
"Dia ... Dewa ... Seisu ...," gumamku merasa takut.
Yah, sebenarnya aku hanya asal tebak. Tapi aku benar-benar yakin bahwa lelaki besar itu adalah Dewa Seisu.
"Cih ... dia datang," ucap Nishide.
"Aku tahu, woi!" bentakku dalam hati.
"Ada apa ini?" tanya lelaki besar itu, yang tak lain adalah Dewa Seisu dengan sinis.
"Egh."
Aku tidak bisa bergerak. Tubuhku tertarik ke bawah, aku hanya bisa berlutut. Rasanya gravitasi menjadi lebuh kuat. Lelaki itu seperti mengeluarkan aura yang mencekam, bahkan untuk bernapas saja aku sangat kesulitan.
"Apa ini?" tanyaku dalam hati.
"Inilah kekuatan dari seorang dewa," ujar Nishide menjawab pertanyaanku.
"Dan kau, Frans. Apa yang telah terjadi padamu sampai kau terluka separah ini?" tanya Dewa Seisu pada Frans yang juga terdengar sinis.
"Eggh ... ghaa!!!" Frans berteriak sangat keras seperti sedang berusaha sekuat tenaga mengeluarkan e*ek keras saat BAB. Canda. Seperti sedang manahan rasa sakit
"Apa yang dia ... lakukan?" tanyaku dalam hati sambil mencoba untuk mengambil napas.
"Seisu membuat aliran energi air di dalam tubuh Frans jadi tak beraturan. Sehingga hal itu membuat tubuh Frans terasa akan hancur," jelas Nishide.
"Ke-jam," gumamku setelah mendengar penjelasan Nishide.
"Di-dia, di sana. Ada penyusup Ayah," kata Frans dengan susah payah sambil menunjuk ke arahku.
Sringg.
Dewa Seisu menatapku dengan mata yang berinar biru dan tatapan itu sangat mengerikan. Bahkan aku sampai tidak tahan melihat tatapannya itu, dan aku hanya bisa terpelungkup. Seluruh tubuhku tertarik ke bawah.
"Eghh ... sial, apa-apaan aura mencekam ini?" tanyaku dalam hati.
"Aku harus bisa, aku harus menghadapinya!" batinku penuh tekad.
Perlahan-lahan aku mengangkat kepalaku untuk melihat Dewa Seisu yang berada cukup jauh di depanku.
Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Dewa Seisu sudah berada tepat di hadapanku.
"He? Hello," ucapku sambil tersenyum cemas.
Aku sangat cemas karena aku merasakan energi yang sangat kuat terpancar dari dalam tubuh Dewa Seisu. Tubuhnya terlihat sangat besar dan sangat tinggi.
"Energi air, ratu leviathan." Dewa Seisu mengangkat lengannya dengan jari telunjuk mengarah ke atas.
Aku lalu melihat ke atas, tepat ke arah Dewa Seisu menujuk dengan telunjuknya.
"Hah?" Aku tercengang ketika melihat ada seekor naga dari air yang sangat besar sedang meluncur ke arahku.
__ADS_1
"Sial," gumamku kesal sekaligus cemas.
"Ray, seluruh sisa energiku telah kusalurkan padamu, dan artinya aku telah kehabisan energiku. Mulai sekarang, kau harus menghadapinya sendiri," tegas Nishide.
"Hah? Nishide, apa maksudmu?!" Aku sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Nishide.
Apakah dia akan sirna dari dalam tubuhku? Karena seluruh kekuatannya telah ia wariskan padaku.
"Berjuanglah," lirih Nishide.
"Nishide!!!" teriakku dengan perasaan marah sekaligus sedih.
"Nishide?!" Dewa Seisu mengerutkan wajahnya saat aku meneriakkan nama Nishide.
SRINGGGG.
Aku merasakan energi jiwa dalam tubuhku bertambah drastis. Rasanya sangat menyakitkan, namun sensasi yang kurasakan sangat nyaman.
Lalu, energi besar itu tidak dapat ditampung sekaligus oleh tubuhku. Jadi sebagian dari energi terpancar keluar dari dalam tubuhku, dan menghasilkan suara "sring" itu.
Saat sinar itu terpancar, aku tidak bisa membuka mataku. Yang kulakukan hanya berteriak dan terus berteriak. Namun aku juga menyadari bahwa jubah abu-abuku menjadi abu karena sinar itu.
Lalu, perlahan-lahan sinar itu pun hilang dan aku mulai membuka mataku. Saat itu aku terus berusaha untuk mengatur napasku yang terasa berat.
Saat aku membuka mata, aku baru menyadari bahwa Dewa Seisu sudah tidak berada di hadapanku. Melainkan berada beberapa meter di depanku dengan terdapat perisai air melindunginya. Matanya terbelalak dan mulutnya agak terbuka sambil menghela napas berat. Setelah itu aku melihat ke atas. Dan ternyata naga air yang tadi meluncur ke arahku pun sudah sirna.
