Pewaris Dewa Kematian

Pewaris Dewa Kematian
Dendam Risa?


__ADS_3

"Putri Dewa Laut ...," gumamku tak percaya.


"Jadi dia Risa bukanlah iblis?" tanyaku pada Nishide, karena masih tidak percaya.


"Ya, tentu saja," jawab Nishide.


"Tapi, kenapa dia menyerangku?" tanyaku lagi.


"Tentang itu ... lebih baik kau tanyakan sendiri padanya nanti," lirih Nishide.


"Yah masalahnya aku tidak mau bicara dengan Ratu Koi ini," ujarku.


"Saat diam saja aku masih kena masalah dengannya, apalagi saat aku berbicara," batinku.


"Oh iya. Kapan dia akan sadar?" tanyaku pada Nishide.


"Aku tidak tahu. Aku juga baru tahu bahwa anak dari seorang dewa bisa pingsan hanya karena serangan kecil seperti tadi," ujar Nishide.


"Eh, kau bilang itu serangan kecil?" tanyaku. Karena menurutku serangan tadi sudah cukup kuat.


"Sebaiknya kau segera menyembuhkan dirinya dengan energi jiwa yang baru kau dapatkan setelah menuntaskan misi tadi," suruh Nishide.


"Memangnya bisa?" tanyaku.


"Caranya?" tanyaku lagi.


"Sentuh kepalanya, dan konsentrasilah untuk menyalurkan energimu melalui otaknya," jelas Nishide.


"Kenapa semua hal harus butuh konsentrasi?" keluhku.


"Sudah cepat lakukan! Jangan banyak mengeluh!" tegas Nishide yang mulai kesal.


"Iya-iya." Aku meletakkan tangan kananku ke keningnya Risa.


Lalu aku berkonsentrasi untuk menyalurkan energi jiwaku kepadanya. Tidak butuh waktu yang lama, Risa pun akhirnya membuka mata dan tersadar kembali.


"Ahh." Risa memegang kepalanya. Mungkin masih terasa sakit karena seranganku tadi, atau mungkin juga karena penyaluran energi yang mendadak tadi membuat kepalanya sakit.


"Hah?!" Risa terkejut ketika dia melihatku berada di sampingnya.


Risa langsung mengambil pedangnya yang tadi kutaruh di sebelah tubuhnya. Lalu, Risa langsung menghunuskan pedangnya ke arahku.


Namun, karena aku sudah beroikir dia akan melakukan hal itu. Jadi ketika dia membalikkan pandangannya saat mengambil pedang aku langsung mengarahkan ujung dari sabitku tepat di atas kepalanya. Jadi saat ia berbalik, dia langsung melihat ujung sabit ku yang tajam sedang berada tepat di atas keningnya.


"Kau ...," gumamnya kesal.


"Hoi, Nishide! Cepatlah bicara padanya!" suruhku pada Nishide.


"Ya mana bisa. Yang bisa mendengar ucapanku hanyalah dirimu saja," ujar Nishide.


"Huhh ... taruh kembali pedangmu," ucapku lirih sambil menghela napas.


"Cih," cibir Risa sambil terus menatap mataku.


Namun untungnya dia menuruti perintahku tadi. Setelah itu, aku pun juga menjauhkan kembali sabitku dari kepalanya.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Risa yang masih menunjukkan raut muka marah.

__ADS_1


"Harusnya aku yang menanyakan itu padamu! Kenapa kau menyerangku?!" tanyaku yang juga kesal.


"Kenapa kau masih hidup?!" tanya Risa lagi.


"Ya terserah aku, lah! Mau hidup mau mati itu urusanku!" jawabku yang kesal karena pertanyaanku tidak diacuhkan olehnya.


"Kau!!" Risa yang marah langsung mengambil kedua pedangnya dan mengarahkannya padaku lagi.


Aku yang juga merasa marah pun melakukan hal yang sama seperti yang Risa lakukan. Alhasil, kedua pedang Risa tadi beradu dengan sabitku. Kami pun saling mendorong senjata kami masing-masing untuk saling menjatihkan.


"Ray, mungkin dia tidak tahu bahwa kau adalah pewaris. Mungkin dia berpikir bahwa kau adalah Dewa Kematian sejak dulu," kata Nishide.


"Huhh. Risa, tenangkan dirimu terlebih dulu. Kumohon, mungkin kita bisa membicarakannya baik-baik," ujarku lirih.


"Hah." Aku melihat Risa tertegun dan mulutnya sedikit terbuka.


"Cih." Risa menundukkan kepalanya dan memasang ekspresi marah kembali.


"Setelah apa yang kau lakukan pada ibuku dan aku, kau pikir aku masih bisa membicarakannya baik-baik?!" Risa jadi benar-benar marah dan dia menambah kekuatan dorongannya.


"Ah." Aku terkejut karena merasakan aura kemarahan dan kesedihan yang besar keluar dari tubuh Risa.


Karena kekuatan fisiknya bertambah, Risa pun berhasil membuatku terdorong ke belakang beberapa meter.


"Hoi Nishide! Apa maksud perkataannya?! Apa yang telah kau lakukan pada ibunya dan juga dirinya?!" batinku, yang merasa kesal pada Risa dan juga Nishide.


"Mungkinkah kau ...-" Saat itu aku berpikir yang tidak-tidak.


"Oi! Jangan berpikir yang tidak-tidak! Mana mungkin aku berbuat seperti itu!" tegas Nishide yang mengetahui apa yang sedang kupikirkan.


