
Viktor pun melotot seperti tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Henifa.
"Kamu serius? kamu sedang tidak lagi bercanda, 'kan?"
Vania menggelengkan kepalanya.
"Ngapain aku becanda sama kamu. Aku tuh serius, dan sangat jelas jika yang mendorongku tadi itu kakak kamu." Jawab Vania dengan apa yang dialami.
"Mana, coba aku lihat lukanya." Ucap Viktor sambil merah lengan miliknya Vania.
"Astaga. Tangan kamu. Ayo ikut aku, aku akan bertanggung jawab untuk mengobati lukanya. Kamu ini gimana sih, kenapa luka seperti ini kamu abaikan?"
"Ya karena aku gak kenapa-kenapa."
"Kamu ini ya, selalu menganggap remeh dalam segala hal, termasuk luka ini. Jadi, ayo aku antar kamu ke rumah sakit untuk mengobati luka mu itu. Untuk Henifa, kamu pulang aja ya. Maaf. Aku gak bisa antar kamu pulang, tidak apa-apa, 'kan?"
"Iya tidak apa-apa." Jawab Henifa.
Saat itu juga, Viktor yang khawatir dengan luka yang ada di lengan Vania, langsung menggendong dan membawanya ke rumah sakit terdekat untuk mengobati luka yang lumayan serius.
"Vik! aku mau dibawa kemana? lebay banget lah kamu ini. Lukanya juga gak serius serius amat, malah kamunya yang heboh sendiri." Ucap Vania yang tidak merepotkan.
"Kamu itu bandel. Dah. Diam." Sahut Viktor sambil mengendarai mobilnya.
"Kamu tuh kek beda banget sama kakak kamu yang tadi, gak kemanusiaan. Eh maaf."
"Tidak apa-apa. Kakak aku emang begitu, dingin dan sedikit keras. Namun, dibalik sifatnya itu, orangnya baik."
"Ya iyalah, kakaknya sendiri gitu loh. Masa' iya, mau di jelek jelekin gitu, gak mungkin lah. Meski dijelekin juga, ujungnya di puji." Jawab Vania setengah melirik ke Viktor.
"Terserah kamu saja lah, penting kamu tidak ngedumel terus."
"Resek Lu."
"Aw! Vania."
"Maaf. Eh gimana denganmu, dah punya pacar belum?"
"Pacar dari hongkong? aku maunya sama kamu, Van, gimana sih."
"Dih! ngaco kamu kalau ngelawak. Tidak lucu, tau."
__ADS_1
"Serah kamu. Mau jujur mau enggak juga bakal kamu sangka melucu. Kamu sendiri gimana? katanya mau dijodohin, kapan nikah?"
"Hem. Aku lagi males bahas soal itu, gak berselera."
"Kenapa? bukannya kedua orang tua kamu sudah memberikan jodoh untuk mu? kamu tuh aneh. Tidak mau menerima aku, tapi juga tidak mau menerima pilihan orang tua kamu."
Vania masih diam.
"Oh. Jangan-jangan kamu pinginnya punya suami macam kakakku, si kak Ergan."
"Aih! apa-apaan sih kamu ini. Ngaco lagi kamu. Kakak kamu itu orangnya gak mau bertanggung jawab. Jadi, bukan tipeku."
Viktor yang mendengar jawaban dari Vania, hanya menggelengkan kepalanya karena merasa aneh dengan pilihannya.
"Kita sudah sampai. Ayo kita turun, obati dulu luka di tangan kamu itu." Ucap Viktor dan langsung turun dari mobil.
Saat baru saja turun dari mobil, rupanya arah pandangannya Vania tertuju pada seseorang yang baru saja turun dari mobil juga dengan seorang perempuan paruh baya.
"Woi! tunggu." Teriak Vania dengan suara yang cukup kedengaran keras, Vania langsung mengejarnya.
Viktor yang dikagetkan dengan tingkah dari Vania yang cukup bar bar itu, langsung mengejarnya. Takut jika ada apa-apa dengan Vania.
"Kamu!"
"Anak Nyonya tuh yang udah mencelakai saya, lihat ini. Dia ini gak mau tanggung jawab, malah kabur." Ucap Vania yang langsung nunjukin lukanya yang ada di lengan.
"Apa-apaan kamu. Jatuh jatuh sendiri kenapa aku yang harus bertanggung jawab, enak aja. Jangan dipercaya perempuan ini, Ma. Dia ini perempuan yang hanya mau memeras. Jaman sekarang kan, gitu." Ucapnya yang tidak ingin mengakui kesalahannya.
