
***
"Hahh. Si Frans sialan itu ... tau aja kalau aku ngantuk. Akhirnya aku bisa tidur," batinku yang baru setengah sadar.
"Ray! Ray! Ray!" Aku mendengar suara teriakan Risa yang sepertinya mencoba menyadarkanku.
"Ahh, berisik." Aku pun membuka mataku pelan-pelan.
"Heh. Akhirnya kau bangun," lirih Risa yang duduk di samping kiriku.
"Ohh, ternyata kau ...," ucapku pelan.
"Hem? Kenapa kau memasang wajah kecewa saat melihatku?" tanya Risa sinis.
"Tidak," jawabku sambil mengubah posisiku untuk duduk. Lalu aku melihat keadaan tubuhku, dan aku baru menyadari bahwa aku sudah kembali ke bentuk manusia.
"Di mana ini?" tanyaku saat melihat di atasku terdapat sebuah atap yang tampak sangat mewah.
"Dan ... di mana Frans?" tanyaku lagi.
"Frans tidak ada di sini. Aku tidak tahu sekarang dia di mana. Dan saat ini kita berada di ... di dalam ruangan Dewa Seisu," jelas Risa.
"Hem?" Aku terkejut mendengar penjelasan Risa.
Tuk, tuk, tuk, tuk, tuk.
Kemudian aku mendengar suara langkah kaki yang besar. Dan ternyata, itu adalah langkah kaki dari Seisu yang berjalan ke arahku. Saat ia berada di samping kiriku, Risa pun berjalan menjauh ke arah kepalaku.
Dewa Seisu tetap menatapku dan Risa dengan tajam. Dan tentunya hal itu membuat Risa menjadi lebih takut kepadanya.
"Yo, Seisu. Sejujurnya aku memang ingin bertemu denganmu. Aku punya beberapa permintaan kepadamu. Yah, tapi karena yang membawaku kemari adalah prajurit-prajuritmu, maka aku mempersilahkan dirimu untuk berbicara terlbih dahulu," ucapku.
"Tampaknya sifat burukmu itu menjadi semakin buruk sejak malam tadi," balas Dewa Seisu.
"Langsung saja ke intinya, Dewa sialan," kataku sinis sambil mengubah posisi untuk duduk.
"Ray!!" Risa tampak kesal dan cemas mendengar ucapanku kepada Dewa Seisu.
"Kau sudah mengalahkan Iblis Voster dari Mariana-"
"'Voster?' Itu nama iblis?" tanyaku penasaran memotong ucapan Seisu.
"Ya. Dia adalah iblis yang sering menculik rakyat dan prajuritku untuk dibunuh, ataupun diubah menjadi iblis. Namanya adalah Voster, 'Sang Pengendali Darah', salah satu bawahan dari Iblis Leviathan," jelas Dewa Seisu.
"Ohh, jadi itu nama iblis darah ...," pikirku.
"Eh? 'Leviathan'? Kalau tidak salah iblis darah itu juga pernah menyebut namanya. Bahkan Seisu pun juga pernah," pikirku lagi.
"Jadi, kenapa? Apa sekarang kau mau mengakui kekuatanku?" tanyaku pada Seisu.
"Aku hanya ingin mengatakan terima kasih," jawab Seisu.
"Eh?" Aku dan Risa pun heran mendengar ucapan dari Seisu.
"'Terima kasih'? Itu seperti bukan dirimu saja. Hahahahhahah," kataku sambil tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Hmm. Biar aku tebak. Tujuanmu membawaku dan Risa kemari bukan hanya untuk berterima kasih, tapi karena kau ingin nertemu dengan 'seseorang', kan? Kan? Aku benar bukan?" tanyaku mencoba meledek Dewa Seisu.
"Cih." Dewa Seisu memalingkan wajahnya dariku.
"Hahahahah! Sikapmu itu, mengingatkanku pada seseorang, loh!" ucapku meledek Seisu.
"Cukup, Manusia," sinis Seisu.
"Jangan samakan aku dengan i ..."
TSINGGG.
Aku langsung memunculkan sabit jiwaku dan langsung menghunuskannya ke arah leher Dewa Seisu.
"Eh, maaf. Sabitku tiba-tiba bereaksi dengan ucapanmu," ucapku dengan senyuman sinis.
Sementara itu, aku melihat Risa yang menundukkan kepalanya. Namun aku tetap membiarkannya, karena dia sudah dewasa.
"Kalau begitu singkirkanlah benda ini," ucap Seisu membalas ucapanku tadi sambil mendorong sabitku dari lehernya.
"Hahh. Terus, apa lagi? Masih ada yang ingin kau ucapkan?" tanyaku pada Seisu.
"Tidak. Sudah cukup. Sekarang pulanglah ke dimensimu, dan jangan pernah memasuki kerajaanku lagi!" jawab Seisu sinis.
"Ehh, membosankan. Kalau begitu sekarang adalah giliranku untuk berbicara," kataku.
