
"Pergilah!!!" teriak Dewa Seisu sambil melemparku sekuat tenaga ke bawah bukit, tepatnya ke arah kota kerajaannya.
"Aaghh!!" teriakku merasa sakit.
"Cih. Hampir saja," gumamku ketika berhasil mengendalikan diriku sesaat sebelum menabrak bangunan di kerajaan.
"Dasar dewa sialan," gumamku kesal.
Aku lalu terbang agak tinggi untuk melihat situasi.
"Bagaimana caraku untuk sampai ke Mariana? Aku bahkan tidak tahu ke mana arahnya," pikirku.
"Pergillah, dan hindari penjagaan prajurit-prajuritku. Aku tidak ingin berususan dengan bocah keras kepala sepertimu lagi." Perkataan Dewa Seisu itu kembali terngiang dalam pikiranku.
"Hindari prajuritmu, yah. Bagaimana caranya?!" pikirku stres ketika melihat di setiap titik kerajaan itu selalu ada prajurit-prajurit air yang menjaganya.
"Huhh." Aku menghela napas sejenak.
"Harusnya aku tahu, aku tidak punya banyak waktu. Aku harus mencari cara agar tidak ketahuan oleh mereka," pikirku.
"Hei! Di sana! Itu dia, penyusup yang kabur dari penjara! Bawa dia ke Dewa Seisu!" teriak seorang prajurit yang melihatku.
"Cih, Seisu sialan," gumanku cemas.
Lalu, puluhan prajurit air pun mengejarku baik dari udara maupun dari darat.
"Aku tidak punya cukup waktu dan energi untuk melawan mereka. Aku harus kabur," batinku.
Aku pun terbang dengan kecepatan penuh untuk menghindari kejaran prajurit-prajurit air tersebut. Meskipun begitu, mereka selalu berhasil membuatku terkepung seakan-akan mereka tahu aku akan bergerak ke mana.
Namun untungnya, setiap kali aku terkepung, aku selalu berhasil menemukan satu jalan keluar. Tapi, tetap saja itu semua sangat merepotkan, mereka tidak memberikan waktu bernapas bagiku meskipun hanya nol koma nol nol satu detik.
Aku terus terbang menghindari kejaran prajurit-prajurit air itu. Namun, mereka terus mengejarku, bahkan saat aku sudah keluar dari area kerajaan pusat itu, mereka masih terus mengejarku. Di luar kerajaan itu juga sudah ada prajurit-prajurit air yang menungguku. Namun untungnya mereka belum berhasil menangkapku.
"Ini sudah jauh di luar kerajaan. Tapi kenapa mereka masih terus mengejarku?" tanyaku dalam hati.
"Sebenarnya Seisu itu memerintahkanku pergi sampai ke mana? Alam baka?" tanyaku lagi.
"Hah?" Aku terkejut karena diriku hampir saja terkena serangan dari salah satu prajurit air yang tiba-tiba muncul di atasku.
Beruntung, aku berhasil menghindar. Namun, saat aku mencoba untuk kabur lagi, aku baru sadar bahwa aku sudah terkepung dari segala sisi.
Prajurit-prajurit air membentuk formasi seperti sebuah bola sempurna dengan aku sebagai titik pusatnya.
__ADS_1
"Sial," gumamku sambil bersiap untuk bertarung.
"Energi jiwa. Tebasan jiwa!" teriakku mengeluarkan jurus untuk menyerang prajurit-prajurit itu.
Namun itu semua tebasanku gagal karena mereka menggunakan perisai air untuk menahan seranganku.
"Cih." Posisiku semakin memburuk ketika prajurit-prajurit itu terus bergerak merapat ke arahku tanpa melakukan satu pun serangan.
"Kenapa mereka ini?" tanyaku dalam hati sambil terus mengeluarkan jurusku meskipun aku tahu itu sia-sia.
"Hah? Kesempatan." Tiba-tiba aku melihat sebuah celah kecil di atas.
Aku pun melesat ke atas dengan sedikit menggunakan kekuatan energi jiwa agar lebih cepat. Karena jika aku terlambat sedikit saja, pasukan air itu pasti akan langsung menutup cekah tersebut.
"Heh. Kalian masih amatir dalam mengepung lawan," ejekku selagi melesat ke atas.
"Kaulah yang amatir!" Tiba-tiba seoarang laki-laki muncul dari celah itu dan melesat ke arahku.
"Hah? Sial," gumamku terkejut.
