
Ketika mendengar seperti ada keributan, Ergian segera keluar untuk melihat keadaan di depan rumah.
Benar saja, rupanya ada kakak dan adik tengah ribut entah apa persoalannya.
"Tunggu, tunggu, tunggu. Ada apa ini? kenapa kalian ribut-ribut?"
Ergian pun langsung melontarkan pertanyaan kepada kakak dan adiknya yang terlihat seperti melakukan keributan.
Namun, bukannya menjawab pertanyaan dari Ergian, justru arah pandangannya Viktor dan Ergan langsung tertuju pada Ergian.
"Kau! pelaku sebenarnya." Ucap keduanya langsung menunjuk ke arah Ergian.
Ergian yang tidak tahu apa-apa, langsung melotot dan mengarahkan jari telunjuknya ke arah dirinya sendiri.
"Aku." Jawab Ergian sambil menatap kakak dan adik secara bergantian. Sedangkan Vania sendiri belum mengerti sama sekali.
"Ya! benar." Ucap Viktor dan Ergan bersamaan.
Saat itu juga, Ergan sama Viktor langsung mendekati Ergian yang masih berdiri penuh kebingungan, yakni yang tiba-tiba dituduh, entah apa permasalahannya.
"Jelaskan ke perempuan itu, siapa yang sudah menabrak dia? ayo jawab."
Keduanya pun menunjuk kembali ke arah Vania.
Ergan yang sudah dibuatnya kesal, langsung mencengkram bagian kerah bajunya sangat kuat, tentunya sampai-sampai kembarannya kesulitan untuk bernapas.
"Iya! aku ngaku, kalau aku yang sudah menabrak dia, puas." Jawab Ergian dan menoleh ke arah Vania.
Kemudian, Ergian mengalihkan pandangannya setelah kedua matanya saling bertemu satu sama lain.
Sedangkan Ergan sendiri masih mencengkram kerah baju milik saudara kembarannya.
"Sudah, 'kan? lepaskan tanganmu."
Ergan pun langsung melepaskannya. Setelah itu, Ergian mendekati Vania.
"Jaga diri kamu baik-baik setelah ini. Bisa saja, kamu yang akan terperangkap oleh mereka berdua." Bisik Ergian didekat daun telinga miliknya Vania, dengan sengaja untuk menakutinya.
Pastinya bergidik ngeri mendengarnya.
Sedangkan Viktor sendiri masih menyimpan rasa geram dan juga kesal saat teringat ketika mendapati Vania berada di atas tu_buh kakaknya. Napasnya pun terasa panas ketika dirinya terbakar api cemburu.
Vania sendiri hanya bisa diam karena bingung ketika menghadapi ketiga lelaki yang tidak tahunya ketiga-tiganya adalah kakak-beradik.
'Sial! mimpi apaan sebelumnya, sampai-sampai aku harus dipertemukan dengan tiga lelaki aneh macam mereka bertiga.' Batin Vania merasa aneh dengan apa yang tengah dihadapinya.
"Ada apa dengan kalian bertiga, Er?" tanya sang ibu kepada putra keduanya.
Ergian menunjuk kearah Viktor dan Ergan secara bergantian.
Setelah itu, Ergian langsung pergi dan kembali ke kamarnya dari pada harus melanjutkan perdebatan dengan kedua saudaranya.
__ADS_1
Sang ibu yang khawatir dengan ketiga putranya, langsung mendekatinya.
"Loh. Rupanya kamu? kok, gak ada yang ngajakin masuk? apakah kalian bertiga sedang merebutkannya?"
"Bukan itu, Ma."
"Terus, apa?"
"Tidak ada yang merebutkan saya, Tante. Kami hanya ada kesalahpahaman sedikit saja." Jawab Vania yang langsung menyambar sebelum Ergan dan Viktor menjawabnya.
"Oh. Tapi gak jadi saling adu jotos, 'kan?" tanya ibunya Viktor dan Ergan sambil melirik ke arah Ergan yang terlihat memar di kedua sudut bibirnya.
Ergan langsung berpura-pura batuk untuk alasan, dan saat itu juga, Ergan tersadar jika kedua sudut bibirnya habis mendapatkan luka alias tonjokan dari adik bungsunya.
Ergan cepat-cepat mengusapnya agar tidak ketahuan jika ada sedikit dar_ah yang masih tersisa.
"Jawab dengan jujur. Ada masalah apa dengan kalian ini? ayo jelaskan semuanya kepada Mama. Dan kamu Ergan, kenapa kamu bisa pulang tanpa bareng Papa, ha?"
"Tadi aku mabok waktu berada di acara pernikahan di keluarga Gentasa, dan Vania yang mengantarkan aku pulang karena aku takut terjadi sesuatu di sana. Juga, aku belum sempat pamit jika mobilnya aku bawa pulang." Jawab Ergan yang akhirnya berkata dengan jujur.
Tuan Robi yang baru saja pulang bareng calon besan, segera mendekatinya.
"Ada apa ini? kok rame-rame, ada apa dengan kalian bertiga?" tanya Tuan Robi yang baru saja datang bersama Tuan Daman dengan istrinya juga.
"Salah paham." Jawab Ergan yang langsung menyahut.
"Bukan. Tapi memang benar, dan tidak ada kesalahpahaman apapun kepada kita bertiga." Ucap Viktor yang juga langsung menyahut.
"Sebenarnya ada apa dengan kalian ini, ha? jangan membuat masalah kalian bertiga ini semakin runyam. Sekarang juga, ayo kita masuk dan selesaikan permasalahan di antara kalian bertiga. Juga, Ergian."
Istrinya Tuan Robi langsung mengajaknya masuk ke dalam rumah untuk menyelesaikan permasalahannya tidak dengan emosi, dan membutuhkan kepala dingin untuk memecahkan permasalahan. Namun sebelumnya, Ergan kembali ke kamar untuk mengenakan baju.
