
Vania pun menerimanya.
Baru saja menikmati ujung es krim, tiba-tiba teringat saat keduanya saling bertukar rasa satu sama lain. Saat itu juga, Vania maupun Viktor sama-sama menoleh.
"Kenapa, mau tukar rasa?" tanya Viktor yang sudah paham dengan kebiasaan Vania saat makan es krim bersama.
Vania menggelengkan kepalanya.
"Enggak." Jawab Vania dengan singkat, dan kembali dengan posisi semula, yakni menatap lurus ke depan sambil mengontrol detak jantungnya.
"Ini, kalau mau tukaran. Sini, punyamu buatku. Jangan malu, kita sudah sah menjadi suami istri. Sekalipun harus makan bekas sisa kamu, tidak menjadi masalah buatku. Ini, ambillah." Ucap Viktor yang langsung menyodorkan es krim miliknya.
"Enggak usah. Aku pingin menikmati rasa yang aku pilih dengan puas, dan sedang tidak ingin berbagi." Jawab Vania beralasan, tentunya malu ketika teringat masa masa yang sudah dilewati bersama suaminya sebelum menikah.
"Hem. Ya udah kalau gak mau. Kalau gitu kita lanjutkan perjalanan kita ke hotel. Sekalian kita menunggu waktu acara ulang tahunnya Nindi, sekaligus istirahat."
"Kenapa gak pulang aja, Vik?"
"Kelamaan, lagi males aja. Tenang, aku gak akan aneh-aneh sama kamu. Kalaupun itu terjadi, ya gak apa-apa sih, toh kita suami istri." Jawab Viktor dengan santai sambil menyetir, juga menikmati es krimnya.
Saat itu juga, Vania langsung menoleh, juga Viktor sekilas ikutan menoleh dan kembali menatap lurus ke depan.
__ADS_1
"Bener, 'kan? jangan dibuat tegang. Takutnya nanti tegangannya makin tinggi loh." Ledek Viktor sambil menaikturunkan alisnya seraya menggoda.
"Dih! otakmu aja yang terlalu over." Sahut Vania dengan menunjukkan muka masamnya.
Tanpa disadari oleh keduanya, ternyata sudah sampai di hotel. Kemudian, Viktor mematikan mesin mobilnya.
"Kita sudah sampai, ayo turun. Kita istirahat dulu, juga sambil menunggu jam acara akan dimulai."
"Memangnya acaranya dimana?" tanya Vania yang lupa tanya alamat.
"Hem. Ya di hotel ini. Makanya, ngapain juga kita pulang ke rumah. Jugaan, ini hotel kan, milik keluarga Erlingga dan keluarga Nugraha. Tuh baca nama hotelnya." Jawab Viktor yang sekaligus menunjuk ke logo hotel yang dimaksudkan.
Kemudian, ia langsung menoleh ke arah Viktor.
"Jadi, ini hotel miliknya-"
"Miliknya kita lah, memangnya punya siapa lagi." Sambung Viktor yang langsung menjawab.
"Hem."
"Kok cuma hem doang."
__ADS_1
"Terus, aku harus bilang wow! gitu."
Viktor tertawa kecil mendengarnya.
"Sudahlah, ayo kita turun." Ajak Viktor yang langsung keluar, dan diikuti oleh Vania.
Ketika sudah turun dari mobil, Vania masih berpikir soal hotel.
"Perasaan Papa maupun Mama, juga kak Vando gak pernah bilang kalau punya hotel, kenapa aku baru mengetahuinya?" gumamnya yang masih penuh tanda tanya.
"Meski aku gak kenal keluarga kamu, tapi Papa aku pernah bilang soal mendirikan sebuah hotel dengan nama dari dua keluarga. Sebenarnya sih, ini karena sebuah perjodohan antara kamu dengan kak Ergan. Tapi, ah sudah lah. Sekarang kamu sudah menjadi istriku, kak Ergan juga sudah meninggalkan kota ini. Jadi, nikmati saja alur cerita hidup kita ini. Mungkin saja memang seperti ini jalan cerita hidup kita hingga sampai jenjang pernikahan." Ucap Viktor panjang lebar.
"Gitu ya."
Viktor mengangguk dan langsung menggendong istrinya, tentu saja membuat Vania kaget bukan main.
"Vik! turunin aku. Sudah gila kamu ya. Cepat turunin aku, jangan bikin malu dong ah."
Viktor sama sekali tidak menanggapinya, ia terus berjalan sambil menggendong istrinya sampai di lantai paling atas, yakni memang sudah dipersiapkan sedari berada di kampus.
Vania yang kesulitan untuk berlepas dari suaminya, sama sekali tidak bisa memberontak ataupun melakukan perlawanan. Tetap saja, Vania kalah telak tenaganya.
__ADS_1