
Sebelumnya, si iblis yang mucul di videotron saat aku masih di Kerajaan Air berhasil mengalahkanku dengab telak. Entah bagaimana, setelah dia menusukkan pedangnya ke perutku, rasanya aliran darahku sudah dikendalikan oleh iblis itu.
"Aaaagh!!!" teriakku kesakitan.
Hal itu hanya terjadi sesaat, namun rasa sakitnya luar biasa. Seakan-akan iblis itu membawaku ke neraka bersamanya.
"Sialan kau ... aku pasti akan menghabisimu ...," batinku lemas.
BUG.
Tubuhku pun telungkup dan mataku tertutup.
***
Perlahan-lahan aku membuka mataku. Dan ternyata, aku sudah tenggelam di dalam sebuah lautan darah.
"A-apa ini?" tanyaku dalam hati dengan perasaan cemas.
"Aku tidak bisa bernapas," batinku.
"Sial ... apakah aku sudah mati? Atau ini baru menjelang kematianku?" tanyaku dalam hati lagi.
"Hahh! Bagaimana pun juga, aku harus keluar dari sini!" batinku mencoba untuk menyemangati diri sendiri.
Aku pun mencoba untuk keluar dari dalam air itu dengan terbang. Namun aku baru ingat bahwa energiku sudah habis.
"Sial, aku tidak punya pilihan lain. Aku harus berenang," pikirku.
Aku pun mulai berenang ke atas untuk keluar dari dalam lautan darah itu. Namun semuanya sudah terlambat. Aku sudah tidak punya tenaga sama sekali, oksigen dari dalam tubuhku pun sudah habis. Selama aku berada di dimensi ini, aku belum sedikit pun diberikan waktu untuk bernapas.
Lalu, aku berhenti berusaha untuk keluar dari tempat ini, dengan kata lain, aku sudah menyerah. Perlahan-lahan, tubuhku semakin tertarik ke dalam lautan darah itu. Dan kesadaranku pun perlahan-lahan memudar.
"Hahah. Sudah selesai, yah. Aku ... gagal ...," batinku.
"Aku ... akan segera mati. Tidak. Mungkin sekarang aku sudah mati."
"Yah, kurasa ini tidak terlalu buruk. Setidaknya beban kehidupan duniawiku akan segera sirna," pikitku.
"Selamat tinggal, dunia yang merepotkan. Selamat tinggal Mia, selamat tinggal ayah, selamat tingga oksigen, selamat tinggal jurus-jurus keren."
"Dan ... maafkan aku. Mungkin sesudah kematianku ini, dunia akan hancur. Dan kalian akan segera menyusulku."
"Maaf Ash, Nishide, Risa. Maaf, aku tidak bisa menepati janjiku pada kalian ...."
"Hmm ...." Lalu aku menutup mataku dan mencoba untuk tersenyum.
"'Maaf'? Kata itu sangat tidak cocok untukmu, Ray." Aku mendengar suara dari Nishide dalam pikiranku.
"Heh?" Aku terkejut saat mendengar suara itu.
"Ray, tepati janjimu!" Setelah itu aku mendengar suara Ashley dan Risa yang seakan-akan berusaha untuk mengembalikan niatku untuk tetap hidup.
"Ya, aku mengerti. Dasar trio cerewet," batinku sambil tersenyum.
__ADS_1
Aku tidak tahu kenapa dalam satu hari ini aku sudah dua kali mendengar dan melihat mereka bertiga, yaitu Nishide, Ashley, dan Risa. Mungkin aku sedang berhalusinasi karena kekurangan oksigen.
Namun meski itu hanya halusinasi, yang mereka katakan memang benar. Orang hebat sepertiku tidak pantas meminta maaf. Jadi, aku hanya perlu menuntaskan kewajibanku agar aku tidak perlu meminta maaf.
Setelah itu, aku kembali membuka mataku dan terus melihat ke atas sambil berpikir bagaimana caranya agar diriku dapat keluar dari tempat ini.
"Ayo, Ray! Gunakan otakmu yang cerdasnya kelewatan ini!" batinku semangat.
Namun sayang, tidak ada satu pun ide yang berhasil kudapatkan untuk menyelamatkan diri.
"Ohh, ayolah ...," batinku dan setelah itu kesadaranku mulai hilang.
"Gunakan kepalamu, dasar keras kepala!" Tiba-tiba aku kembali mendengar suara aneh dalam pikiranku.
Namun kali ini yang kudengar adalah suara dari Dewa Seisu. Dan aku juga langsung terbayang saat-saat di mana Dewa Seisu memegang kepalaku dan lalu melemparku sebelum aku dikejar-kejar oleh pasukan air.
"Lah, kenapa malah bayangin itu?!" tanyaku dalam hati dengan perasaan kesal.
"Ohh, ayolah!! Kumohon ... berikan aku ide!!!" pikirku dengan keras.
SREK.
"Hah." Tiba-tiba kepalaku terasa tersengat listrik dan membuatku terkejut dan kembali membuka mata.
Dan di saat mataku terbuka, lautan darah yang membuatku tenggelam, sudah berganti menjadi lautan air biasa. Namun, tidak lama kemudian, tubuhku tertarik ke samping.
Dan ternyata, kali ini yang menarikku adalah sebuah pusaran air.
"Glek, glek, glek." Aku pun meminum air lautan itu tanpa sengaja. Namun anehnya, airnya tidak terasa asin.
