Pilihan Yang Sulit

Pilihan Yang Sulit
Kaget bukan main


__ADS_3

Di kediaman keluarga Nugraha, kini semua tengah menikmati santainya setelah beraktivitas.


Erganta selaku anak pertama, memegang kendali dalam tugasnya yang diembannya.


"Kamu gak berangkat ke acara pernikahannya di keluarga Gentasa? sudah jam berapa ini?" tanya sang ayah saat mengagetkan putranya yang tengah sibuk dengan layar laptopnya.


Kemudian, ia mendongak.


"Sebentar lagi aku selesai, Papa tidak perlu memikirkan hal itu. Kalau Papa tidak sabar, Papa bisa menyuruh Ergian atau Viktor, mereka juga bisa untuk diandalkan." Jawabnya dengan santai.


"Papa tidak membutuhkan mereka untuk berangkat temani Papa, tapi kamu." Ucap sang ayah.


Ergan pun mengangguk tanda mengiyakan.


"Baiklah. Aku akan bersiap-siap." Jawabnya dan membereskan meja kerjanya, juga mematikan laptopnya.


"Jangan lama-lama, Papa tunggu di bawah." Ucap sang ayah mengingatkan.


"Iya, Pa." Jawab Ergan mengangguk.


Setelah itu, Ergan kembali ke kamar untuk bersiap-siap dengan pakaian yang sederhana. Bahkan, tidak menunjukkan jika dirinya adalah pimpinan perusahaan dari keluarganya.


Ergan yang kerap dekat dengan sang ayah, semua tanggung jawab ada padanya. Berbeda dengan Ergian, sedikit sulit untuk dikendalikan.


Saat penampilannya yang sudah siap untuk berangkat, ia segera keluar dari kamar. Saat baru membuka pintu kamar, rupanya dikagetkan oleh ibunya.


"Mama, ngagetin aja." Ucap Ergan.


Sedangkan ibunya tengah memeriksa penampilan putranya yang terlihat biasa-biasa saja, meski tetap terlihat ganteng, menurut penilaian ibunya masih kurang sempurna, pikirnya.


"Kamu ini gimana sih. Mau menghadiri pernikahan dengan penampilan seperti ini. Ini mah penampilan nganter Papa, bukan menemani Papa." Kata sang ibu mengomentari penampilan putranya.


"Ma. Ini sudah bagus, tidak ada yang kurang. Mama jangan lebay deh. Lagi pula cuma menemani Papa, tidak ada calon istri ataupun istri." Jawab Ergan dengan protesnya.


"Kata siapa tidak ada calon istri, ha? Papa sudah siapkan calon istri untuk kamu. Makanya itu, Mama Minta sama kamu untuk berpenampilan yang elegan. Bukan berpenampilan semacam ini, Nak. Sekarang juga, cepetan ganti bajumu. Mama pinginnya kamu terlihat sempurna, meski banyak kekurangan, setidaknya sudah tampil sebaik mungkin." Ucap sang ibu.


"Calon istri? Mama sama Papa beneran mau menjodohkan aku dengan perempuan pilihan kalian?"


Ibunya mengangguk dan tersenyum.


"Mama sih belum bertemu, tapi Papa kamu sudah bertemu tadi di rumahnya. Katanya sih, calon istri kamu sangat cantik, juga masih muda, dia lulusan tahun ini, maksudnya kuliahnya. Kalau gak salah berarti satu umuran dengan Viktor." Ucap sang ibu menjelaskan.

__ADS_1


"Terserah Mama sama Papa saja. Kalau kalian bahagia dengan pilihan kalian, aku bisa apa? gak bisa apa-apa, 'kan? sekarang lebih baik Mama turun, nanti aku akan segera turun ke bawah." Jawab Ergan tiba-tiba terasa malas ketika mendengar soal perjodohan, sungguh benar-benar tidak diinginkan.


Namun, mau bagaimana lagi, dirinya sama sekali tidak bisa menolak, jugaan tidak mempunyai pacar atau kekasih, lantaran trauma ketika pacaran ditinggal selingkuh pikirnya.


"Ya udah kalau gitu, Mama sama Papa tunggu kamu di bawah. Ingat, pakai baju yang bener. Jangan seperti ini, oke." Ucap ibunya berpesan.


Ergan mengangguk dan bergegas masuk ke kamarnya.


Ketika sudah memberi saran kepada putra pertamanya, Ibu dari ketiga anak laki-laki segera turun ke bawah.


"Kak Ergan mana, Ma? gak jadi berangkat?" tanya Viktor saat tengah duduk santai di ruang keluarga.


"Lagi ganti baju, nanti juga keluar. Oh ya, Papa mana?"


"Ini Papa, kenapa?" Tuan Daman langsung menyahut saat baru saja keluar dari kamarnya.


"Kirain Mama sih Papa sudah berangkat, gak tahunya belum. Oh ya, Ergian mana?"


Ibunya pun teringat dengan putra keduanya.


"Biasa lah, Kak Ergian lagi sibuk dengan ponselnya kalau gak laptopnya." Sahut Viktor yang sudah mengetahui kebiasaan kedua kakaknya.


"Anak itu, pantes aja sulit dapetin jodoh." Gumam sang ibu saat mendengar jawaban dari Viktor.


