusun langit-langit yang berjatuhan, dengan tujuan untuk membuat jalanku jadi tidak terhalang.


Namun juga dengan taruhan bahwa Risa tidak terkena efek jurus laserku.


Sring.


"Hah." Aku terkejut melihat Risa yang terduduk berlutut.


Sepertinya dia sangat kelelahan dan juga mengalami luka-luka, meskipun dari yang kulihat lukanya tidak terlalu serius. Yah, untuk orang yang tidak bisa mengeluarkan jurus apapun, harus aku akui dia sangat kuat.


Plek.


Saat aku mencapai dasar, atau permukaan dari tempat ini, aku langsung menggendong Risa dan membawanya terbang ke atas bersamaku. Bersamaan dengan itu, semua puing-puing dari langit-langit yang runtuh tadi pun juga sudah mencapai dasar menimpa pasukan iblis yang masih berada di bawah.


"Ekh." Risa mengeluarkan suara seperti merasa sakit.


"Ehh, lukamu sangat banyak," kataku.


"Ya, aku tahu. Tapi kau tidak usah khawatir, luka ini tidak terlalu serius," ucap Risa.


"Ya, kau memang tidak perlu aku khawatirkan," balasku.


"Tapi ... kenapa wajahmu sangat merah?" tanyaku.


"Diam. Jangan melihatku," ucap Risa pelan sambil mendorong kepalaku.


"Sekarang, kami bisa kembali ke Kerajaan Air. Hem, tidak kusangka ternyata rencana yang dilakukan oleh iblis itu bisa sebodoh ini," pikirku.


BROOST.


"Ghaa!!"


"Apa?!"


Beberapa iblis berhasil keluar dari puing-puing langit-langit yang menimpa mereka tadi. Saat keluar mereka terbang, melompat, dan melesat ke arahku dengan cepat. Dan hal itu membuatku sangat terkejut.


Dengan cepat, salah satu iblis berhasil mendekatiku dan memegang kakiku.


"Celaka," gumamku.


Dan tak lama kemudian, iblis-iblis lainnya pun berhasil memegang tubuhku dan membuatku kesulitan untuk terbang.


"Risa, pergilah!" Aku menghempaskan tubuh Risa ke atas agar dia dapat meloloskan diri dari tempat ini.


"Ray!!" teriak Risa.


"Nggak usah lebay! Kau hanya akan menjadi beban!" tegasku.


Pada saat yang bersamaan, tubuhku tertarik dan jatuh ke bawah bersama dengan iblis-iblis yang memegang tubuhku.


"Sialan kau!" balas Risa kesal saat ia sudah mencapai permukaan di atas.


"Heheh. Maaf, sebenarnya aku butuh bantuan di sini. Tapi kau yang sekarang hanya membuatku ingin melindungimu," batinku.


BAMM.

__ADS_1


Aku pun jatuh ke dasar "Sarang Iblis" ini lagi bersama dengan iblis-iblis yang memegangiku tadi.


"Ouch. Jadi ... bagaimana caranya agar kalian bisa mati, hah?" tanyaku sambil mencoba berdiri.


"Heh. Aku rasa tidak ada caranya. Bagimu."


Tiba-tiba iblis darah menjawab pertanyaanku, dan sepertinya dia baru saja keluar dari bebatuan langit-langit yang menimpanya.


Dan menurut penglihatanku, kondisinya saat ini sangat lemah. Jadi ini adalah kesempatanku untuk membunuhnya. Meskipun sebenarnya kondisiku tidak jauh berbeda dengan kondisinya saat ini.


"Cih. Masih hidup, yah." Aku mengubah kuda-kuda untuk siap bertarung.


Whushh.


Aku melesat ke arah iblis darah itu untuk memanfaatkan kondisinya yang terluka agar aku dapat membunuhnya dengan cepat.


"Ghaa!" Namun usahaku dihalangi oleh pasukan iblis yang mencoba melindungi pemimpin mereka, yaitu iblis darah.


"Siaal! Energi jiwa, tiga enam puluh!" Aku berputar di tempat dan menebaskan sabitku untuk menyerang pasukan iblis tadi.


Aku berhasil, mereka semua terhempas. Namun belum terbunuh. Iblis-iblis tadi langsung berdiri dan bersiap menyerangku lagi.


Namun tiba-tiba iblis darah berteriak, "Hentikan!"


"Cepat ke sini," suruh iblis darah lemas.


Iblis-iblis bawahan dari iblis darah pun menuruti perintahnya. Mereka dengan cepat berlari ke arah iblis darah.


"Cih. Ekh." Aku mencoba untuk segera menyerang iblis-iblis itu termasuk iblis darah.


Namun kondisiku saat ini tidak mendukungku. Energiku tinggal sedikit, dan tubuhku juga terluka saat terjatuh tadi.


"Heh." Iblis darah tersenyum licik.


Tsukk.


Iblis darah mengeluarkan kedua pedangnya dan menebas semua anak buahnya.


"Apa?" Aku sangat terkejut melihat iblis darah yang tega membunuh bawahannya sendiri.


"Heheheh. Selamat, mulai sekarang kalian adalah bagian dari diriku!"


Darah dari iblis-iblis yang mati ditebas oleh iblis darah tadi tertarik ke arah iblis darah. Iblis darah menyerap semua darah itu danhal itu pun membuatnya menjadi jauh lebih kuat dari yang sebelumnya.


Tubuh iblis darah menjadi dua kali lebih besar. Namun seluruh tubuhnya itu tampak hanya terdiri dari gumpalan darah, tanpa tulang atau pun yang lainnya. Bentuknya jauh lebih menyeramkan dari sebelumnya.


"Hahhah! Hahahahah!!"


"Sekarang, aku adalah makhluk terkuat di seluruh lautan!"


"Bahkan Seisu dan Leviathan pun tidak akan mampu mengalahkanku!" lantang iblis darah.


"Ehh, benarkah?" tanyaku sambil mencoba untuk berdiri.


"Diam kau, kecebong hanyut!" jawab iblis darah kesal.


"Hehh, jadi pangkatku sekarang naik apa turun?" tanyaku lagi.


"Seisu dan Levi titan atau apalah itu mungkin memang tidak mengalahkanmu. Tapi aku ... pasti bisa mengalahkanmu! Mungkin," batinku.


*****


**Hehehe. Buat pembaca cerita ini, maaf yah up-nya lama. Karena akhir-akhir ini Author sibuk marathon tugas😭. Apalagi tanggal 30 nanti udah mau UAS.

__ADS_1


Jadi, sabar aja yah nunggu up-nya. Dan Author harap pembaca cerita ini tetap setia menunggu😉. Ada nggak, yah**?


__ADS_2