Pewaris Dewa Kematian

Pewaris Dewa Kematian
Pertarungan di Depan Istana


__ADS_3

Sebelumnya, aku telah berhasil membeli pakaian yang bisa aku dan Risa gunakan untuk menyamar. Lalu, aku pun kembali ke atas jembatan tempat Risa menunggu.


Namun, saat aku sampai di sana, Risa sudah tidak ada. Di mana dia? Ya, aku yakin Risa dibawa ke istana.


*****


"Huhh." Aku menghela napas sejenak.


"Ayo. Nishide," gumamku sambil berlari menuruni jembatan itu.


"Sialan kau ...," gumamku kesal.


"Dewa Seisu!!" teriakku.


"Hoi, Ray! Jangan berteriak! Nanti orang-orang curiga!" teriak Nishide.


"Kau yang berisik!!" balasku.


*****


Saat sampai di Kerajaan Air, atau lebih tepatnya setekah menuruni jembatan tadi. Aku pun langsung berlari ke Istana Air sambil membawa jubah yang talah kubeli tadi dengan tanganku.


Beberapa saat kemudian, aku pun sampai di depan istana itu. Yah, sebenarnya tidak benar-benar di depan. Karena aku akan menyusup melalui sisi kanan istana. Dan di sana, ada dinding besar yang menjadi pagar penghalang bagiku untuk masuk ke istana


"Huhh. Aku harus menjelajah istana sebesar ini?" tanyaku tak percaya ketika melihat istana yang sangat besar dan megah itu.


"Ya, itulah satu-satunya cara," jawab Nishide.


"Yah, baiklah." Aku langsung mengaktifkan mode dewa.


Dan setelah itu, aku memakai jubah abu-abu yang baru kubeli. Sehingga, jika nantinya ada yang melihatku, setidaknya mereka tidak bisa melihat wajahku. Dan juga, mereka tidak akan menyadari bahwa aku adalah Dewa Kematian.


"Dewa Seisu, bersiaplah." Aku pun terbang ke atas pagar beton yang tinggi itu.


Saat sampai di atasnya, aku berhenti sejenak dan bersembunyi untuk mengamati kondisi penjagaan di dalam sana. Dan ternyata, hanya ada sedikit celah atau kesempatan bagiku untuk masuk ke dalam istana itu. Para prajurit dengan seragam biru muda menjaga halaman istana itu dari segala sisi.


"Sial ...," gumamku kesal.


"Yah, beginilah tingkat keamanan Istana Air," ujar Nishide.


"Jika aku mengalahkan salah satu dari mereka. Dan kemudian memakai seragamnya untuk menyamar, aku pasti akan ketahuan," pikirku.


"Ya, kau benar. Itu karena posisi mereka berjaga semuanya berhadap-hadapan," ucap Nishide.


"Huhh. Hehe," kekehku.


"Kalau sudah begini. Ya, main barbar aja," kataku dengan tersenyum.


Lalu, aku langsung terbang menuju istana. Namun, para prajurit di halaman itu langsung melihatku.


"Hoi! Siapa kau?!" teriak salah satu dari mereka.


"Cih. Cepat banget," gumamku.

__ADS_1


"Energi air. Penjara air!" teriak salah satu prajurit itu mengeluarkan jurusnya yang membuatku terkurung di dalam penjara dari air.


"Cih. Energi jiwa. Tebasan jiwa." Aku pun mengeluarkan satu-satunya jurus serangan yang kukuasai untuk menghancurkan penjara itu. Dan alhasil, penjara itu pun hancur dan aku berhasil bebas.


"Hah? Tidak mungkin!" kesal prajurit yang mengeluarkan jurusnya tadi.


"Hehe," kekehku sambil melesat ke arah prajurit-prajurit itu.


"Jurus air. Peluru air." Semua prajurit di sana menembakkan air yang berbentuk peluru senapan ke arahku.


"Hah?" Aku terkejut.


"Fokuslah! Dan keluarkan jurus perisai!" tegas Nishide.


"Huhh. Energi jiwa. Perisai jiwa." Aku berkonsentrasi dan tiba-tiba saja keluar perisai besar yang transparan namun juga mengeluarkan sinar hijau di hadapanku.


Perisai itu menahan semua peluru yang ditembakkan prajurit-prajurit tadi sehingga tidak ada satupun yang berhasil mengenaiku.


"Keren ...," gumamku takjub.


"Energi jiwa. Tebasan jiwa." Aku mengeluarkan jurus berupa sinar hijau yang berbentuk sesuai dengan arah tebasanku dari sabit jiwa.


"Sial!" ucap salah satu prajurit yang kesal.


"Energi air. Perisai air!" teriak beberapa prajurit mengeluarkan jurus pertahanan mereka yang kemudian berhasil menahan seranganku.


"Cih. Masih belum!!" teriakku sambil terus melesat ke arah mereka.


"Sabit jiwa ...," gumamku berkonsentrasi menyalurkan energiku kepada sabit jiwa.


