Pilihan Yang Sulit

Pilihan Yang Sulit
Dilema


__ADS_3

Ergian menepuk punggung miliknya Viktor.


"Sudah hampir jam sembilan, sebentar lagi acara akan segera dimulai. Cepetan kamu bersiap-siap kalau tidak ingin menerima panggilan telepon dari Vania. Ingat, jangan menyesal jika terjadi sesuatu pada Vania." Ucap Ergian mengingatkan.


Viktor yang mendengarnya, pun memilih untuk tidak menanggapinya, tidak penting pikirnya.


Ergian yang juga harus bersiap-siap untuk segera datang di acara pernikahan saudara kembar, ia tidak ingin membuang-buang waktunya.


Sedangkan di tempat lain, Vania merasa kesal saat Viktor tidak mau menerima panggilan telepon darinya.


'Apakah Viktor beneran marah denganku? sampai-sampai dia gak mau menerima panggilan telepon dariku.' Batin Vania yang tengah di rias dan di make-up.


Di ruangan sebelah, Ergan yang juga tengah melakukan persiapan dari segi penampilan dan yang lainnya ditemani oleh orang kepercayaan keluarganya.


"Dimana Viktor dan Ergian? apakah mereka belum juga datang?" tanya Ergan sambil mengenakan baju kemeja putih.


"Tuan Ergian maupun Tuan Viktor belum juga datang, Tuan. Mungkin mereka sedang dalam perjalanan. Sedangkan untuk Tuan dan Nyonya sebentar lagi sampai." Jawabnya.


"Oh. Ya sudah kalau begitu." Ucap Ergan yang tengah mengenakan rompi.


Setelah itu, Ergan segera bersiap-siap, takutnya waktu akan dimulai.

__ADS_1


Vania sendiri yang terasa tidak bersemangat, ingin rasanya menolak dan tidak untuk menikah. Namun, kesepakatan tetaplah kesepakatan, tidak bisa di rubah.


Saat tengah di rias, tiba-tiba ada seseorang yang masuk kedalam ruangan tersebut.


"Vania." Panggil seseorang yang tengah mengagetkan.


Saat itu juga, Vania langsung menoleh ke sumber suara.


"Henifa. Kamu." Jawab Vania menyebut Henifa dengan tersenyum.


Dengan langkah kakinya, Henifa mendekati Vania.


"Maafkan aku ya, Van. Aku minta mau minta maaf, jika aku sudah membuat suasana pernikahan kamu tidak seperti yang kamu inginkan." Ucap Henifa.


"Kamu ini ngomong apaan sih, Hen? Kamu gak perlu minta maaf sama aku, karena kamu memang gak punya salah. Terus, kenapa kamu mesti minta maaf?"


"Andai saja aku tidak ada rasa sama Viktor, dan tidak mengatakannya sama kamu, mungkin saja kamu menikahnya sama Viktor, lelaki yang sudah dari dulu menyukai kamu." Jawab Henifa sambil menatap sahabatnya.


Vania justru tersenyum.


'Aku harus berkata apa?' batin Vania yang bingung menanggapi situasi yang rumit.

__ADS_1


Tanpa disadari, ada Ergan yang tengah mendengarkan obrolan Vania dengan Henifa, sahabatnya.


"Kamu sedang ngapain?" tanya ibunya yang tengah mengagetkannya, Ergan pun kaget dan langsung menoleh ke belakang.


"Mama, Papa, ngagetin aja."


"Kenapa gak masuk?"


Ergan menggelengkan kepalanya.


"Aku mau kembali ke ruangan, Ma, Pa." Jawab Ergan dan langsung pergi dari hadapan kedua orang tuanya.


Kemudian, setelah Ergan pergi, kedua orang tuanya Vania dengan kakaknya bernama Vando, pun datang.


Vania dan Henifa yang mendengar suara di ambang pintu, pun langsung menoleh.


Saat itu juga, kedua orang tuanya Vania bersama kakaknya, dan kedua orang tua dari pihak calon suami pun ikutan masuk.


"Kalian."


Vando selaku kakaknya, lebih dulu mendekati adiknya.

__ADS_1


"Akhirnya kamu menikah. Maafkan Kakak yang baru sampai, karena suatu hal yang harus diselesaikan dan kepulangan harus dicancel. Tapi, kamu baik-baik saja, 'kan?"


Vania langsung memeluk kakaknya. Susah payah untuk menahan tangisnya, yakni agar air matanya tidak keluar. Sang kakak yang seperti mengerti reaksi dari adiknya, pun meminta kepada yang lainnya untuk keluar, termasuk kedua orang tuanya sendiri.


__ADS_2