
Vania terdiam ketika mendengar pengakuan dari Viktor yang tengah mengatakan cinta di hadapannya.
Menunduk, jalan satu-satunya hanya menunduk ketika wajahnya tak mampu untuk menghadap ke orang yang ada di hadapannya.
Saat itu juga, Viktor mengangkat dagu miliknya Vania, namun Vania langsung menipisnya.
"Maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bisa memberi keputusan untukmu sesuai yang kamu inginkan. Aku katakan tidak untuk menerima mu. Biarkan aku menuruti apa yang menjadi keputusanku. Jadi, aku berharap kepadamu, semoga kamu tidak marah dan kecewa. Kamu bisa memilih wanita lain, tapi bukan aku. Sekali lagi aku minta maaf." Jawab Vania yang akhirnya memberi keputusan kepada Viktor, meski keputusannya itu sangat menyakitkan untuk Viktor sendiri.
Dengan terpaksa, Viktor menerima jawaban dan keputusan yang diambil oleh Vania. Memaksakan kehendak sendiri tidak lah merubah kebahagiaan untuk Viktor sendiri.
"Tidak apa-apa jika kamu tidak bisa menerimaku. Setidaknya ucapan yang serius dariku ini dapat kamu dengar dengan jelas, dan juga kamu telah memberi jawaban tanpa di barengi senda gurauan. Aku tidak akan marah sama kamu, mungkin hanya kecewa saja. Jika memang kita tidak ditakdirkan untuk bersama, sejauh mana aku mengejarmu, tetap saja tidak akan bisa menjadi milikku. Aku doakan, semoga kamu dapatkan lelaki yang sesuai dengan kriteria kamu." Ucap Viktor panjang lebar, sedangkan Vania memilih diam, dan menganggukkan kepalanya.
Setelah sudah cukup ketika berbicara, dan tidak ada lagi yang perlu dibahas, Vania maupun Viktor, keduanya sama-sama segera turun dari mobil.
'Maafkan aku, Vik. Aku tahu jika jawaban yang aku berikan kepadamu ini sangat menyakitkan, aku tidak bisa mengelak, jika aku memang tidak bisa untuk menikah denganmu. Entahlah, aku hanya takut menjalin hubungan bersamamu, dan ketika kita ada masalah, yang terjadi akan saling membenci, tidak untuk menjadi penenangku.' Batin Vania saat baru saja keluar dari mobil.
"Hei! ngelamunin apaan sih kamu. Awas loh, entar ada kakak aku yang tiba-tiba muncul." Ledek Viktor meski hatinya terasa kecewa saat lagi-lagi selalu mendapatkan penolakan.
"Dih! amit amit deh ketemu sama kakak kamu yang super nyebelin itu. Jangan sampai juga punya suami macam dia." Jawab Vania bergidik ngeri membayangkannya.
Viktor hanya tersenyum mendengarnya.
"Ah sudah lah, ayo kita masuk. Perut aku udah lapar nih." Ajak Viktor masuk kedalam restoran.
'Padahal hubungan kita ini baik-baik saja. Tapi, kenapa kamu menolak cintaku, Van? padahal kamu sudah mengetahui siapa aku seperti apanya, tapi ya sudahlah. Mungkin butuh waktu untuk meyakinkan kamu. Aku hanya berharap, semoga kamulah jodohku.' Batin Viktor yang tetap tidak mau menyerah demi wanita yang dicintainya.
"Hem. Malah kamunya yang melamun. Mau masuk atau enggak sih, Vik? gak niat banget sih kamu ngajakin aku restoran."
Viktor lagi-lagi tersenyum tipis saat dikagetkan oleh Vania.
"Ya maaf, habisnya kamu tolak cintaku. Eh bukan begitu, aku hanya mengajakmu bercanda saja, jangan dibuat serius." Jawab Viktor beralasan.
"Iya gak apa-apa. Maaf ya, udah membuatmu kecewa." Ucap Vania merasa tidak enak hati.
__ADS_1
"Kan, sudah aku bilang, aku hanya bercanda. Seperti gak tahu aja soal diriku, kamu ini." Jawab Viktor yang tidak ingin suasana menjadi dingin.
Vania hanya mengangguk, dirinya bingung harus bicara apa.
Ketika sudah berada di dalam restoran, Vania dan Viktor memilih menu yang disukainya, dan menunggunya sambil membicarakan hal lain agar tidak saling diam.
"Van," panggil Viktor dengan suara yang terdengar serius.
"Ya, Vik, kenapa?" jawab Vania dan bertanya.
"Aku mau lanjut kuliah ke luar negri, gak apa-apa, 'kan?"