Saat itu juga, Viktor akhirnya berhasil mengejar Vania.
"Mama, Kakak."
Kemudian, Viktor langsung menoleh ke arah Vania.
'Bisa berabe ini. Vania salah orang untuk menuduh. Bagaimana ini, Vania belum tahu kalau aku punya kakak kembaran.'
"Dia siapanya kamu, Vik? pacar kamu? tuh cepetan kamu obati tangannya."
"I-iya, Kak." Jawab Viktor yang tiba-tiba terbata-bata ketika menjawab, lantaran masih terasa bingung untuk menjelaskannya kepada Vania.
"Tidak. Kamu yang harus mengobati lukanya. Kamu yang sudah menjatuhkan perempuan ini, da kamu yang harus bertanggung jawab." Ucap ibunya ikut angkat bicara.
__ADS_1
"Tidak perlu. Biar aku aja, Mama sama Kak Er pergi aja." Timpal Viktor yang takut salah paham.
"Viktor. Ini kesalahan kakak kamu, dan kamu tidak perlu menjadi penolong untuk kakak mu ini. Jadi, lebih baik kamu yang temani Mama untuk kontrol. Ayo." Ucap ibunya yang tetap bersikukuh dengan keputusannya.
Karena tidak ada pilihan lain untuk Viktor maupun kakaknya, mau tidak mau akhirnya nurut dengan perkataan ibunya dari pada masalah semakin panjang, pikir oleh keduanya.
Sedangkan Vania cukup lega saat dirinya dapat berhasil untuk meminta Ergian bertanggung jawab atas perbuatannya. Bahkan, dirinya sampai lupa dengan jarak waktu yang dilewatkan sangat pendek dengan pertemuannya dengan lelaki yang dianggap sudah mencelakainya saat hendak berangkat ke kampus.
Dengan terpaksa, akhirnya Ergian mengantarkan Vania sampai ke dalam rumah sakit.
"Kamu tuh angkuh banget ya, gak bertanggung jawab juga. Pantes saja, kamu gak kunjung nikah." Ucap Vania sambil berjalan beriringan.
Seketika, Ergian berhenti dan langsung menghadap ke Vania.
"Kamu bilang apa tadi? Gak kunjung nikah itu, bukan berarti gak bertanggung jawab. Tadi pagi kan, memang kesalahan ada padamu."
"Maksudnya?"
"Makanya, punya otak itu buat mikir, bukan buat menyerang. Kamu seharusnya beruntung, karena kamu hanya jatuh. Dah lah, gak bakal ngerti ngomong sama kamu. Ayo cepetan ambil nomor antrian." Jawab Ergian dan langsung mendorong tubuhnya Vania agar segera mengambil nomor urutan.
Kemudian, Vania segera mengambilnya dengan perasaan penuh kesal karena menghadapi sikap kasar dari kakak temannya sendiri.
'Kakak beradik tapi tidak menunjukkan layaknya kakak-beradik. Amit amit deh, jangan sampai aku menikah dengan lelaki macam dia.' Batin Vania menggerutu kesal.
Setelah mengambil nomor antrian, Vania dan Ergian menunggunya. Berbeda dengan Viktor, rasanya tidak rela ketika kakaknya yang menemani Vania karena rasa cemburunya kepada kakaknya sendiri.
"Kamu kenapa, Vik? kelihatannya gusar gitu, kenapa?" tanya sang ibu penasaran saat melihat putranya yang seperti tidak tenang, dan terlihat tengah khawatir.
"Viktor hanya takut saja, Ma. Kalau Kak Ergian berantem kek tadi, gimana? coba tak lihat bentar ya, Ma? eh tapi Mama sama siapa?"
Tiba-tiba Viktor tidak mempunyai cara untuk meninggalkan ibunya sendirian menunggu nomor antri.
"Kamu gak perlu khawatir. Kakak pasti bertanggung jawab, percaya saja sama Mama." Jawab ibunya mencoba untuk meyakinkan Viktor.
Saat itu juga, Viktor langsung menepuk keningnya.
"Masalahnya tuh, Vania salah paham. Tadi waktu di kampus, Kak Ergan lah pelakunya. Nah! disini di rumah sakit ini, Vania bertemu dengan Kak Ergian, pasti jadi sasaran." Ucap Viktor menjelaskan, meski penjelasannya itu salah.
"Apa!"
Viktor mengangguk.
__ADS_1
"Makanya itu, Ma. Mereka pasti akan terus bertengkar." Ucap Viktor dengan daya tangkapnya, meski kenyatannya memang Ergian lah pelakunya.