Pilihan Yang Sulit

Pilihan Yang Sulit
Merasa kesal melihatnya


__ADS_3

Tanpa disadari oleh Nindi, jika Viktor dapat mendengarnya langsung saat istrinya mendapat hinaan dari seseorang.


Saat itu juga, Viktor segera duduk dengan jarak yang tidak begitu jauh dari arah pandangan istrinya. Nindi yang mengetahui Viktor tengah duduk sendirian, ia langsung mendekati dan ikutan duduk di hadapan Viktor.


Seketika, Vania mendadak melotot ketika melihat Nindi duduk di hadapan istrinya. Tidak hanya Vania saja, kedua temannya pun ikut terkejut melihatnya.


"Van. Lihat itu, suami kamu duduknya saling berhadapan. Cepetan kamu samperin, itu sangat bahaya." Ucap Noni yang geram ketika melihat pemandangan yang cukup menjengkelkan.


"Biarin saja. Katanya dia hanya mencintaiku, ya udah kita lihat saja. Mau sekuat mana dia digoda itu ulet bulu." Jawab Vania sambil mengaduk jus dalam gelas.


"Aduh, Van. Kamu ini gimana sih. Namanya lelaki normal ya mana ingat cinta. Eh! bukan begitu maksudnya. Maksud aku tuh, takutnya suami kamu tergoda gitu." Ucap Noni sedikit takut karena salah ucap, pikirnya.


"Hem. Terserah kamunya. Yang penting kitanya udah ngingetin kamu." Kata Henifa ikut menimpali.


Sedangkan Viktor sengaja tidak bangkit dari posisi duduknya, dirinya memang sedang menunggu kedua temannya.


"Vik. Kamu mau pesan apa? sekalian aku mau traktir kamu."


"Gak usah repot-repot, aku sedang menunggu kedua temanku. Kebetulan juga, aku mau mentraktir mereka. Jadi, simpan saja uangnya. Oh ya, mendingan kamu duduk dengan yang lainnya, takutnya teman aku gak berani ikutan duduk. Dan disangkanya aku ada hubungan denganmu. Jadi, gak apa-apa, 'kan?"

__ADS_1


Nindi yang sebenarnya merasa dibuatnya geram, dirinya tidak mempunyai pilihan lain selain mengiyakan, meski hatinya terasa dongkol.


"Iya gak apa-apa. Tapi jangan lupa untuk nanti malam, datang ke acara ulang tahunku."


"Iya. Nanti aku akan usahakan datang ke acara spesial milikmu." Ucap Viktor, Nindi pun tersenyum dan bergegas pergi.


Tidak lama kemudian, Vania datang dan duduk di hadapan suaminya.


"Cie... yang lagi digoda sama ulet bulu, ulet keket. Gimana rasanya? tergoda kah?" ledek Vania dengan berani.


Saat itu juga, tangan Vania langsung di raih oleh Viktor.


Sedangkan Viktor langsung mendekatkan wajahnya tepat di bagian wajah istrinya.


"Aku hanya akan tergoda sama kamu. Jadi, persiapkan diri untuk nanti malam." Jawab Viktor setengah berbisik, lalu bangkit dari posisinya dan pergi begitu saja.


Vania langsung bengong sambil melotot setelah mendengar ucapan dari suaminya yang bisik-bisik.


"Cie... yang mulai terpesona." Ledek Henifa.

__ADS_1


"Diam, kalian. Aku sedang tidak ingin melucu. Aaaaaa!"


Jawab Vania dan berakhir dengan teriakan.


"He! cewek belagu. Udah sok sokan kamu itu."


Tiba-tiba ada seseorang yang ucapannya cukup pedas untuk didengar.


Noni yang geram, ingin rasanya menutup mulutnya dengan kain lap.


"Sudah lah, Non. Ngapain kamu ladeni, gak penting. Sudah yuk pergi, kita bayar dulu." Ucap Vania yang langsung menarik tangan milik kedua temannya.


"Seharusnya tuh, kita lawan. Kamu malah narik tanganku, dan mengajak pergi. Gak seru tahu gak, Van." Ucap Noni masih terasa geram.


"Gak ada pentingnya juga kali, meladeni itu anak. Oh ya, kita beneran gak ada pengumuman apa kek, gitu. Masa' iya, berangkat ke kampus cuma ngangguran gini."


"Ini masih jam berapa? nunggu jam sepuluh atau jam sebelas, baru dapat informasi. Ngomong-ngomong nanti kalau wisuda, kamu bakal ketahuan nih, bakal foto bareng suami, cie..."


"Ih! kamu ini, gak lucu. Dah deh, jangan ngeledek terus, bikin selera lapar ku mendadak hilang." Ucap Vania dengan ketus.

__ADS_1


Saat itu juga, Viktor sudah berdiri di belakang istrinya. Kedua temannya sambil memberi kode. Vania yang penasaran, pun langsung menoleh ke belakang.


__ADS_2