
TSIIINGGG.
Sebuah sinar serangan muncul dan bergerak ke arahku. Sinar itu berwarna biru dan bentuknya sama dengan jurus tebasan jiwaku.
"Hah? Sial," gumamku.
"Ray, Menghindar!" teriak Nishide.
"Huhh. Tidak perlu," gumamku.
"Energi jiwa, tebasan jiwa!" teriakku mengeluarkan jurus untuk menghalangi serangan itu.
Alhasil, jurus tebasanku dengan sinar itu pun beradu dan menciptakan ledakan yang cukup hebat.
"Siapa kau?!" tanyaku keras.
SYUUTTTT.
Sesuatu yang sangat cepat bergerak ke arahku. Dan ternyata, sesuatu itu adalah seorang laki-laki dengan membawa 2 pedang panjang, mirip dengan yang digunakan oleh Risa.
Zriinggg.
Dia mengarahkan kedua pedang itu kepadaku. Namun beruntung, aku berhasil menahannya dengan sabitku.
"Sst. Jangan berteriak di sini, atau ayahku akan menghabisimu," ucap pria itu dengan pelan.
"Lagi pula harusnya aku yang bertanya! Siapa kau?!" tanya pria itu dengan lantang sambil menambah kekuatan dorongan pada pedangnya sehingga membuatku termundur cukup jauh.
"Hiih." Aku mambuang napas sambil tersenyum kaku menatap pria itu.
Walaupun pria itu tidak bisa melihat wajahku.
"Aku ... hanya sesosok makhluk dari permukaan," kataku menjawab pertanyaan pria itu.
"Ohh, sabit itu. Biar kutebak, kau pasti mantan prajurit Nishide, kan?" tanya pria itu lagi.
"Hah? Nishide? Nama aneh macam apa itu?" tanyaku.
"Hah? Aneh?" Nishide bergumam dengan nada kesal.
"Cih. Dasar penyusup. Apa tujuanmu datang kemari?!" tanya pria itu lantang sambil melesat ke arahku.
Zringgg.
Lagi-lagi sabitku dan pedang pria itu beradu.
"Berisik! Jangan banyak tanya!" bentakku.
"Energi jiwa. Laser jiwa," gumamku mengeluarkan jurusku.
Aku mengarahkan jurus itu tepat ke arah kedua mata pria itu. Namun sayang, dia berhasil menghindar.
"Egh." Pria itu mendorong tubuhnya sendiri ke belakang dengan pendangnya untuk menghindari seranganku.
"Heh. Boleh juga," kata pria itu.
"Kau juga tidak terlalu buruk," kataku dengan nada mengejek.
"Sialan, kau!!" teriak pria itu kesal.
"Energi air. Tusukan pusaran air!" teriak pria itu mengeluarkan jurusnya.
__ADS_1
Dia mengunuskan kedua pedangnya ke udara. Lalu, dari setiap pedang itu muncul satu pusaran air yang kemudian memanjang dan bergerak ke arahku.
"Cih," gumamku dengan tersenyum kaku.
"Energi jiwa. Perisai jiwa." Aku mengeluarkan jurus untuk menahan serangan dari pria itu tadi.
Aku berhasil menahan jurus serangannya. Meskipun aku merasa cukup kesulitan.
"Cih," gumamku sambil terus bertahan dengan jurusku.
"Hiaaa!!!" teriak pria itu menambah kekuatan jurusnya.
"Sial, padahal tadi dia yang menyuruhku untuk diam. Tapi dia sendiri berisik," batinku.
"Rasakan ini!!" teriak pria itu lagi sambil merapatkan jarak kedua pedangnya sehingga membuat kedua jurus pusaran air tadi bersatu dan mejadi lebih besar.
"Hah?" Aku terkejut dan tidak bisa menahan kekuatan jurus pria itu.
Alhasil, aku pun terpental beberapa meter ke belakang.
"Ke-ren," gumamku.
"Siapa sebenarnya orang ini? Apa dia Dewa Seisu? Tidak, tidak mungkin, penampilannya terlalu muda untuk dewa yang sudah berusia ratusan tahun. Apalagi tadi dia menyebut seseorang dengan panggilan ayah," pikirku.
"Nishide, apa kau tahu siapa dia?" tanyaku dalam hati.
"Ya, aku tahu. Dia adalah Frans Silva, adik laki-laki dari Clarissa," jelas Nishide.
"Frans, yah. Eh? Tunggu! Adik?" gumamku terkejut.
"Tapi, kok nama belakangnya beda?" tanyaku.
"Ehh, begitu yah rupanya," batinku.
"Heh ... huhh ... hoi, kenapa kau tidak bangun lagi?!" tanya Frans keras sambil membuang napas berat.
"Sudah menyerah, yah?" tanya Frans lagi dengan nada ejekan.
"Aku diam saja hanya agar kau punya waktu untuk istirahat," balasku sambil berdiri.
