
Selesai berbelanja, Vania dapat bernapas lega.
"Coba diingat-ingat lagi, masih ada yang kurang apa gak? takutnya ada yang lupa."
Vania mencoba mengingatnya, takut yang diucapkan oleh suaminya ada benarnya. Setelah dipikir-pikir lagi, Vania menggelengkan kepalanya.
"Gak ada. Iya, keknya gak ada." Jawab Vania dengan serius.
Vania mengangguk.
"Yakin?" tanyanya lagi.
"Iya. Yakin." Jawab Vania dengan serius ketika menatap wajah suaminya.
'Yang bener aja sih, kalau dia ini suamiku.' Batin Vania masih terasa belum percaya.
"Hem. Udah belum? kalau udah, ayo kita lanjut makan siang. Gimana, mau dimakan dimana?"
"Di restoran aja." Jawab Vania, dan langsung menuju kasir untuk membayar.
Viktor pun mengiyakan, lalu mengikuti istrinya dari belakang.
Setelah membayar tagihan, Viktor membantu istrinya membawakan belanjaan. Seketika, Vania teringat dengan waktu yang udah dilewati bersama Viktor, yakni berbelanja, dan Viktor yang membawakan belanjaannya.
__ADS_1
'Kalau dipikir-pikir aneh sih. Bisa ya, dia jadi suami aku. Dunia memang sempit, gak beda dengan daun kelor.' Batin Vania sambil berjalan dibelakang suaminya.
Kemudian, Vania masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah suaminya.
"Yakin nih, gak ada yang ketinggalan?" tanya Viktor mencoba mengingatkan lagi sebelum jauh meninggalkan mall.
"Ada. Bayanganmu. Puas. Eh! es krim." Jawab Vania dengan ketus, dan teringat dengan kebiasaan mereka berdua yang tidak lupa dengan sesuatu yang menjadi favorit mereka berdua.
Bahkan, mereka berdua tanpa canggung untuk bertukar rasa.
Seketika, Viktor teringat masa-masa bersama istrinya.
"Nanti kita beli di tempat langganan. Ya udah, ayo kita ke restoran dulu. Nanti pulangnya kita beli. Sekalian istirahat di hotel."
Viktor mengangguk.
"Iya lah ke hotel. Memang kemana? gak ada masalah, 'kan?"
"Tapi, 'kan."
"Kenapa? kita sudah suami-istri, dan gak ada yang menggerebek kita. Jadi, santai aja. Memangnya dulu, kita bersembunyi bunyi dan berpura-pura menjadi suami istri."
"Dih! masih ingat aja. Ya lah, cowok macam kamu pasti ingat."
__ADS_1
Viktor tidak menanggapinya, ia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sedangkan Vania sendiri memilih untuk memperhatikan jalanan yang dipadati oleh kendaraan yang lalu lalang saling berlawanan.
Tidak memakan waktu lama, akhirnya sampai juga di restoran yang sering didatangi oleh mereka berdua. Tentu saja keduanya kembali teringat masa-masa yang sudah dilewatinya.
Saat sudah masuk dan memesan makanan, keduanya sibuk dengan ponselnya masing-masing sambil menunggu pesanannya datang.
Setelah pesanan datang, kedua menikmatinya tanpa ada yang bersuara, yakni saling diam hingga selesai makan.
"Gimana? masih sanggup buat beli es krim?" tanya Viktor sambil mengenakan sabuk pengaman.
"Terserah kamu." Jawab Vania yang kini berubah menjadi datar.
"Biar sedikit mengurangi rasa gerah, kita beli es krim. Setelah itu, kita istirahat di hotel." Ucap Viktor.
Vania sendiri mengangguk dan nurut dengan ajakan dari suaminya. Tentunya membuat Viktor merasa aneh dengan sikap Vania yang tiba-tiba tidak asal jawab.
Tidak ingin suasana berubah, Viktor memilih diam dan melajukan mobilnya untuk pergi membeli es krim, dan sekalian ke hotel, pikirnya.
"Kamu tunggu disini sebentar, aku mau beli es krim dulu." Ucap Viktor ketika baru sampai.
Vania mengangguk. Kemudian, Viktor bergegas turun dan membeli es krim kesukaan istrinya.
Ketika sudah membeli es krim kesukaan istrinya, Viktor kembali masuk ke mobil, dan memberikannya kepada sang istri.
__ADS_1