"Pergilah, aku membawamu ke sini bukan untuk mendengarkan permintaanmu!" suruh Seisu.
"Hm? Permintaan? Yah, itu dia ...," pikirku.
"Begini saja. Sebagai 'mantan' manusia, seharusnya kau tahu bahwa perwujudan terima kasih itu tidak hanya berdasarkan pada kata-kata-"
"Hm, ternyata kau orangnya peka juga," kataku pelan.
"Baiklah, permintaanku adalah ... aku ingin kau membantuku dalam membasmi semua iblis di seluruh dunia, di seluruh dimensi," pintaku.
"Hem. Kau yakin itu permintaanmu?" tanya Seisu sambil tersenyum.
"Ya!" jawabku dengan tegas.
"Baiklah. Aku akan membantumu, aku akan membasmi semua iblis di yang ada di dimensi air. Apa kau puas?" tanya Seisu lagi.
"Kurang ajar ...," batinku kesal.
"Cih. Baiklah, aku yakin itu saja sudah cukup bagi Nishide," ujarku.
"Sekarang pergilah! Sebelum aku mulai membasmi iblis di sini!" tegas Seisu menatap Risa.
"Cih. Kalau begitu, kau harus mengabulkan satu permintaanku lagi!" balasku sambil menghadang Risa dari pandangan Seisu.
"Jangan main-main denganku manusia," ucap Seisu pelan sambil memunculkan trisulanya dan mengarahkannya padaku.
"Ehh!!!" Risa menjerit ketakutan melihat Seisu yang mulai marah.
"Risa, kau tetaplah di belakangku, yah," kataku lirih pada Risa.
__ADS_1
"Eh? Apa katamu?" tanya Risa dengan pelan.
"Katakan saja 'ya'," bisikku.
"Eh? Y-ya, baiklah," ucap Risa.
"Hm." Aku tersenyum menatap Seisu.
"Wahh, sepertinya kami berdua tidak akan bisa menghindar kalau kau menyerang. Tapi, apa kau benar-benar bisa melakukannya, yah?" Aku meledek Dewa Seisu, karena aku yakin dia tidak akan bisa menyakiti Risa.
"Hehh. Sebutkan permintaanmu," ucap Seisu pelan sambil terus mengarahkan trisulanya pada kami.
"Heh." Risa tampaknya heran dengan Seisu yang tidak jadi menyerangku.
"Hem." Aku menatap mata Risa dan tersenyum.
"Aku ingin kau mengakui Cla-"
"Sudah kubilang jangan main-main denganku!" ucap Seisu memotong perkataanku. Ia juga membuat trisulanya jadi dikelilingi oleh aliran energi air, sebagai tanda untuk mengancamku.
"Baik, baik. Aku ingin kau memberikan kami dua bilah pedang, dengan kualitas yang terbaik dari kerajaan ini," pintaku pada Seisu.
"Baiklah. Tapi berjanjilah setelah ini kau akan kembali ke dimensimu. Dan tidak pernah kembali ke kerajaanku," kata Seisu.
"Aku ini manusia, sulit bagiku untuk menepati janji," balasku.
"Ray, kedua pedang itu ...-"
"Ya, itu untukmu," lirihku memotong ucapan Risa.
ZRINGGG.
Lalu, tiba-tiba muncul dua bilah pedang yang terbuat dari energi air milik Seisu. Kedua pedang itu tampak sangat berkilau dengan gagang yang terbuat dari emas.
"Ambillah. Pedang ini terbuat dari energi air yang aku miliki. Seiring berjalannya waktu, baik pedang maupun penggunanya, akan terus mengalami peningkatan kekuatan," jelas Seisu.
"Namun, hanya keturunan dirikulah yang bisa mengaktifkan potensi terbesar dari kedua pedang ini," sambung Seisu.
"Heh. Kau yang terbaik," kataku memuji Seisu.
"Risa." Aku pun membiarkan Risa mengambil kedua pedang tadi di udara.
"Em." Dengan sedikit bergemetar, Risa mengambil kedua pedang yang diberikan oleh Seisu.
"Bagus, sekarang kembalilah ke dimensi kalian!" Seisu mengangkat tangan kanannya ke atas.
Dan di saat yang sama, terbentuk sebuah lingkaran layaknya lingkarang sihir di bawah aku dan Risa.
"Woi, tunggu dulu!" Aku mencoba untuk keluar dari lingkarang itu. Namun ternyata, aku dan Risa sudah terkurung.
"Energi dewa. Kuasa air, pengusiran!"
SRINGGG!
"Hah, hah, hah ...." Aku membuang napas berat.
__ADS_1
Dalam sekejap mata, aku dan Risa sudah keluar dari "dimensi air". Dan kami berdua sampai di pantai tempat kami memulai perjalanan. Saat ini, cahaya matahari baru mulai menyinari langit Bali dengan kerennya.
Dan mulai dari sini, aku sudah memasang tujuan baru sebagai Pewaris Dewa Kematian. Aku, akan pergi ke daerah kekuasan Dewa Karma, di dimensi api.