
Oke, kembali lagi di waktu yang sebenarnya. Aku dan Risa sudah berhasil melepaskan diri dari tiang besi yang diikatkan oleh para iblis. Dan saat ini, para iblis pun tampak terbaring di tanah setelah terhempas karena terkena ledakan energiku tadi.
"Energi air, yah ...," gumamku sambil duduk di hadapan Risa karena kakiku sudah terasa lemas.
"Kalau benar begitu maka ... berarti aku jauh lebih hebat darimu, dong," ucapku tersenyum dengan menatap Risa.
"Haah, apa maksudmu?" tanya Risa lemas.
"Heh, otakmu udah dicuci, yah. Padahal biasanya kalau aku bicara begitu kau pasti sudah marah," ucapku memegang tubuh Risa.
"Hah? Kau pikir saat ini aku tidak marah?" tanya Risa lagi.
"Hem? Jika kau marah, biasanya akan sangat merepotkan," lirihku.
"Apa menurutmu aku yang sekarang ini tidak merepotkanmu?" tanya Risa.
"Hem? Apa maksudmu?" tanyaku lirih.
"Aku hanya ... menjadi bebanmu," jawab Risa.
"Heeh, biasanya kan juga begitu," ucapku mengejek Risa.
"Sialan kau, Ray. Tidak bisakah kau sedikit menghiburku? Aku ini juga wanita, loh. Hatiku juka bisa terluka karena ucapanmu itu," kata Risa dengan ekspresi kesal.
"Kau tahu, kau itu kuat. Karena itu, aku yakin ucapanku tadi tidak akan membuat hatimu hancur, tapi sebaliknya, ucapakanku tadi akan membuatmu menjadi lebih kuat," kataku lirih dengan tersenyum.
"Hah." Risa tampak lega dan senang mendengar perkataanku itu.
"Hem." Aku memegang kepala Risa dan lalu aku berdiri.
"Apakah aku salah, 'Ratu Koi'?" tanyaku menatap Risa yang masih duduk dengan lemas.
"Tidak," jawab Risa tersenyum kaku.
"Hoi, hoi, hoi! 'Ikan badut' jangan sombong dulu!" lantang iblis yang sebelumnya mengalahkanku sambil berdiri.
"Eh? Derajatku udah naik lagi, yah?" Aku mengaktifkan sabit jiwaku.
"Syukurlah, yah meskipun naiknya tidak terlalu tinggi, sih," kataku.
"Budak tak berguna, cepat bangun!" tegas iblis tadi memerintahkan para bawahannya untuk berdiri dan bersiap melawanku.
"Ray, apa rencanamu?" tanya Risa sambil berusaha untuk berdiri.
"Terus bernapas dan bertahan hidup," jawabku dengan tetap berfokus pada iblis-iblis yang ada di sekeliling kami dan membiarkan Risa berusaha berdiri sendiri.
"Menyebalkan," kata Risa pelan.
"Dengarlah, Risa. Aku tidak mau terus melindungimu, tapi aku juga tidak akan membiarkanmu terbunuh," bisikku.
__ADS_1
"Oh, ya. Jangan terlalu memaksakan diri, tenagamu sudah habis, kan? Saat aku bertemu dengan ayahmu dia terus-terusan menyuruhku pulang. Tapi sebaiknya kau saja yang duluan pulang," bisikku lagi.
"Yah, itu pun kalau jalan keluarnya memang ada, sih," batinku.
"Hem. Terima kasih atas nasihatnya. Tapi entah bagaimana tenagaku saat ini sudah pulih kembali, tidak, tapi sudah lebih kuat lagi. Dan rasanya aku sudah sanggup menghabisi mereka semua," ujar Risa.
"Sebaiknya kau saja yang pulang. Aku yakin kau sudah mengalami banyak hal sebelum sampai ke tempat ini. Benar, kan?" tanya Risa.
"Ya. Hal-hal yang merepotkan dan juga melelahkan," jawabku.
"Tapi maaf saja, aku tidak akan pulang," ujarku.
"Karena aku masih ingin mencoba jurus-jurus baru dari energi air ini," sambungku.
"Hohh," gumam Risa.
"Woi! Di sini bukan hanya ada kalian berdua!" teriak si pemimpin iblis di sini.
"Iya-iya," jawabku.
"Biar kujelaskan situasinya. Kau lihat di sana, kameranya masih aktif. Jadi apapun yang terjadi di sini, semuanya akan terlihat di videotron Kerajaan Air," jelas iblis tadi.
"Hehh." Risa membuang napas sambil menghadap ke arah yang berlawanan denganku, lalu mengaktifkan dua pedangnya yang modelnya sangat mirip dengan pedang milik Frans.