"Energi air. Tebasan air terjun." Ternyata laki-laki itu adalah Frans dan dia mengeluarkan jurusnya sehingga membuatku terhempas ke bawah.
"Glek, glek, glek." Aku pun sempat sengaja meminum air dari jurus Frans itu saat aku terdorong ke bawah karenanya.
"Makasih. Tahu banget aku lagi haus," batinku.
Saat itu pula, aku baru menyadari bahwa di bawahku terdapat sebuah lubang seperti sumur yang sangat-sangat besar. Dari atas, lubang itu tampak sangat gelap dan tidak memiliki dasar atau ujung.
Aku pun masuk ke dalam lubang itu karena efek dari jurus Frans tadi. Dan saat efek jurusnya menghilang, aku pun terbang untuk kembali ke atas.
Namun, saat aku baru bergerak beberapa sentimeter, tubuhku tertarik masuk ke dalam lubang itu. Mungkin, bisa disebut seperti terhisap oleh lubang hitam.
"Aah!!" teriakku.
***
Beberapa saat kemudian.
"Aaah!!!!" aku masih terus berteriak.
Beberapa saat lagi.
"Uhuk-uhuk."
__ADS_1
"Udah ah, capek. Napas dulu. Nih lubang mana ujungnya, sih?"
"Huhh. Tapi, mungkin kalau aku melesat ke bawah dengan energi jiwa, pasti akan lebih cepat," pikirku.
Aku pun melesat ke masuk lebih dalam dengan menggunakan energi jiwaku.
BOOMM.
"Oh, shit." Aku hanya asal melesat dan tidak tahu kapan harus berhenti. Alhasil, wajahku pun menabrak dasar lubang itu.
Setelah itu aku pun langsung duduk dan memegang kepalaku yang terasa sakit. Lalu aku melihat-lihat daerah di sekitarku. Dan ternyata, semuanya gelap, tidak ada setitik pun cahaya yang kulihat di sana.
"Tempat apa ini?" tanyaku dalam hati.
"Gherrr, gherrr." Suara-suara menggeram pun mulai terdengar di sekitarku.
"Sabit jiwa." Aku membuat sabitku memancarkan sinarnya sehinggga menerangi penglihatanku.
Sinar itu ternyata tidak berpengaruh banyak. Namun setidaknya karena itu, aku jadi menemukam sebuah jalan yang mirip terowongan. Aku sekarang seperti sedang berada di dalam saluran air kota.
Aku terus menyusuri jalan itu tanpa mengetahui apa yang ada di sekitarku. Dan suara-suara aneh tadi masih terdengar selama aku berjalan.
"Sial, rasanya makhluk menyeramkan dan menjijikkan bisa muncul kapan saja," pikirku.
Lalu, aku melihat setitik cahaya jingga di depanku. Sepertinya cahaya itu muncul dari api. Namun, aku tetap bersikap tenang. Aku tidak mempercepat langkahku, aku harus selalu waspada dengan kemungkinan apapun yang bisa saja terjadi.
"Hah?" Aku sangat terkejut saat aku keluar dari wilayah yang sangat gelap tadi dan masuk ke daerah yang sedikit bercahaya.
"Kalian pasti bercanda." Di sini, aku sudah dikepung oleh makhluk menyeramkan seperti monster. Tidak lain dan tidak bukan, mereka adalah iblis.
"Hahahahaha!!" Iblis-iblis itu tertawa sangat keras sehingga membuatku merinding.
Jumlah mereka tidak hanya puluhan, melainkan ratusan iblis. Ternyata Frans telah meyerangku hingga masuk ke dalam sarang iblis.
"Hentikan!" Tiba-tiba terdengar suara bentakan yang sangat keras dari depanku.
Lalu, sesosok iblis yang sekitar 80% fisiknya mirip dengan fisik manusia muncul dari segerombolan iblis di depanku. Dia adalah iblis yang sama dengan iblis yang muncul di videotron Kerajaan Air tadi.
Dan dia juga menyeret tubuh Risa dengan satu tangannya. Seluruh tubuh Risa sampai ke mulut-mulutnya pun diikat dengan erat sampai-sampai ia tampak seperti mumi.
"Risa ...,"
"Wah-wah, siapa kau? Yang aku minta datang ke sini adalah Seisu, tapi kenapa yang datang padamu malah tulang ikan?" tanya iblis itu mengejekku.
__ADS_1
"Tulang ikan, hah ... maka bersiaplah."
"Karena tulang ikan ini akan menusuk tenggorokanmu!"