"Cih. Jangan meremehkan diriku!" lantang Frans sambil melesat ke arahku.
"Jadi dia lebih muda dariku, yah? Kalau begitu, aku tidak bisa kalah!" pikirku semangat.
"Energi jiwa. Sabit jiwa." Aku membuat ujung sabitku bersinar hijau yang menjadikan sabit itu menjadi lebih kuat.
Zringg zringg zringg.
Sabitku pun terus beradu dengan kedua pedang Frans. Hal itu terjadi karena kami bertarung dari jarak dekat dengan menggunakan senjata masing-masing. Dan karena itu pula, penutup kepala dari jubah abu-abuku terbuka dan membuat Frans bisa melihat wajahku.
"Hah? Manusia?!" Frans tampak terkejut sekaligus heran.
"Siapa kau? Tidak ada satu pun roh jiwa yang memiliki wajah," ujar Frans.
"Atau mungkin kau adalah ... iblis?" tanya Frans.
"Aku? Aku hanya sesosok makhluk kecil yang tidak berdaya di dunia ini," ujarku.
"Hihh. Ya, kau benar," kata Frans dengan sedikit menunduk dan tersenyum kaku.
"Kau tidaklah berdaya untuk melawanku!!" lantangnya sambil mendongak ke atas.
__ADS_1
"Cih," gumamku sedikit terkejut dan takut.
"Mati kau!!" teriak Frans dengan melesat ke arahku.
"Energi jiwa. Laser jiwa." Aku mengeluarkan jurus laser dengan mataku. Namun sayang, Frans berhasil menghindar dan dia terus bergerak maju ke arahku.
"Energi air ...," Frans mencoba untuk menyerangku dengan jurusnya.
Namun beruntung, aku berhasil mendahuluinya dengan mengeluarkan jurusku.
"Energi jiwa, sabit jiwa!" lantangku sambil menebaskan sabitku (scythe-ku) yang sudah bertambah kekuatannya ke tubuh Frans.
Alhasil, Frans pun terpental cukup jauh ke belakang.
"Egh." Frans yang terpental tadi pun juga sempat terjungkal-jungkal saat ia terjatuh.
"Sialan ... kau ...," ucap Frans kesal sambil menatapku.
"Hehe. Makasih," ucapku sambil tersenyum seakan-akan aku senang dengan ucapan Frans dengan niat untuk memprovokasi dirinya.
"Sialan kau!!" bentak Frans kesal.
"Hahaha," tawaku dengan meletakkan kedua tangan di pinggang dan mendongak ke atas.
"Huhh." Frans tampak sedang mengatur napasnya setelah ia berdiri.
"Energi air. Tusukan pusaran air!" teriak Frans mengeluarkan jurusnya untuk menyerangku.
"Jurus itu lagi. Nishide, bantu aku," pintaku pada Nishide dalam hati.
"Kali ini kau tidak perlu menggunakan sabit jiwa. Kau hanya harus berkonsentrasi mengeluarkan energi jiwa dari kedua tanganmu," jelas Nishide dengan cepat.
"Aku mengerti," balasku sambil menonaktifkan sabitku.
"Huhh. Energi jiwa, sinar jiwa!!" teriakku mengeluarkan jurus yang dijelaskan oleh Nishide tadi dengan nama yang asal kubuat sendiri.
"Hiaa!!" teriakku dan Frans bersamaan untuk menambah kekuatan pada kedua jurus kami yang beradu.
Seisi lorong itu pun menjadi sangat terang karena cahaya yang ditimbulkan dari jurus kami yang beradu itu.
"Mati kau!! Iblis!!" teriak Frans.
"Berisik!!" balasku.
DUAAARRR.
Jurusku dan juga jurus Frans yang beradu tadi pun menghasilkan ledakan yang cukup besar.
"Egh!"
Suara itu terdengar cukup keras, mungkin Frans sudah terpental ke belakang atau tepatnya ke arah pintu ruangan Dewa Seisu berada. Dan untungnya, aku masih tetap bisa berdiri meskipun hal itu terasa cukup sulit.
BRAKKK.
Sebuah suara yang mirip dengan suara saat Mia menendang pintu kamarku pun terdengar dari arah depanku. Atau arah di mana Frans terpental.
Dan ternyata, itu adalah suara pintu yang terbuka dengan keras dari dalam. Karena pintu yang besar itu terbuka cukup keras, alhasil hal itu membuat angin bertiup kencang dari sana. Dan hal itu membuat cahaya ledakan yang dihasilkan dari jurusku dan Frans tadi pun sirna seketika.
Dan perlahan lahan, aku mulai dapat melihat ke arah pintu itu dengan jelas. Dan aku melihat di sana, seseorang bertumbuh besar sedang menggenggam kepala Frans hanya dengan satu tangan.
"Dia ... Dewa Seisu ...."
__ADS_1