"Hooh. Kalau begitu bisakah kau ubah siaran ini menjadi 'remaja'? Karena nanti akan ada banyak aksi menyeramkan yang tidak cocok untuk anak-anak," kataku.
"Kau tidak perlu khawatir. Karena di sini ada 'ikan badut' yang akan menghibur anak-anak," sambung iblis itu membalas candaanku.
"Hem. Osh!" Teriakku sambil menghunuskan sabitku ke depan.
ZINGG.
Si pemimpin iblis mengaktifkan pedang tulangnya dan berjalan ke arahku.
"Jangan terlalu memaksakan diri," bisik Risa padaku.
"Jangan lupa untuk bernapas," balasku.
"Huhh." Aku dan Risa kemudian sama-sama menghela napas agar tidak terlalu tegang.
"Habisi mereka!" seru si pemimpin iblis memerintahkan kepada iblis-iblis bawahannya untuk menyerang kami berdua.
"Ghaa!!" teriak iblis-iblis tersebut sambil berlari atau pun terbang ke arah aku dan Risa.
"Osh," gumamku dan Risa bersamaan.
WHUSSH.
Setelah itu, secara bersamaan lagi, aku dan Risa melesat maju ke arah yang berlawanan untuk menghabisi musuh-musuh kami.
__ADS_1
Z**ingg, sringg, srakk.
Aku berhasil menghabisi puluhan iblis tanpa menggunakan satu jurus pun. Dengan energi air ini, aku merasa bahwa gerakanlu menjadi lebih mengalir, lincah, dan lentur.
"Kerenn, perbedaannya benar-benar terasa," pikirku.
"Kenapa kau hanya menyerang bawahanku?" tanya si iblis darah alias pemimpin iblis di sini dari.
"Jangan-jangan kau sudah takut untuk melawanku lagi," ucap iblis itu.
"Hah? Salahmu sendiri yang menyuruh bawahanmu untuk melawanku. Justru aku rasa kaulah yang takut melawanku, kau hanya berlindung di balik para bawahanmu," balasku.
"Cih. Ya! Kau benar!" teriak iblis tadi sambil melesat ke arahku.
Ctang, ctang, cting.
Kedua pedang iblis itu terus beradu dengan sabitku. Iblis itu terus melayangkan serangan-serangannya untuk menghabisiku, namun untungnya aku berhasil menangkis dan menghindari semua serangannya.
"Begitu, yah. Iblis ini tidak bisa menggunakan jurus pengendalian darahnya, jika dia tidak melihat darahku keluar secara langsung. Buktinya, saat ini dia masih menggunakan pedangnya untuk melawanku," pikirku sambil terus fokus menghadapi si iblis darah.
"Syukurlah. Entah bagaimana bagian tubuhku yang terluka tadi sudah beregenerasi," pikirku lagi.
"Hiaa!!" teriak si iblis darah menebaskan kedua pedangnya ke arahku dengan sekuat tenaga.
Namun karena aku sudah fokus dan waspada untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi, alhasil aku pun berhasil menghindarinya dengan melompat ke belakang.
"Mati kau!!" teriak iblis tadi lagi sambil melesat maju dan bersiap menebaskan pedangnya ke arahku lagi.
"Cih. Energi air, perisai air!" lantangku mencoba untuk mengeluarkan jurus dari energi air untuk pertama kalinya.
Dan ternyata, percobaanku berhasil. Jurus keren ini mengeluarkan perisai yang memiliki bentuk persis dengan perisai jiwa, namun warna hijaunya bergradasi dengan warna biru tua.
"Kereenn," kataku berdecak kagum.
"Bagaimana mungkin 'ikan badut' sepertimu memiliki dua energi dewa yang berbeda?" Si iblis darah tampak terkejut ketika aku berhasil menahan serangannya dengan jurus perisai air milikku.
"Hehehe," kekehku sombong.
"Sepertinya energi jiwaku perlahan-lahan kembali pulih. Karena masih ada warna hijau dalam perisai ini," pikirku.
"Osh. Energi jiwa, laser jiwa." Aku lalu menembakkan laser jiwa dari mataku untuk menyerang iblis tadi.
Namun sayang iblis itu berhasil menghindari seranganku itu dengan terbang ke udara.
"Siaall," gumam iblis itu menatapku dengan waspada.
"Heh. Bersiaplah iblis, kita akan melangsungkan pertarungan ulang! Dan ini adalah saatnya, 'ikat badut' akan menguasai 'Palung' Mariana!" lantangku sambil menghunuskan sabitku ke arah iblis tadi.
"Hahh?!"
__ADS_1