Namun aku tidak terlalu peduli dengan Dewa Seisu atau pun naga airnya. Aku memegang dadaku dalam keadaan cemas.
"Nishide! Nishide!! Nishide!!" teriakku dalam hati berharap Nishide masih mendengar dan menjawabku.
"Sialan kau Nishide! Dasr tidak bertanggung jawab, kau sirna ketika aku masih benar-benar membutuhkan bimbinganmu!" batinku kesal.
"Kau datang tak diundang dan mengisi jantungku, tapi setelah itu kau hilang dan pergi seenaknya," batinku lagi.
"Yah, walau kau meninggalkan kenangan berupa kekuatanmu dalam diriku," sambungku.
"Hmm ... sial kau, Nishide!!!" teriakku setelah menarik napas panjang. Kali ini bukan dalam hati.
"Hoi, siapa kau?" tanya Dewa Seisu padaku dengan menghilangkan perisainya dan mengubah kuda-kudanya menjadi posisi siap bertarung.
"Cih." Aku menatap Dewa Seisu dengan tajam dan berdiri.
"M**ulai sekarang kau harus menghadapinya sendiri."
"Ray Harris! Mulai saat ini, kau adalah pewarisku!"
Kata-kata Nishide itu kembali terngiang di dalam pikiranku.
"Huhh." Aku membuang napas sejenak, mencoba untuk menenangkan pikiranku.
"Aku adalah, Pewaris Dewa Kematian!" lantangku sambil mengaktifkan sabit jiwaku dan mengubah posisiku menjadi siap bertarung.
"Pewaris?" tanya Dewa Seisu mengerutkan alisnya.
__ADS_1
"Heh. Ternyata dirinya tidak sebesar dengan apa yang kulihat tadi. Dan sekarang aku sudah merasa sangat nyaman, aura mencekam itu sudah tidak terasa lagi," pikirku.
"Entah aku harus berterima kasih atau harus membencimu, Nishide," pikirku lagi sambil memejamkan mataku sejenak.
"Ya, aku adalah pewaris dari Nishide, kenalan dari putrimu, dan sebentar lagi aku akan menjadi rekanmu!" tegasku.
"Apa maksudmu?" tanya Dewa Seisu.
"Kau pasti paham maksudku," jawabku.
TSINGG.
Kami berdua sama-sama melesat maju ke arah berlawanan. Dan aku menebaskan sabitku ke arag Dewa Seisu, namun dia berhasil menahan sabitku hanya dengan kedua tangannya.
"Di mana, Risa?" tanyaku sambil berusaha untuk mendorong Dewa Seisu dengan sabitku.
"Risa?" tanya Dewa Seisu pelan seperti dia tidak pernah mendengar nama itu.
"Energi jiwa, laser jiwa," batinku mengeluarkan jurus laser dari mataku.
"Hah?" Dewa Seisu yang terkejut, masih bisa menghindari seranganku itu.
"Cih." Dewa Seisu menatapku kesal.
"Dalam sebuah pertarungan kau harus selalu siap siaga, aku yakin dewa pemarah sepertimu pasti mengetahui halitu," ujarku.
Lalu kami berdua kembali melesat ke arah masing-masing dan terus saling baradu serangan.
"Biar kuperjelas pertanyaanku tadi, di mana Risa? Huhh, maksudku Clarissa, Clarissa Endora!" tegasku.
"Jangan pernah memasangkan nama istriku dengan nama iblis itu!" bentak Dewa Seisu sambil menyerangku dengan jurusnya.
"Energi jiwa, perisai jiwa!" teriakku mengeluarkan jurus untuk menahan serangan Dewa Seisu.
"Kalau begitu kupasangkan saja dengan namamu, Clarissa Seisu!" teriakku lagi.
"Sialan kau! Kau membuat kesabaranku habis," ujar Dewa Seisu sambil meloncat ke atas.
"Trisula." Dewa Seisu lalu memunculkan sebuah trisula dari emas.
Lalu, sinar biru yang sangat terang terpancar dari tubuh Dewa Seisu.
"Energi dewa. Kuasa air!" teriak sambil menggerak-gerakkan trisulanya.
"Hiaa," gumam Dewa Seisu seperti membuang napas.
Lalu, aku merasa bahwa tempat kami bertarung itu bergetar seperti gempa. Dan di sekitar tubuh Dewa Seisu terdapat aliran air yang memancarkan sinar biru.
"Hah? Apa itu?" tanyaku dalam hati. Kebiasaan ketika Nishide masih ada.
"Cih, Nishide bilang dia telah memberiku seluruh kekuatannya. Kurasa sekarang ini adalah waktuku untuk menggunakannya," pikirku.
"Konsentrasi," gumamku sambil memejamkan mata.
__ADS_1
"Hiaa!!!" Tiba-tiba Dewa Seisu berteriak dan mengarahkan berbagai jurus air kepadaku dari segala arah.
"Woi! Aku baru konsentrasi, sabar dulu napa?!"