Saat sudah berada di ruang tamu, Tuan Robi meminta asisten rumah untuk memanggilkan Ergian untuk ikut menyelesaikan masalah yang tidak kunjung ada penyelesaian.
Kini, semua sudah seperti berada di ruang pengadilan, dan juga sudah seperti terdakwah saja, pikir mereka berempat.
Tuan Robi langsung angkat bicara.
"Jawab pertanyaan, dan dilarang memotong pembicaraan orang lain. Kalau sampai itu terjadi, maka keputusannya masalah selesai. Apakah kalian semua mengerti?"
Keempatnya hanya mengangguk tanpa bersuara.
"Ergan." Panggil sang ibu. Ergan langsung mendongak.
"Iya, Ma." Jawab Ergan dengan sikapnya yang tenang.
"Perempuan yang kamu bawa pulang ini siapanya kamu, Ergan?" tanya sang ibu penasaran, lantaran belum diberitahu oleh suaminya tentang sosok calon menantunya.
"Calon istrinya Ergan, putri dari Tuan Daman." Sahut Tuan Robi yang langsung mengatakannya dengan sangat jelas.
Seketika, Viktor maupun Ergian terkejut mendengarnya. Meski Viktor sendiri sudah mengetahui lewat tebakannya, namun ucapan dari ayahnya yang begitu jelas membuatnya terkejut dan terbakar api cemburu. Siapa yang mencintai dan siapa yang dijodohkan, pikirnya.
__ADS_1
"Jadi, dia ini calon istrinya Ergan? kenapa gak bilang dari tadi?"
"Gimana mau memberitahu kamu, Ma. Mama sendiri gak ikut. Tapi sekarang sudah tahu, 'kan? Vania namanya."
"Mama sudah tahu, juga sudah mengenalinya. Vania temannya Viktor di kampus." Ucap istrinya Tuan Robi.
Sedangkan Viktor sendiri terdiam dan memilih menunduk. Ibunya pun menoleh ke arah Viktor, tentunya memperhatikan sikapnya yang terlihat ada yang berbeda dengannya.
"Terus, luka yang ada dikedua sudut bibirmu itu kenapa?"
"Aku yang nonjok, karena aku gak terima jika Kak Ergan yang menikah dengan Vania. Makanya, aku tonjok dia." Sahut Viktor yang langsung pada pokok intinya.
"Kenapa, kamu menyukainya?" tanya Tuan Robi.
"Iya. Aku mencintai Vania sejak aku mengenal dia di kampus." Jawab Viktor langsung berkata jujur di hadapan semuanya, termasuk Ergian.
"Kamu mencintainya, tapi ambisi." Timpal Ergian ikut bicara, sedangkan Vania dan Ergan hanya diam, dan takut salah berucap.
Kedua orang tuanya Vania maupun kedua orang tuanya Viktor, kini sama-sama dibuatnya bingung. Dalam kesepakatan, Ergan lah yang dijodohkan sesuai putra tertua, alias pihak laki-laki yang tertua.
Namun, alangkah egoisnya jika Ergan tidak bisa menyikapi masalahnya dengan baik.
"Baiklah, aku yang akan mundur. Aku putuskan perjodohanku dengan Vania, dan juga akan diganti sama Viktor." Ucap Ergan memberi keputusan.
"Papa tidak setuju."
"Dari pada kalian semua ribut saling tarik ulur, dan ingin memilikinya, dan menjadi bahan rebutan, aku yang akan menikahinya." Ucap Ergian dengan entengnya.
Vania sendiri langsung melotot saat mendengar kalimat konyol yang keluar lewat mulutnya Ergian, lelaki yang sebenarnya sudah menabrak dirinya.
"Aku tidak setuju, Vania harus menikah denganku." Ucap Viktor bersikukuh atas kemauannya.
"Keputusan tetap di awal, Ergan yang akan menikah dengan Vania, titik. Ingat, keputusan ini tidak bisa diganggu gugat."
"Maaf, Tuan. Sebaiknya biar putri kami yang akan memberi keputusan, yaitu siapa yang dia pilih untuk menjadi suaminya. Lagi pula mereka bertiga siap untuk menikahi putri kami, tentunya tidak ada yang dikhawatirkan. Jadi, biarkan putri kami yang memilih pilihannya." Timpal Tuan Daman angkat bicara.
Vania langsung menoleh ke arah orang tuanya, terasa berat ketika diberi tugas untuk memilih, tentunya bukan hal mudah seperti mengambil undian.
"Van, aku mencintaimu dengan tulus." Ucap Viktor yang penuh harap jika Vania akan memilih dirinya.
Vania terdiam dan hanya tersenyum tipis padanya.
'Maafkan aku, Vik. Entah kenapa aku tidak bisa menaruh hatiku padamu. Aku hanya bisa menganggap dirimu sebatas teman, tidak lebih.' Batin Vania.
Kemudian, Vania mengarahkan pandangannya ke Ergian, lelaki yang sudah menabrak dirinya.
'Dia sangat misterius, dan ucapannya sulit aku cerna, antara gurauan, menakuti, atau benar adanya, aku sulit memahaminya. Tapi- aku sendiri penasaran dengannya.' Batin Vania yang tidak tahu harus pilih yang mana.
Setelah itu, arah pandangannya tertuju kepada Ergan, Vania bingung dibuatnya.
'Dia memang dingin sikapnya, tapi aku melihat kalau dia orang yang peduli. Tapi- aku juga tidak bisa menjamin kalau dia lelaki yang aku sangka baik.' Batin Vania yang dibuatnya dilema ketika diminta untuk memilih.
__ADS_1