
Sebelumnya, aku dan Risa dihukum skors oleh Bu Isabella karena kami bolos sekolah.
*****
Di depan gerbang sekolah.
"Duhhh! Apa yang harus kulakukan saat aku tidak boleh sekolah?!" ucap Risa kesal sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Kenapa kau tidak kembali saja ke istanamu?" usulku.
"Kau bercanda?" tanya Risa menatapku.
"Aku kan sudah bilang ... aku tidak diterima di sana. Karena aku hanya dianggap sebagai iblis," gumam Risa.
"Yah, siapa tahu anggapan mereka tentangmu sekarang sudah berubah," ujarku.
"Cih. Aku yakin tidak, mereka akan tidak akan pernah menerimaku. Bagi mereka, termasuk ayah, aku adalah anak dari iblis," kata Risa sambil berjongkok.
"Ditambah lagi ... aku satu-satunya makhluk dari Kerajaan Air yang tidak bisa mengndalikan ataupun mengeluarkan jurus air," sambungnya.
"Ohh, pantas saja kau tidak menggunakan jurus apapun untuk melawanku kemarin," ejekku.
"Huhh." Risa hanya membuang napas berat. Mungkin karena mendengar ejekan dariku.
"Hmm ... hahhh." Aku menghela napas sejenak.
"Kita akan pergi ke sana!" tegasku.
"Sudah ku ...," ucap Risa sambil menatapku. Namun, ucapannya langsung terhenti.
"Kita?" tanya Risa sambil menatapku heran.
"Ya," jawabku.
"Aku juga akan pergi ke sana. Aku membutuhkan bantuan dari prajurit Kerajaan Air untuk melindungi Bumi dan mengalahkan si Hozai," ujarku sambil menatap Risa.
"Tap-" ucapan Risa langsung kupotong.
"Dihitung-hitung bisa juga dianggap sebagai liburan saat diskors," potongku.
"Dan aku membutuhkan seorang pemandu wisata di sana," sambungku sambil berjongkok menghadap Risa.
"Aku tidak pernah ke sana sejak usiaku sepuluh tahun," gumam Risa sambil menunduk.
"Yah, setidaknya itu lebih baik jika dibandingkan denganku yang bahkan tidak pernah ke sana sama sekali," kataku yang mendengar gumaman Risa.
"Huhh." Risa membuang napas sejenak.
"Ya, baiklah. Besok, kita akan pergi ke Kerajaan Air," kata Risa menatapku.
Mendengar ucapan Risa dan melihat ekspresinya yang tampak serius, aku pun tersenyum.
"Ya, besok," kataku pada Risa.
"Em." Risa mengangguk.
"Nishide, bagaimana menurutmu?" tanyaku pada Nishide dalam hati.
" Ya. Pergi ke Kerajaan Air untuk meminta bantuan adalah ide yang bagus," jawab Nishide.
"Yosh," batinku.
"Woi! Kenapa kalian masih di sana? Kalian dihukum, kan? Cepat pergi!" bentak Pak satpam sekolah kami.
__ADS_1
"Iya-iya," jawabku dan Risa dengan lesu.
Lalu, kami berdua pun berdiri dan kemudian berjalan ke arah yang berlawanan untuk pulang ke rumah kami masing-masing.
Saat kami bersebelahan. Aku berkata, "Jangan lupa, yah," gumamku mengingatkan Risa.
"Ya," gumam Risa menjawabku.
*****
Aku pun terus berjalan hingga akhirnya sampai ke rumahku alias rumah keluargaku. Aku melihat jam dengan jam tangan yang kupakai dan terlihat di sana sekarang masih pukul sembilan lewat empat puluh lima.
Dan seharusnya, tidak ada seorang pun di rumahku saat ini. Namun tanpa kuduga, ternyata ada motor ayahku sedang terparkir di halaman rumah kami.
"Apa?" gumamku terkejut.
Aku lalu menghadap ke belakang dan ingin berlari untuk pergi dari sana. Namun, sepertinya alam tidak berkehendak.
Kreek.
Pintu rumahku terbuka.
"Ray? Kenapa kau di sini?" tanya seorang laki-laki yang aku yakin adalah ayahku.
Perlahan-lahan, aku memutar leherku untuk melihat ke belakang.
"Eh, ayah," ucapku tersenyum.
"Kenapa kau tidak di sekolah? Kau bolos, yah?" tanya ayahku dengan ekspresi marah.
"I-iya ... kemarin. Dan sekarang aku diskors," jawabku pelan.
"Hahaha?" Nishide tertawa terbahak-bahak.
"Sialan kau, Nishide!" batinku kesal.
"Eh?" gumamku heran.
"Huhh. Syukurlah ...," batinku.
"Sudahlah, ayah lagi sibuk. Ayah mau balik lagi ke kantor. Renungkanlah kesalahanmu dan gunakan waktu hukuman skorsmu sebaik mungkin!" tegas ayahku sambil menaiki motornya.
"Iya," jawabku pelan sambil tersenyum.
