Pewaris Dewa Kematian

Pewaris Dewa Kematian
Pergi ke Kerajaan Air


__ADS_3

Sebelumnya, Risa datang ke rumahku. Entah bagaimana cara dirinya mengetahui lokasi rumahku.


Lalu, entah bagaimana pula Mia masih berada di rumah. Kenapa dia tidak ke sekolah? Huhh, au ah.


BRAKKK.


Mia membuka pintu dengan jurus tendangan emas mengambang miliknya.


"Eh?!!" Risa sepertinya terkejut karena pintu rumahku tiba-tiba saja roboh.


"Wahh, cantik sekali ... kakak pacarnya kakak, yah?!" tanya Mia dengan nada penuh semangat dan rasa penasaran.


"Aku ... salah rumah, yah?" tanya Risa dengan suara yang agak keras namun sedikit terbata-bata.


Aku lalu berjalan menuruni tangga untuk menghampiri Risa dan Mia.


"Kakak lagi cara siapa?" tanya Mia.


"R-Ray," jawab Risa terbata-bata.


"Ka-" Mia membalikkan tubuhnya dan mengangkat salah satu kakinya seperti sedang menendang.


Dan menyedihkannya, serangan tendangan itu tepat mengenai alat masa depanku. Rasanya seperti disetrum dengan sengatan 2 juta volt.


"Agh!!!" teriakku kesakitan.


"Agh!!" teriak Nishide yang mungkin juga terkena efeknya.


"Ka-kak," ucap Mia pelan sambil tersenyum padaku.


Aku lalu terjatuh ke arah kiri dan melihat ternyata Risa yang sedang terduduk. Mungkin karena dia terkejut tadi.


"Aw," gumamku sambil menahan sakit.


"Waw." Gerak mulut Risa seperti mengatakan hal itu.


Setelah itu, mataku tertutup dan semuanya menjadi gelap.


*****


Perlahan-lahan, aku membuka mata. Dan ternyata aku masih berada di tempat yang sama. Aku lihat Mia sedang berjongkok di sampingku sambil menyentuh-nyentuh pipiku dengan jarinya.


"Kak," panggil Mia.


"Kakak," panggil Mia lagi sambil terus menyentuh pipiku.


"Eh udah bangun, yah?" tanya Mia saat menyadari bahwa mataku telah terbuka.


"Berapa lama ... aku pingsan?" tanyaku sambil bangun untuk duduk.


"Pingsan? Oh, Kakak pingsan selama sembilan detik, sepuluh, sebelas, dua belas, tiga belas," jawab Mia sambil melihat ke arah jam dinding.


"Eh? Hanya dalam hitungan detik?" tanyaku terkejut.


"Iya," jawab Mia.


"Oh iya, Kak. Ini ada kakak-kakak lagi cari Kakak," kata Mia sambil sedikit bergeser dari posisinya agar aku dapat melihat Risa yang ternyata sudah berdir, atau kakak-kakak yang dimaksud Mia.


"Oh, hai," kataku pelan sambil menatap Risa.


"H-hai," kata Risa sambil menatapku dengan mengangkat salah satu alisnya. Entah itu ekspresi heran atau jijik aku juga tidak tahu.


"Wihh ngomongnya pelan-pelan nih, yee ...," ejek Mia.


"Kakak sama Kakak pacaran, kan?" tanya Mia sambil menatapku dan Risa bergantian.


"Eh?" gumamku dan Risa bersamaan.


"Ya tidak, lah," jawabku dan Risa dengan santai.

__ADS_1


"Wahh. Lagi pdkt, yah?" tanya Mia.


"Jika pdkt yang kau maksud adalah 'Pendekatan Dengan Kekerasan tingkat Tinggi' maka jawabannya iya," jawabku dan Risa secara bersamaan lagi. Setelah menjawab pertanyaan Mia itu, aku pun berdiri.


"Wihh. Kompak banget, sih," ejek Mia lagi.


"Masa?" tanyaku dan Mia dengan sinis.


"Ya. Aku yakin nantinya kalian berdua akan berpacaran," ujar Mia dengab senyum sok manisnya.


"Tidak mungkin," kataku dan Risa serentak sambil berjalan ke arah ruang tamu yang juga sekaligus ruang dapur.


"Masuk," kataku pada Risa mempersilahkan dirinya untuk masuk.


"Terus nantinya kalian berdua akan menikah," kata Mia menyambung perkataannya tadi.


"Mustahil," balasku dan Risa lagi.


"Dan kalian berdua akan memberikanku seo-" ucapan Mia yang tidak menggubris ucapanku dan Risa langsung kutahan. Aku menutup mulutnya dengan jari telunjukku.


"Ssst. Jangan diteruskan, yah. Isi otakmu ini apa, sih?" tanyaku sambil mengelus-elus kepalanya.


Setelah Mia diam aku dan Risa langsung kembali berjalan ke arah meja makan.


"Duhh! Aku yakin!" teriak Mia dengan nada kesal.


"Hentikan," kataku dan Risa serentak.


Lalu aku, Mia, dan Risa duduk di meja makan rumah kelaurgaku. Di sana, posisiku dan Risa berhadapan, sedangkan Mia berada di antara kami berdua.


