
"Tulang ikan, hah ... maka bersiaplah."
"Karena tulang ikan ini akan menusuk tenggorokanmu!" ucapku lantang sambil melesat ke arah iblis itu.
"Cih. Serang!" Iblis itu memerintahkan iblis-iblis lainnya untuk menyerangku.
"Energi jiwa. Tebasan tiga ratus enam puluh." Aku berhenti sejenak, lalu berputar mengeluarkan jurus tebasan memutarku.
Seranganku itu pun berhasil membuat beberapa iblis terpental. Namun karena jumlah pasukan iblis itu sangat banyak, keberhasilanku mengalahkan beberapa iblis tadi tidak berdampak besar.
Tapi, nenekku pernah berkata, "Sedikit demi sedikit, nanti menjadi bukit." Kurang lebih seperti itu.
Aku pun terus bertahan dan mengeluarkan jurus-jurusku untuk menyerang pasukan iblis itu. Namun jumlah mereka seakan-akan tidak pernah berkurang. Mungkin bukan hanya karena jumlah mereka yang banyak, tapi juga karena efek seranganku tidak terlalu berpengaruh pada beberapa iblis.
Kebanyakan dari iblis-iblis yang menyerangku kemungkinan tidak memiliki jurus apapun. Jadi, mereka tidak lebih dari monster-monster yang menjijikkan layaknya kotoran dinosaurus.
Namun, meskipun tidak memiliki jurus, iblis-iblis ini memiliki kekuatan fisik yang luar biasa. Dan karena keagresifan dan juga jumlah yang sangat banyak, mereka pun berhasil membuatku terdesak.
"Sial ... jumlah mereka tidak habis-habis," pikirku sambil terus bertarung.
"Ghaa!!" Tiba-tiba sesosok iblis menyerangku dari belakang.
"Agh!" Serangan iblis itu mengenaiku dan membuat keseimbanganku terganggu.
"Hahaha. Manfaatkan kesempatan ini!" teriak iblis yang memimpin iblis-iblis lain tadi.
Pasukan iblis itu pun terus menyerangku dengan brutal dan bar-bar.
"Ghaa! Ghaa!" Iblis-iblis itu terus berteriak dengan liur menyembur ke mana-mana setiap kali menyerangku.
"Sialan, kalian!" ucapku kesal.
"Aku ... tidak punya waktu ... aku harus menyelamatkan Risa," kataku.
"Energi jiwa."
"Tebasan tiga ratus enam puluh!"
"Tebasan jiwa!"
"Laser jiwa!"
"Sinar jiwa!"
Aku mengeluarkan semua jurus jiwa yang telah kukuasai untuk menghabisi pasukan iblis itu. Aku pun berhasil menghabisi hampir setengah dari semua iblis di tempat itu. Namun aku masih belum puas sebelum aku menghabisi semuanya.
"Huh, huh." Aku membuang napas berat karena energiku sudah hampir habis.
"Tunggu apa kalian?! Habisi dia!" bentak pemimpin iblis di sini untuk memberi perintah kepada iblis-iblis bawahannya.
"Ghaa!!" Iblis-iblis itu pun berusaha menyerangku yang sedang terbang di udara. Ada yang terbang, ada yang melompat, dan ada juga yang menyerangku dari bawah dengan menggunakan jurusnya.
"Sepertinya aku memang harus mengeluarkan semua sisa energiku untuk mengalahkam kalian," gumamku.
"Energi jiwa. Tebasan jiwa." Aku pun mengeluarkan beberapa jurus tebasanku untuk membuat jarak yang cukup jauh dari para iblis-iblis itu.
__ADS_1
"Hmm ...." Aku pun mengambil napas panjang.
"Eneri dewa. Kuasa ...." Aku tidak bisa berkonsentrasi untuk mengeluarkan energiku.
"Cih. Dasar tidak berguna!" Tiba-tiba pemimpin iblis di tempat ini melesat dan berusaha menebasku dengan pedang yang timbul dari dalam tangannya.
Beruntung, aku berhasil menghindari tebasan iblis itu. Namun, serangan iblis itu membuatku gagal untuk mengeluarkan jurus terkerenku. Dan serangan itu juga sekaligus membuat keseimbanganku terganggu.
"Sial ...," gumamku.
"Cepat! Manfaatkan situasi!" perintah iblis yang mencoba menebasku tadi.
"Ghaa!!" Lalu, iblis-iblis lainnya pun kembali melesat dan menyerangku.
"Aagh!!"
Aku tidak sempat menghindar atau pun mengeluarkan jurus pertahananku. Sehingga iblis-iblis itu dapat menyerangku seenak perut mereka.
BAG BIG BUG.
SRAK, SRAK, SRAK.
SRINGGG.
Iblis-iblis itu memukul, mencakar, dan juga menembakkan berbagai jurus ke arahku. Sehingga membuatku tak berdaya.
GDEBUKK.
