Pilihan Yang Sulit

Pilihan Yang Sulit
Hari pernikahan


__ADS_3

Kini, didalam ruangan hanya ada Vania dengan kakaknya.


"Kamu kenapa, Vania? kelihatannya kamu menyembunyikan sesuatu dari kakak."


Vando pun akhirnya menanyakan langsung kepada adiknya, lantaran rasa penasaran yang tengah menghantui pikirannya.


Vania menunduk. Kemudian, sang kakak mengangkat dagunya, dan keduanya menatap satu sama lain.


"Jawab pertanyaan dari Kakak, ada apa denganmu?"


"Aku tidak tahu harus memberi penjelasan apa sama Kakak, aku sendiri bingung." Jawab Vania dengan lesu.


"Apakah kamu mempunyai pilihan yang sulit?"


Vania mengangguk.


"Kalau Kakak boleh tahu, kamu lebih nyaman dengan siapa? menikah bukan hal yang mudah, tetapi cukup sulit, apalagi satu sama lain tidak saling memahami. Jadi, pikirkan baik-baik yang akan menjadi keputusan kamu. Satu hal lagi, pikirkan masa depan kamu nanti, jangan pikirkan yang lain. Ketika kita dihadapkan dengan pilihan, carilah yang bisa menghargai kamu." Ucap Sang kakak memberi nasehat kecil kepada adiknya.

__ADS_1


Vania yang mendengarnya, pun sejenak berpikir kembali dengan apa yang sudah diucapkan oleh kakaknya.


"Tapi, Kak."


"Sekarang jawab pertanyaan dari Kakak. Kamu lebih nyaman dengan orang yang sudah terbiasa memberi perhatian sama kamu dengan tulus, atau dengan lelaki yang baru saja kamu kenal, meski dia lelaki baik sekalipun. Juga, pastinya kamu butuh beradaptasi dari awal, untuk saling memahami satu sama lain." Ucap sang kakak kembali menasehati adiknya.


Vania yang dapat menangkap keputusan apa yang diberikan oleh kakaknya, pun mulai menyadari menyadarinya.


Tanpa disadari, rupanya Ergan memaksa diri untuk mendengarkan percakapan antara Vania dengan Vando.


Karena tidak ingin menjadi duri dalam pernikahannya sendiri, Ergan memilih pergi dari tempat resepsi pernikahannya.


Namun sebelum pergi, dirinya meninggalkan sebuah pesan lewat lembaran kertas untuk disampaikannya kepada sang adik.


"Maafkan aku, Ma, Pa. Maaf, jika aku harus pergi. Aku akan kembali setelah Viktor dan Vania menikah." Gumamnya saat baru saja selesai menuliskan sebuah pesan untuk adiknya.


Setelah menuliskan pesan, Ergan segera pergi dan melepaskan jas pengantin.

__ADS_1


Sedangkan Viktor tengah bermalas malasan untuk berangkat, tentunya membuat sang kakak sudah tidak sabar.


"Vik, jadi berangkat gak sih kamu ini. Udah jam berapa ini coba, ayo buruan berangkat." Ucap Ergian yang sudah tidak sabar untuk melihat saudara kembarnya menikah.


Viktor yang merasa tidak bersemangat ketika harus menjadi saksi pernikahan kakaknya dengan perempuan yang dicintainya, terasa enggan dan malas untuk menghadiri acara pernikahannya.


"Kak Ergian berangkat duluan saja, nanti aku menyusul." Jawab Viktor sambil duduk santai di ruang keluarga.


Ergian yang tidak ingin berangkat sendirian, akhirnya menarik paksa adiknya untuk ikut.


"Kak! lepaskan tanganmu. Aku tuh bukan anak kecil lagi, dan tidak perlu melakukan pemaksaan terhadap diriku." Ucap Viktor berusaha melepaskan tangan kakaknya.


Karena tenaga sang kakak yang lebih kuat darinya, akhirnya terpaksa ikut dan berangkat bersama.


Sedangkan di tempat yang begitu megah, tengah disiapkan acara pengucapan kalimat sakral. Vania tengah gugup ketika dirinya akan menjadi milik lelaki yang sudah dijodohkan dengannya. Mau tidak mau, Vania tetap memutuskan untuk menikah dengan Ergan, meski sang kakak sudah memberi nasehat padanya, keputusan Vania tetap pada awal yang menjadi keputusan.


Kini, semua sudah berkumpul, termasuk Viktor yang baru saja masuk dan ikut menjadi saksi atas pernikahan kakaknya dan perempuan yang dicintainya.

__ADS_1


__ADS_2