"Lebih tepatnya tidak bisa," sambung Nishide. Dari nada bicaranya, sepertinya kali ini dia jadi murung.


"Kenapa kau terkekeh?! Jangan meremehkanku!" teriak Risa sambil berlari ke arahku dengan membawa kedua pedangnya.


"Putri Dewa ini tidak punya jurus, yah," pikirku.


Dengan cepat, aku langsung terbang ke arah Risa untuk menyerangnya. Namun, Nishide langsung berkata padaku agar tidak menyakiti Risa.


"Ray, jangan menyerangnya lagi. Letakkan satu jarimu di kepalanya, lalu berkonsentrasilah untuk masuk ke alam bawah sadarmu dengan membawa si Risa itu juga," lirih Nishide.


"Tuh, kan kau sangat khawatir padanya," ucapku mengejek Nishide.


"Lakukan saja!" teriak Nishide kesal.


"Ya." Aku lalu menjalankan perintah dari Nishide.


Aku terbang ke lebih tinggi dari Risa dan degan cepat aku langsung menyentuh kening Risa dengan satu jariku. Lalu, aku berkonsentrasi untuk membawa Risa masuk ke alam bawah sadarku dengan bantuan Nishide.


"Eh?!" Risa terkejut.


"Hehe," kekehku.


Beberapa saat kemudian, kami berdua pun berhasil masuk ke alam bawah sadarku.


"Ahh." Risa yang terduduk memegang kepalanya.


Mungkin kepalanya terasa pusing karena tiba-tiba masuk ke dalam alam bawah sadar orang lain.

__ADS_1


"Sini," ucapku agak kasar sambil mengulurkan tanganku untuk membantunya.


"Kau!" Risa berdiri sendiri dan mencoba untuk menyerangku lagi.


"Clarissa Endora!" teriak Nishide menyebut nama Risa.


"Hah?!" Risa pun terkejut.


"Huhh, Dewa Kematian Nishide ingin berbicara denganmu," ucapku.


"Maksudmu ... kau bukan si Nishide," tebak Risa.


"Hadehh, ya iyalah. Ikuti aku!" kataku yang tidak ingin terlalu meladeni Risa.


TSINGGG.


Secara serempak, kami berdua saling menghunuskan senjata kami. Salah satu pedang Risa tepat berada di sambil leherku, sedangkan sabitku juga berada tepat di samping leher Risa.


"Ikuti aku, jangan melawan. Jika kau membunuhku maka Nishide juga akan ikut mati. Dan kau tidak akan tahu apa yang ingin dia katakan padamu," ucapku sambil menatap mata Risa dengan serius.


"Cih." Risa lalu menarik pedangnya kembali.


Melihat Risa mematuhi perintahku, aku oun tersenyum. Lalu, aku dan Risa pun berjalan ke arah bola sinar Nishide yang sudah sedikit lebih besar lagi. Lalu saat kami berdua tepat berada di depan Nishide, Risa terus menatap Nishide yang dalam bentuk cahaya dengan heran.


"Bola cahaya ini ... Nishide?" tanya Risa yang tak percaya sambil menatapku.


"Ya. Aku adalah Nishide, dan Ray adalah pewarisku," kata Nishide menjelaskan pada Risa.


"Kau pasti sudah tahu tentang berita kematianku, yah," tebak Nishide.


"Y-ya, beritanya sudah diketahui seluruh dewa," ujar Risa.


"Tunggu! Harusnya aku yang berbicara di sini!" bentak Risa.


"Perasaan aku tidak pernah bilang bahwa kau yang akan bicara," kataku sambil duduk bersila, bersiap untuk mendengar cerita.


"Cih." Risa pun mengitukitku dengan turut duduk bersila.


"Clarissa Endora, aku tahu kau masih menyimpan dendam besar kepadaku. Kau boleh terus menyimpan dendam itu sampai kapanpun, tapi kumohon padamu untuk tidak melibatkan Ray dalam masalah kita," lirih Nishide.


"Kumohon padamu agar kau tidak membunuh Ray," sambung Nishide.


"Keh, aku yakin satu juta persen Ratu Koi ini tidak akan bisa membunuhku," ujarku sambil terkekeh.


"Kau!!" Risa kembali berdiri dan siap menghunuskan pedangnya lagi.


"Clarissa!" bentak Nishide yang membuat Risa langsung melihat ke arahnya.


"Kau pikir dendam ini bisa kusimpan saja? Hah?!" balas Risa membentak Nishide.


Risa lalu mencoba menebaskan pedangnya ke arah cahaya Nishide. Namun itu sia-sia, tebasannya hanya menembus cahaya itu.


"Clarissa, saat ini aku tidak tahu harus berbuat apa untuk menebus kesalahanku," lirih Nishide.


"Kau hanya perlu mengorbankan nyawamu!" Risa kembali menebaskan pedangnya ke arah Nishide. Meskipun aku yakin bahwa dia juga tahu bahwa itu akan sia-sia.


"OI! OI! OI!" teriakku yang membuat niat Risa untuk menebas Nishide terhenti.

__ADS_1


"Aku duduk manis di sini, untuk mendengarkan cerita! Bukan untuk melihat pembalasan dendam dan permohonan maaf!" bentakku.


"Bisakah salah satu dari kalian menceritakan padaku apa yang sebenarnya telah terjadi sehingga membuat dirimu marah-marah, dan juga membuat dirimu memohon maaf!" sambungku sambil menunjuk ke arah Risa dan Nishide secara berurutan.


__ADS_2