"Ayah pergi dulu. Jaga rumah, yah!" tegas ayahku sambil mengendarai motornya.
Kali ini aku tidak menjawab perkataan ayahku. Aku hanya tersenyum sambil melihat ke arahnya yang terus menjauh dariku dengan motornya.
Beberapa detik kemudian, aku berjalan ke arah pintu rumahku dan langsung membukanya. Setelah masuk ke rumah, aku langsung berjalan menaiki tangga untuk memasuki kamarku.
"Gunakan waktu hukuman skorsmu sebaik mungkin," gumamku mengulangi ucapan ayah.
"Baiklah. Aku akan memanfaatkannya sebaik mungkin, dengan bernapas untuk bertahan hidup. Tidak ada kegiatan yang lebih bermanfaat dari pada hal itu," gumamku lagi.
"Huhh." Aku mendengar Nishide membuang napas. Mungkin karena ucapanku tadi.
Saat ingin membuka pintu kamarku. Aku langsung tertegun. Karena ternyata.
"Aku tidak punya pintu kamar," gumamku kesal.
"Baiklah, sebelum bernapas aku akan memperbaiki pintu kamarku," batinku sambil berjalan masuk ke kamar sambil terus bernapas.
"Hoi, Ray. Kau tetap bisa bernapas selama memperbiki pintu kamarmu!" ujar Nishide yang sepertinya kesal.
__ADS_1
"Berisik," batinku.
"Huhh." Nishide membuang napas.
Setelah mengganti pakaian, aku pun langsung mengambil alat dan memperbaiki pintu rumahku.
"Lagian, kenapa pintu kamarmu bisa terlepas gini?" tanya Nishide.
"Asal kau tahu, pintu rumahku juga memiliki 'Dewa Kematian' sendiri," jawabku.
"Hah? Maksudmu?" tanya Nishide heran.
"Dewa Kematian pintuku adalah Mia, adikku," jawabku lagi.
"Cihhahhahahah," tawa Nishide dengan terbahak-bahak.
"Huhh, aku rasa memperbaiki ini juga percuma. Pasti nantinya pintu ini akan kembali dicabut nyawanya," pikirku.
"Hem-hem," gumam Nishide. Aku sendiri tidak tahu maksud gumamannya itu apa.
"Tapi setidaknya ... pintu ini bisa menjadi pelindung pertamaku sebelum Mia menghacurkan alat masa depanku," batinku.
"Hem-hem. Eh? Masa depan? Memangnya adikmu itu sekuat apa sampai-sampai dia bisa menghacurkan masa depan?!" tanya Nishide heran.
"Makhluk seperti dirimu tidak akan tahu," batinku menjawab pertanyaan Nishide.
"Huhh. Ya, sudahlah. Tapi mulai sekarang kau harus waspada kepada adikmu itu!" tegas Nishide.
"Heh. Ya, dari dulu juga aku selalu waspada dengannya," batinku sambil tersenyum.
"Kau harus meningkatkannya! Karena jika masa depanmu itu hancur, maka Bumi ini juga akan hancur," ujar Nishide.
"Hah. Kau ini beneran dewa bukan, sih? Aku tambah ragu, loh," batinku.
"Hem." Nishide hanya bergumam seperti itu. Dan setelah itu, dia tidak berbicara lagi sampai aku menyelesaikan pekerjaan memperbaiki pintu kamarku.
*****
"Huhh." Aku membuang napas berat sambil menjatuhkan diri ke kasur.
"Tidur, ah," gumamku sambil membelokkan badan.
"Hoi, Ray. Bukannya tadi ayahmu bilang kau harus menjaga rumah ini?" ucap Nishide mengingatkanku.
"Huhh. Padahal tadi aku sudah hampir lupa dengan itu," gumamku kesal.
Aku lalu bangun dan kemudian pergi ke bawah untuk menonton televisi.
*****
Besok pagi.
"Huahhh." Aku meregangkan tubuhku saat baru saja terbangun dari tidur.
Hari ini, aku bangun sedikit lebih siang karena hari ini aku tidak pergi ke sekolah. Aku lalu melihat jam dinding di kamarku dan saat ini jam itu menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Sekarang Mia pasti sudah pergi ke sekolahnya.
"Yosh. Hari ini aku akan berwisata ke istana dewa," batinku bersemangat.
"Permisi, Ray! Yuk, pergi!" teriak seorang wanita memanggil namaku. Dan aku yakin wanita itu adalah Risa.
"Hah?" gumamku terkejut.
"Ohh, sial! Aku memang sangat bersemangat untuk pergi, tapi tidak sekarang juga, dong!" ucapku kesal.
__ADS_1
Namun entah kenapa, tubuhku langsung berdiri dan berjalan ke bawah untuk menemui Risa. Namun, aku sangat terkejut ketika melihat Mia sudah terlebih dulu keluar dan menemui Risa.
"Wahh ... pacarnya kakak, yah?!" tanya Mia dengan nada penuh semangat dan rasa penasaran.