"Hiiaa!!" teriakku sambil menebaskan sabitku ke arah jurus perisai air dari prajurit-prajurit tadi.


Dan syukurlah tebasanku itu berhasil menghancurkan perisai mereka tadi.


"Hah?" Mulut prajurit-prajurit itu terbuka lebar.


"Sekarang belum saatnya untuk takjub," ucapku ketika mendarat di tengah-tengah kerumunan prajurit itu.


"Hajar dia!" teriak salah satu prajurit sambil melesat ke arahku.


Lalu, prajurit-prajurit lainnya pun ikut melesat untuk menyerangku.


"Hih." Aku tersenyum sejenak.


"Energi jiwa. Tebasan tiga ratus enam puluh." Aku berputar sambil memegang sabitku yang mengeluarkan sinar hijau sama seperti jurus tebasan jiwa.


Namun bedanya, yang kali ini sinar itu keluar dengan bentuk lingkaran sempurna yang sesuai dengan putaranku. Dan akhirnya, seranganku itu berhasil mengenai para prajurit tadi sehingga membuat mereka terpental.


"Aggh!" teriak prajurit-prajurit yang terkena seranganku tadi.


"Hehe. Jurus buatanku hebat, kan?" Sombongku pada Nishide dalan hati.


"Itu tadi hanya tebasan jiwa yang biasa, kau saja yang terlalu mendramatisir," jawab Nishide.

__ADS_1


"Eh?" gumamku terkejut.


Rasanya seperti ada batu besar yang tiba-tiba menimpaku.


"Hoi, kau sialan! Jangan lega dulu!" tegas prajurit-prajurit lain yang belum kukalahkan dengan melesat untuk menyerangku dari jarak dekat.


"Heh. Aku rasa sekarang saatnya menggunakan kemampuan asliku," batinku.


"Mati kau!" teriak salah satu dari mereka sambil menghunuskan pedang ke arahku. Namun beruntung aku berhasil menghindar.


"Cih. Aku tidak akan mati semudah itu." Aku langsung melakukan serangan balik dengan menebaskan sabitku ke arahnya. Sehingga membuat prajurit itu terpental.


Namun, ini belum berakhir. Masih ada empat prajurit lagi yang harus kulawan. Dan saat ini, salah satu dari mereka sudah berada di atas sebelah kiriku. Aku sempat terkejut, tapi aku berhasil menghindar dengan meloncat ke belakang.


"Cih. Sialan kau!" kesal prajurit itu sambil melesat untuk menyerangku lagi.


"Nishide. Adakah jurus sederhana yang bisa kugunakan untuk menyerangnya?" tanyaku dalam hati pada Nishide.


"Salurkan energi ke matamu dan fokus menatap targetmu. Lalu, keluarkan energi itu melalui kedua matamu. Maka, akan muncul sinar laser dari sana," jelas Nishide.


"Baiklah. Salurkan energi ke mata, fokus pada sasaran ...," batinku sambil terus menatap prajurit yang sedang melesat ke arahku.


"Lalu tembak!" teriakku.


Dan tiba-tiba, mataku mengeluarkan sinar laser yang melesat ke arah prajurit tadi.


"Hah?" Prajurit itu tampak terkejut.


"Aggh!" teriak prajurit itu karena terkena sinar laserku.


Lalu, saat aku mengedipkan mata. Maka mataku tidak lagi mengeluarkan sinar laser itu.


"Haha. Rasakan itu!" teriakku mengejek prajurit tadi.


"Jurus tadi akan kunamai ... laser jiwa. Ehh, atau mata laser, atau mungkin laser mata? Mata laser jiwa?" tanyaku dalam hati.


"Hoi, Ray! Fokus dengan musuh di depanmu!" tegas Nishide.


Dan saat aku fokus, aku baru menyadari bahwa ternyata ada satu prajurit lagi yang mencoba menyerangku. Dia menembakkan jurus peluru airnya ke arahku.


"Heh. Energi jiwa. Perisai jiwa!" teriakku mengeluarkan jurus untuk menahan serangan prajurit itu.


Setelah aku berhasil menahan peluru airnya, prajurit itu langsung melesat ke arahku untuk menyerang dari jarak dekat. Aku pun tidak mau kalah, jadi aku juga melesat ke arahnya.


"Mati kau!!" teriak prajurit itu sambil bersiap untuk menebas tubuhku dengan pedangnya.


"Cih." Aku pun juga bersiap untuk menebaskan sabitlu ke arahnya.


Kami melesat ke arah yang berlawanan. Dan bersiap untuk mengadu tebasan kami.


TSIIINGGG.


Prajurit itu tadi menebaskan pedang ke depan. Namun sebelum dia menebas, aku sudah terbang ke atas untuk menyerangnya dari sana.

__ADS_1


"Hah? Apa?!" Prajurit itu terkejut ketika menyadari aku sudah berada di atasnya dan bersiap meluncurkan serangan.


"Energi jiwa. Tebasan jiwa." Aku pun mengeluarkan jurusku dan membuat prajurit itu tergeletak di tanah.


__ADS_2