Vania langsung terkejut mendengar kalimat luar negri. Padahal rencana keluar negri sudah ada di benaknya, namun kedua orang tuanya tetap menginginkan menikah.
"Van." Viktor kembali memanggilnya, Vania benar-benar kaget dibuatnya.
"Maaf. Tadi aku gak fokus." Jawab Vania dengan tatapan yang seperti menyimpan sesuatu.
"Kamu kenapa mendadak lesu begitu, Van?" tanya Viktor penasaran.
"Apa karena perjodohan? maaf, jika aku mengungkitnya lagi."
"Tidak apa-apa. Aku punya cara sendiri untuk menolak perjodohan. Jika ada kesempatan, aku akan kuliah ke luar negri sama sepertimu." Jawab Vania.
"Aku doakan, semoga pilihan yang terbaik berpihak sama kamu. Juga, impianmu tercapai." Ucap Viktor.
"Terima kasih. Kamu juga, semoga berhasil."
Viktor tersenyum tipis demi menutupi rasa yang campur aduk tengah dirasakannya, termasuk sedih karena harus ditolak oleh perempuan yang dicintainya.
'Aku hanya tidak ingin terus bertemu denganmu, tapi kamu bukan milikku. Semakin terus bertemu denganmu, maka akan terasa sakit ketika aku harus menahan rasa cintaku padamu. Maafkan aku dengan alasan yang mungkin saja hanya sebagai alasan saja, tapi tujuanku ke luar negri yang tidak lain adalah hanya ingin menjauh darimu, agar rasa sakitku tidak menjulur hingga ke ulu hatiku paling dalam.' Batin Viktor sambil melamun, juga sambil menatap wajah ayu miliknya Vania.
Saat itu juga, makanan yang dipesan sudah datang. Kemudian, keduanya segera menikmati makan siangnya di restoran. Vania diam, Viktor pun juga ikutan diak, dan tidak ada yang bersuara, diam dalam kesunyiannya masing-masing.
__ADS_1
'Maafkan aku, Vik.' Batin Vania sambil mengunyah makanan, juga sekilas mendongak.
Setelah menikmati makan siangnya di restoran, Vania maupun Viktor segera pulang ke rumah.
Dalam perjalanan, suasana menjadi dingin, tidak ada canda atau gurauan yang di dengar hingga tidak terasa sudah sampai di depan pintu gerbang.
"Kita sudah sampai, mau aku antar sampai didepan rumah, atau di sini saja." Ucap Viktor saat memberhentikan mobilnya di tepi jalan tepat di depan pintu gerbang utama.
"Disini saja. Terima kasih banyak ya, kamu udah begitu baik dan peduli denganku. Maafkan aku yang belum bisa membalas semua kebaikan mu. Maaf juga jika tidak mempersilahkan kamu untuk mampir." Jawab Vania, dan melepaskan sabuk pengamannya.
"Sini, biar aku bantu. Jangan banyak pikiran, susah 'kan, jadinya." Ucap Viktor yang langsung membantu Vania untuk melepaskan sabuk pengamannya.
Saat badannya Viktor membungkuk, disitu detak jantung diantara keduanya berdegup tidak karuan.
Bahkan, Viktor masih sempat menatap wajah Vania dengan jarak yang begitu dekat. Namun, saat itu juga si Viktor langsung menepis pikiran kotornya, ia menyadari jika dirinya lelaki normal. Lebih lagi ada rasa cinta kepada Vania, tentu saja otaknya pun langsung bekerja secara aktif.
"Sudah." Ucap Viktor yang juga membuyarkan lamunan Vania.
"Makasih. sampai jumpa lagi di kampus, bye." Jawab Vania yang langsung turun dari mobil.
"Tunggu, aku antar saja sampai di depan rumah kamu. Takutnya aku tidak sopan mengantarkan kamu pulang." Ucap Viktor yang tidak ingin disangka lelaki yang tidak bertanggung jawab.
Karena tidak ada pilihan, akhirnya Vania mengiyakan dan meminta penjaga rumah untuk membukakan pintu gerbang.
Ketika sudah berada didepan rumahnya Vania, Viktor menghentikan mobilnya.
"Sudah, sini aja, soalnya di depan situ ada mobil. Sepertinya ada tamunya Papa. Ya udah ya, makasih banyak udah anterin aku pulang sampai di depan rumahku." Ucap Vania.
Viktor mengangguk.
"Sama-sama, Van. Salam ya, buat kedua orang tua kamu." Jawab Viktor dengan senyum yang tipis.
"Ya, nanti aku sampaikan. Bye. Sampai bertemu lagi besok di kampus." Ucap Vania sambil melambaikan tangannya dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Viktor yang hendak melajukan mobilnya, arah pandangannya tertuju pada mobil yang ada di depannya.