Aku pun terpental ke bawah. Seluruh tubuhku terasa sakit. Dan tenagaku juga sudah habis.
Suara itu terdengar sama dengan suara dari Risa. Aku pun menoleh ke belakang dan ternyata benar, Risa terikat di sebuah tiang besi beberapa meter di belakangku.
"Kau ... bantuin woi," gumanku dengan perasaan lega.
"Hoi." Tiba-tiba ada yang menendangku dari depan saat aku melihat ke Risa.
Aku pun terpental lagi ke belakang.
"Kau ...." Saat aku melihat ke depan aku pun tahu bahwa yang menendangku adalah iblis yang sama dengan yang mencoba menebasku tadi, dan juga iblis itu juga sama dengan yang muncul di videotron.
"Ray ... kenapa ... kau yang datang ke sini?!" tanya Risa dengan suara keras.
"Berisik," gumamku.
"Kau pikir dewa sekaligus ayah sialan itu mau menyelamatkanmu? Kalau bukan aku, siapa lagi?" tanyaku dalam hati.
"Tapi percayalah, Risa. Saat ini ... aku pasti ... tidak bisa menyelamatkanmu," pikirku.
Tuk, tuk, tuk, tuk.
Iblis yang menendangku tadi berjalan dengan santai ke arahku.
"Cih." Aku pun berusaha untuk berdiri.
Saat aku baru setengah berdiri, iblis tadi tiba-tiba sudah berada di hadapanku dengan tersenyum. Iblis itu kemudian langsung memegang kepalaku, lalu dia menariknya ke bawah sementara dia mengangkat lututnya ke arah kepalaku.
__ADS_1
BUKK.
"Ugh." Alhasil, wajahku pun berbenturan dengan lutut iblis itu.
"Ohh, punya muka, yah." Iblis itu lalu menendang kepalaku dengan kaki yang sama dengab kaki yang lututnya tadi ia benturkan dengan kepalaku.
"Jawab aku. Kenapa kau datang kemari? Di mana Seisu?" tanya iblis itu dengan menginjak tubuhku.
"Hahh, kau tahu, aku tidak bisa menjawab dengan keras. Jadi bisakah kau sedikit merunduk?" tanyaku pada iblis itu untuk memintanya menunduk.
"Ohh, kau benar. Sebaiknya aku duduk saja." Iblis itu pun duduk di depanku dan dia menyingkirkan kakinya dari tubuhku.
"Nah, sudah. Sekarang jawablah," pinta iblis itu.
"Ya," jawabku.
"Heh, terima kasih, yah," batinku.
Sejak aju terjatuh dari udara tadi, aku mulai memusatkan seluruh energi jiwaku yang tersisa sangat sedikit ke arah tangan kananku. Dan saat ini, jumlah yang terkumpul sudah cukup untuk membuat iblis terpental.
Dengan kedua kaki dan juga tangan kiriku, aku mendorong tubuhku ke depan untuk memukul iblis itu. Meskipun aku tidak tahu apa yang dapat kulakukan setelah membuat iblis itu terpental. Namun setidaknya aku tahu seranganku ini dapat mengenainya.
"Heh." Namun aku salah, iblis itu tersenyum saat ia melihat aku akan memukulnya.
TSUKKK.
"Ugh." Iblis itu memunculkan tulangnya yang membentuk pedang dan menusukkannya ke perutku sebelum pukulanku berhasil mengenainya. Pukulanku tadi hanya menciptakan angin sepoi-sepoi di sekitar kami.
"Ray!!" teriak Risa yang terikat.
"Wahhh. Darah ...!" Iblis itu tampak sangat senang melihat darah yang keluar dari dalam perutku.
Iblis itu lalu menarik pedangnya sekaligus mendorong kepalaku ke belakang.
"Hmm." Iblis itu mencium bau darahku.
"Huooh. Kau ... manusia?" tanya iblis itu.
"Ya," jawabku pelan.
"Kenapa kau tampak ragu?!" tanyaku sambil mencoba untuk menyerang iblis itu meskipun aku tahu aku sudah tidak berdaya untuk melawannya.
BRUSHHH.
Iblis itu mengarahkan salah satu tangannya dengan keadaan terbuka ke arahku. Dan entah bagaimana, tiba-tiba darah yang keluar dari perutku bertambah banyak. Darahku pun keluar dengan sangat deras.
"Aaaaagh!!!" teriakku merasa sangat-sangat kesakitan.
"Huwahhh. Menarik sekali ...," ucap iblis itu dengan mata yang bersinar seperti orang stres.
"Hentikan," ucapku pelan.
"Baiklah. Seperti yang kau minta," ucap iblis itu dengan tersenyum seperti orang gila.
Iblis itu lalu mengepalkan tangannya tadi. Dan entah bagaimana lagi, seluruh tubuhku hancur dan menyemburkan cairan merah yang kental.
__ADS_1
"Aaagh!!" teriakku kesakitan.