"Mia, kenapa kau tidak sekolah?" tanyaku.


"Hehehe. Aku izin lebih lama untuk waktu berduka," jawab Mia sambil tersenyum.


"Hah? Kau yakin kau masih berduka?" tanyaku heran.


Sedangkan Risa hanya mengangguk-angguk. Aku rasa dia mengerti kenapa Mia bilang dia berduka.


"Jadi, kenapa kau ke sini?" tanyaku sinis pada Risa.


"Huhh. Ya kita kan mau pergi ke ...," ucapan Risa langsung terhenti. Mungkin dia baru menyadari bahwa Mia tidak boleh tahu kami akan pergi ke Kerajaan Air.


"Kerja kelompok," sambung Risa berbohong.


"Lah, bukannya Kakak diskors?" tanya Mia sambil menatapku.


"Eh? Ooh, kerja kelompok ini tugas dari guru yang menghukum Kakak," jawabku yang juga berbohong.


"Ohh. Jadi Mia sendirian, dong?" tanya Mia sambil menatapku dengan mata yang berlinang.


"Eheh. Nanti Kakak antar ke rumah bibi, yah," ujarku sambil mengelus kepala Mia.


"Em." Mia mengangguk.


"Kau temenin kakak ini dulu, yah. Kakak mau mandi," ucapku lembut pada Mia.


"Tunggu," ucapiu sinis pada Risa.


*******


Sekitar satu jam kemudian. Aku dan Risa pergi ke rumah bibiku untuk mengantar Mia. Setelah mengantar Mia, kami berdua pun langsung berjalan ke arah lokasi yang ditunjukkan oleh Risa. Sebuah laut yang aku sendiri tidak tahu di mana tepatnya itu. Kami menaiki angkutan umum untuk pergi ke sana.


*****


Di area masuk pantai.


"Yaelah, ngabisin uang aja. Enakan kita terbang, gratis dan lebih cepat," keluhku lesu.


"Jangan banyak ngeluh!" teriak Risa.

__ADS_1


"Aku nggak bisa ...," ucapan Risa terhenti karena dia melihat ada banyak orang di sana. Yah, takutnya nanti orang-orang bisa merasa aneh dengan kami.


"Ikuti aku," ucapku pelan sambil menarik tangan Risa.


"Ehh?" ucap Risa cukup kencang. Mungkin karena terkejut tiba-tiba aku menariknya. Atau mungkin karena aku memegang tangannya.


Aku lalu membawa Risa ke tempat yang cukup sepi. Ssst, jangan mikir yang aneh-aneh, ya!


"Kenapa kau membawaku ke sini?!" tanya Risa dengan cukup kencang.


"Hoi, jangan berisik," balasku dengan suara pelan. Aku lalu mengaktifkan mode Dewa Kematianku.


"Sebelumnya aku mau bertanya. Apa kau benar-benar tidak memiliki jurus yang bisa membuatmu terbang?" tanyaku.


"Y-ya. Aku bahkan tidak bisa melakukan satu jurus, pun," jawab Risa pelan.


"Kalau begitu masuklah," ucapku sambil sedikit membuka jubahku agar Risa bisa masuk ke dalamnya. Dan aku bisa membawanya terbang tanpa terlihat oleh manusia.


"Hah?!" teriak Risa.


"Cepatlah!" tegasku sambil menarik Risa masuk ke dalam jubahku.


Karena merasa ada langkah orang-orang yang berjalan ke arah kami. Dengan cepat aku pun langsung membawa Risa terbang ke atas. Lalu, aku terbang ke arah pantai.


"Di mana lokasinya?" tanyaku pada Risa.


"D-di sana," jawab Risa sambil menunjuk ke suatu tempat.


*Dag dig dug.


Dag dig dug*.


Jantungku berdetak lebih kencang. Dan aku pun dapat merasakan detak jantung Risa dengan dadaku.


"Hoi-hoi, Ray! Ada apa ini? Jantungmu berdetak sangat cepat, di sini seperti gempa!" teriak Nishide.


"R-Ray," ucap Risa pelang dengan terbata-bata.


"Maafkan aku, kurasa ini ide yang buruk," ujarku sambil melepaskan peganganku atas Risa.


Alhasil, Risa pun terjatuh ke permukaan laut tanpa parasut.


"Aaaah!!!" teriak Risa.


"Eh? Risa!!" teriakku dari atas tanpa ada pikiran untuk meluncur ke bawah dan menangkapnya.


Brusssttt.


Setelah terjatuh, Risa pun tak mampu bangkit lagi.


"Risa?!" teriakku yang berusaha menanyakan keadaan Risa.


"Lah? Yang benar saja, masa putri Dewa Laut nggak bisa berenang?" tanyaku.


"Ris?" gumamku melihat Risa yang tak kunjung muncul ke permukaan.


"Risa!!" teriakku sambil meluncur ke bawah untuk mencari dan menolong Risa.


Brusst.


Aku masuk ke dalam air.


"Hah?" gumamku dengan mulut ternganga.


"Waaww ...," gumamku lagi yang berdecak kagum.


************


Apakah yang membuatku berdecak kagum? Tunggu kelanjutannya, yah😉.

__ADS_1


__ADS_2