Pilihan Yang Sulit

Pilihan Yang Sulit
Ingin memiliki


__ADS_3

Vania yang baru saja keluar dari kamar mandi, mendapati sang suami yang tengah rebahan di atas tempat tidur, ia merasa malu ketika tiduran di sebelah suaminya.


Viktor yang menyadari jika istrinya udah keluar dari kamar mandi, ia bangkit dari posisinya.


"Sini, tidur lah. Waktu kita masih panjang. Nanti sore aku ajak kamu jalan-jalan di sekitaran lokasi disini. Jangan takut, aku juga mau istirahat." Ucap Viktor sambil menepuk bantal di sebelahnya.


Vania masih diam. Malu itu sudah pasti.


Viktor yang tidak mendapat tanggapan dari istrinya, pun bangkit dan mendekati istrinya.


"Kamu kenapa lagi? jadi pendiem gini. Mana Vania yang aku kenal. Bahkan, kamu aja pernah heboh ketika kita kejebak hujan."


Vania tersenyum tipis.


"Gimana aku mau heboh, kamu mendadak menjadi suamiku." Jawab Vania yang langsung menuju tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Tanpa peduli dengan suaminya, Vania langsung membenarkan posisinya dengan kedua tangannya yang bebas. Kemudian, Vania memejamkan kedua matanya.


Viktor yang tidak ingin waktu jam istirahat terbuang sia-sia, ia segera tiduran di sebelah istrinya, dan langsung memejamkan kedua matanya hingga tertidur pulas.


Suasana dalam kamar hotel dengan suhu yang rendah, Vania dan Viktor benar-benar tengah beristirahat hingga terbangun tepat pada waktunya.


Vania yang cukup kedinginan karena suhu ruangan yang mendadak berubah, langsung memeluk Viktor layaknya bantal guling. Viktor yang menyadari akan hal itu, pun tersenyum.


'Akhirnya aku berhasil membuatnya kedinginan.' Batin Viktor penuh kemenangan saat istrinya memeluknya dengan erat, juga dalam satu selimut.


Vania yang merasa ada yang aneh, pun terbangun dari tidurnya. Kemudian, mencoba untuk membuka kedua matanya pelan-pelan.


"Aaaa!" teriak Vania yang menyadari jika dirinya memeluk suaminya.


Viktor langsung membekap mulutnya dengan telapak tangannya.


"Jangan teriak-teriak, berisik."

__ADS_1


Viktor langsung melepaskan tangannya, Vania langsung duduk.


"Ini pasti ulah kamu. Jangan-jangan kamu mengurangi angka pada suhu ruangan, ngaku."


"Ya coba aja dilihat, suhunya diangka berapa. Hem."


"Awas ya, kalau sampai kamu rubah." Ancam Vania sambil menunjuk ke arah suaminya.


Kemudian, Vania langsung mengeceknya.


Viktor tersenyum.


"Gimana, apakah berubah? kalau gak, ya aku gak salah."


"Hem. Kamu pikir aku ini anak kecil. Eh! jam berapa ini?"


Vania langsung mengambil ponselnya dalam tas, dan melihat jam yang ada di ponsel.


"Astaga! udah malem. Jam tujuh malem ternyata."


"Eh! da_sar kamu itu ya, selalu me-sum dari dulu."


"Kalau mesumnya sekarang mah, gak apa-apa 'kan, ya? sama istri sendiri sih gak bermasalah. Paling yang bermasalah sama kamu nantinya."


"Maksudnya?" tanya Vania yang mulai memasang aba-aba untuk melawan suaminya.


Viktor mendekati istrinya.


"Dede bayi." Bisik Viktor, kemudian ia memberi kode tepat di bagian perutnya.


Saat itu juga, Vania baru menyadarinya.


"Viktooooor!" teriak Vania sambil menjewer telinga suaminya.

__ADS_1


"Aw! sakit, sakit, sakit. Udah udah udah. Sakit, sayang, sakit telingaku." Pekik Viktor sambil meringis kesakitan ketika telinganya dijewer oleh istrinya.


Vania menambahkan tekanannya ketika menjewer telinga suaminya.


"Aw! sakit, sayangku, cintaku, istriku." Pekik Viktor menyebut nama kesayangan untuk istrinya.


Vania langsung melepaskan tangannya.


Viktor nyengir kuda sambil memegangi telinganya.


"Kamu kenapa sih, tambah galak aja sama aku. Padahal nih ya, aku tuh suami kamu. Tapi kamunya malah jadi galak gini."


"Salah kamunya, ngomong gak pakai rem." Ucap Vania dengan cemberut.


"Memangnya aku ngomong apaan, sayangku?"


"Gak usah lebay, aku gak suka."


"Ya udah ya udah, gimana gimana?"


"Ish! kamu itu ya, dari dulu gak pernah berubah, nyebelin."


"Memangnya aku harus berubah yang gimana? jadi pendiem? aku gak bisa. Aku lebih suka kita seperti dulu, tertawa, bersenda gurau bersama. Bercerita, dan lainnya. Memangnya kamu mau, aku jadi suami yang dingin?"


Vania kembali diam.


Saat itu juga, Viktor langsung memeluk istrinya dari belakang. Kemudian, menyandarkan dagunya tepat di bagian pundak milik istrinya.


"Van, bisa gak sih, kita menjalani hubungan pernikahan kita ini dengan serius? aku ingin kita saling menerima satu sama lain. Aku tidak ingin kamu mengacuhkan suami kamu ini. Kita sudah menikah dan sudah menjadi suami isteri yang sah. Aku ingin kita jalani rumah tangga kita ini selayaknya memang hubungan suami-istri." Ucap Viktor penuh harap, dan tidak ada bosannya untuk terus mengatakannya pada sang istri.


Vania masih terdiam.


"Aku tidak tahu dengan perasaan aku sendiri, Vik. Aku menyadari kalau kamu tulus mencintai aku, tapi-"

__ADS_1


"Tapi kenapa, Van? jujur, aku menginginkan kamu menjadi milikku seutuhnya. Bukan sekedar status, tapi cintamu, juga raga dan jiwamu menjadi milikku." Ucap Viktor sambil memeluk istrinya.


Vania mengatur napasnya ketika mendengar ucapan dari suaminya.


__ADS_2