"Jangan bengong, sana balik ke kamar mu." Ucap sang ayah mengusir putranya yang tengah duduk santai di sofa.


"Belum ngantuk akunya, Pa. Oh ya, Pa. Aku boleh tanya sesuatu sama Papa enggak? penting ini."


Tiba-tiba Viktor teringat dengan mobil ayahnya yang ada di depan rumahnya Vania.


"Boleh. Memangnya kamu mau tanya apa, Vik?"


"Tadi itu 'kan, aku lihat mobilnya Papa belok ke rumah besar, sesudah lampu merah belok kanan, nah ada rumah besar dengan halaman yang luas, dan juga pintu gerbangnya berwarna coklat dengan keemasan, itu rumah siapa ya, Pa? terus, tujuan Papa ke situ ada perlu apa ya?"


Dengan rasa penasaran, akhirnya si Viktor memberi berbagai banyak pertanyaan kepada ayahnya. Tentu saja, ibunya juga mendadak penasaran, yakni takutnya sang suami berselingkuh di belakangnya.


"Tadi tuh, Papa datang ke rumah calon istrinya kakak kamu, Ergan." Jawab sang ayah dengan sangat jelas.


Viktor langsung melotot saat mendengar jawaban dari ayahnya.


"Apa! calon istrinya Kak Ergan?"

__ADS_1


"Kenapa kamu menjadi heboh seperti itu, ha?"


Viktor dengan rasa sakit yang lebih menyakitkan lagi, susah payah mengatur napasnya yang terasa sesak sekaligus panas ketika mendengar jawaban yang sangat menyayat hatinya dari sang ayah.


'Van-Vania.' Batinnya dengan menyebut nama perempuan yang dicintainya itu, benar-benar membuat napasnya terasa sesak dan panas.


"Dah, aku dah siap." Ucap Ergan mengagetkan kedua orang tuanya, termasuk Viktor adiknya.


Seketika, Viktor langsung mengamati penampilan dari kakaknya yang terlihat begitu tampan dan juga keren. Siapa ngira, jika penampilannya bisa menarik pusat perhatian para wanita lain yang melihatnya, pikir Viktor yang sudah kena racun cemburu berat ketika melihat penampilan kakaknya.


"Sekarang juga, ganti bajumu, Kak. Aku tidak mengizinkan kamu datang ke acara pernikahan dengan penampilan kamu yang seperti ini, titik." Ucap Viktor yang tiba-tiba protes penampilan kakaknya yang terlihat keren dan wibawa.


Tentu saja, kedua orang tuanya maupun Ergan sendiri kaget mendengar aksi protes dari Viktor.


"Kamu ini kenapa sih, Vik? seharusnya kamu senang melihat penampilan kakak kamu ini."


Ibunya pun akhirnya bertanya pada Viktor.


"Tapi ini sangat berlebihan. Pokoknya sekarang juga ganti bajunya, atau lebih baik gak usah berangkat, titik." Ucap Viktor yang masih terus protes soal penampilan kakaknya.


"Terserah kamu. Ini juga Mama yang minta. Jadi, minggir lah kamu anak kecil." Jawab Ergan yang langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut.


BUG!


"Aw!" pekik Ergan kesakitan saat punggungnya dihantam oleh Viktor tanpa mereka tahu alasannya.


Saat itu juga, Ergan langsung memutarbalikkan badannya dan kini menghadap pada adiknya.


"Sudah sudah! kenapa kalian malah berantem? Viktor, kamu masuk ke kamar kamu. Untuk Ergan, jangan ladeni adik kamu. Sekarang juga, kamu cepat berangkat sama Papa. Cepat tinggalkan rumah ini, biar Viktor sama Mama." Ucap ibunya dan menarik paksa putra ketiganya.


Ergan yang merasa aneh dengan adiknya, pun menyimpan rasa penasaran dengan sikap adiknya yang sudah seperti orang kes_etanan, pikirnya.


Karena tidak ingin terjadi sesuatu antara kakak-beradik, Tuan Daman segera mengajak Ergan untuk segera berangkat. Sedangkan Viktor tengah di tarik paksa oleh ibunya untuk masuk ke kamarnya. Tentu saja, ibunya akan menginterogasi putranya.


"Katakan sama Mama. Ada masalah apa kamu sama Kakak kamu, Vik?" tanya sang ibu menyelidik.


Viktor masih dengan napasnya yang tidak beraturan, juga terasa panas ketika dirinya dapat mengetahui kebenarannya.


"Tidak ada apa-apa, mungkin karena terbawa suasana aja. Mama kalau mau istirahat, istirahat saja di kamar. Aku juga mau istirahat, mungkin aku terlalu lelah untuk hari ini." Jawab Viktor beralasan, karena tidak mungkin juga untuk berkata jujur, karena yang ada akan menambah masalah menjadi besar, pikirnya.


"Kamu yakin kalau kamu tidak apa-apa? napas kamu aja seperti sesak gitu. Kamu jangan membohongi Mama, lebih baik kamu katakan saja sejujurnya. Jangan kamu tutup tutupi masalah kamu, Nak." Ucap sang ibu yang merasa khawatir dengan putranya yang tiba-tiba berubah menjadi aneh, pikirnya.

__ADS_1


Viktor mengangguk, yakni memberi kode bahwa dirinya baik-baik saja.


__ADS_2