Aku terus tertarik ke dalam lautan itu.
"Hoi, hentikan ini! Aku punya urusan yang lebih penting dari pada main tarik-tarikan mulu," batinku.
"Diamlah, dasar keras kepala." Lagi-lagi, aku mendengar dan melihat Dewa Seisu. Namun dengan ekspresi yang sangat tidak cocok untuknya, yaitu, dia tersenyum.
SRINGG.
Lalu, saat aku memejamkan mata, sepintas kegelapan yang kulihat tertutupi oleh cahaya yang sangat terang. Namun itu hanya sesaat, cahaya itu langsung memudar dan kegelapan pun kembali.
"Eh? Apa yang terjadi?" tanyaku dalam hati.
"Aku sudah bisa bernapas," batinku.
"Huhh, semua bagian tubuhku sangat sakit," batinku lagi.
Lalu, aku membuka mataku perlahan-lahan.
"Hehh ...." Aku mencoba untuk memahami situasiku saat ini.
"Ray ... kau sudah sadar?"
Tanya seseorang dengan nada suara khawatir. Aku tidak tahu siapa orang itu, namun dari suaranya kurasa itu adalah Risa.
__ADS_1
Aku lalu melihat ke sebelah kiriku, karena aku merasa dari sanalah suaranya berasal. Dan saat aku melihatnya, ternyata di sana ada Risa yang masih terikat.
"Hah. Aku ... belum mati? Apa aku selamat? Atau mungkin tadi itu hanya mimpi?" tanyaku dalam hati.
"Apa ... yang terjadi?" tanyaku pada Risa dengan sangat pelan karena kekurangan energi.
"Ngomong apa, sih?" tanya Risa sinis. Mungkin karena dia tidak mendengar ucapanku.
"Huhh." Aku menunduk dan membuang napas berat karena kesal dengan perubahan sikap Risa yang begitu drastis hanya dalam waktu beberapa detik.
Lalu, aku kembali mengangkat kepalaku dan menatap Risa dengan tatapan sayu. Kuharap, Risa bisa mengerti apa yang kukatakan hanya dengan tatapan mata.
"Huhh." Risa menghela napas sejenak.
Setelah itu, Risa melihatku dari atas ke bawah, dan kemudian dia membelokkan kepalanya ke depan. Itu semua adalah jawaban yang ia berikan atas pertanyaanku tadi. Karena aku menanyakannya hanya dengan tatapan, dia juga menjawabnya hanya dengan gerakan mata.
Karena mengerti apa yang dimaksud Risa. Aku mengikuti gerakan matanya, ke atas, bawah, dan ke depan. Dan akhirnya, aku tahu bagaimana posisi kami saat ini. Dan ternyata, sangat buruk.
Tubuhku diikat di sebuah tiang besi secara horizontal, sama dengan Risa. Di depan, tidak, di sekeliling kami berdua, sudah ada pasukan iblis yang berjaga. Dan tepat di depan kami berdua, ada iblis yang sebelumnya mengalahkanku.
Iblis-iblis itu tampak tidak terlalu memperhatikan kami. Entah apa yang ingin mereka lakukan, tapi yang pasti, kami berdua tidak diuntungkan dalam hal ini.
Pemimpin iblis di sini atau juga iblis yang mengalahkanku, sedang mempersiapkan sebuah alat mirip kamera yang besar dengan beberapa iblis lainnya. Mungkin, mereka ingin menyiarkan hal ini di videotron di Kerajaan Air.
***
"Hoi, Seisu!" Saat semuanya sudah siap, tiba-tiba pemimpin iblis itu langsung berteriak.
"Jangan main-main denganku! Kenapa kau mengirim ikan teri itu kepadaku?!" tanya iblis itu dengan keras sambil menunjuk ke arahku.
"Ehh, ikan teri? Statusku sudah naik, yah. Kan sebelumnya cuma tulang ikan," batinku dengan menunduk dan tersenyum.
Aku tidak sanggup mengangkat kepalaku dan melihat ke depan, karena aku merasa malu jika dilihat oleh Seisu aku sudah kalah. Dan kulihat, sepertinya Risa juga merasakan hal yang sama denganku.
Tapi sebenarnya, terus menunduk seperti ini justru membuatku tambah merasa malu.
"Neh, Seisu. Kali ini kuberi kau satu kesempatan lagi. Datanglah ke sini, ke Mariana ... seorang diri," kata iblis tadi dengan sangat serius.
"Huhh. Aku mengerti," batinku.
"Terus-terusan menunduk tidak akan mengubah apapun. Itu justru akan membuatku terlihat lebih rendah," pikirku.
"Aku harus mengangkat kepalaku. Dan memikirkan bagaimana caranya untuk menang. Karena itulah fungsi otakku," pikirku lagi.
"Jika tidak, maka aku ... akan membunuh mereka berdua!" tegas iblis tadi.
"Yah, kurasa ini saatnya untuk kembaki mengangkat kepalaku," batinku.
"Cih. Jika kau memang ingin membunuh kami, kenapa kau belum melakukannya?" tanyaku pada si iblis untuk mencoba membuatnya emosi.
"Aku rasa ... kau hanya butuh satu sandera untuk membuat Seisu datang kemari. Karena jika kau membuktikan kesungguhanmu untuk membunuh, aku yakin itu akan memancing kemarahan Seisu," ujarku.
"Jadi, ayo ... bunuh aku!" bentakku.
__ADS_1