
Vania maupun Ergan tengah mengatur napasnya, lantaran seperti mendapat serangan jantung ketika mengetahui seseorang yang dijodohkannya.
"Ya udah ya, Papa sama Tuan Daman mau menemui pihak keluarga pengantin. Kalian berdua lanjutkan ngobrolnya kalau mau mengobrol. Ingat, jangan berantem lagi." Ucap Tuan Robi menegaskan putranya.
"Didengar baik-baik perkataan calon ayah mertua kamu. Papa sama Mama mau menemui dulu keluarga pengantin." Timpal Tuan Daman.
"Jangan berantem ya. Mama tinggal dulu." Ucap ibunya Vania, sedangkan keduanya masih sama-sama diam dan tidak ada yang menjawab sama sekali.
"Ternyata kamu orangnya yang akan menikah denganku. Aku kira perempuan mana yang mau menerima perjodohan, rupanya kamu." Ucap Ergan dengan sangat santai.
"Dih! kepedean. Siapa juga yang mau menerima perjodohan dan menikah sama kamu, kegeeran kamu itu. Eh! tadi aku dengar kamu mempunyai saudara kembar, terus?"
"Kenapa? mau menuduh aku kalau aku yang sudah menabrak kamu, gitu?"
Vania yang menyadari akan hal itu, dirinya hanya bisa nyengir kuda, lantaran tidak tahu siapa yang sudah menabrak dirinya.
"Nyengir lagi, gak lucu." Ucap Ergan.
"Hem! palingan juga kamu yang udah nabrak aku, ngaku aja kenapa, gak usah lempar batu sembunyi tangan gitu. Lelaki mah gitu, sukanya lari dari masalah, dan melempar masalah ke yang lain, gak lucu." Jawab Vania dengan asal, karena dirinya pun tidak tahu kalau yang menabrak dirinya itu siapa, Ergan atau Ergian, sulit untuk di tebak.
"Kamu bilang apa tadi? lempar batu? kedua mata kamu itu udah rabun kah? seharusnya kamu bisa bedain mana yang nabrak kamu, dan mana yang bukan." Ucap Ergan yang tetap tidak terima ketika dirinya masih saja terus dituduh menabrak Vania.
"Dah lah capek ngomong sama kamu. Salah ya tetap salah aja, titik." Kata Vania yang tetap bersikukuh dengan tuduhannya.
"Memangnya kamu tidak bisa bedain pakaian yang aku pakai, dan pakaian yang dipakai oleh saudara kembarku, ha?"
Seketika, Vania baru menyadari jika baju dan penampilan yang dikenakan oleh Ergan dengan Ergian memang berbeda, pikirnya setelah diingat-ingat.
"Ya mungkin aja kamu ganti baju saat mau ke kampus. Namanya juga untuk menghilangkan jejak. Mana mungkin gak punya ide lain, mustahil." Ucap Vania yang tetap bersikukuh menuduh Ergan.
__ADS_1
"Hem.Terlalu cetek otakmu untuk berpikir. Serah kamu aja, penting aku gak merasa menabrak kamu. Jadi, jangan sekali-kali menuduhku lagi, paham." Jawab Ergan yang langsung menyambar satu gelas minuman yang ada di hadapannya, dan tidak peduli minuman apa yang sudah ia minum.
Vania sendiri tidak memperdulikan minuman apa yang sudah Ergan habiskan minuman yang ada dihadapannya itu.
"Kemana sih mereka ini. Udah jam segini juga, masih belum pulang-pulang. Benar-benar menyebalkan." Gerutu Vania dengan kesal, lantaran terasa capek menunggu kedua orang tuanya yang juga tak kunjung kelihatan batang hidungnya.
"Aw! kenapa kepala jadi sakit begini, mana pusing lagi." Ergan pun meringis menahan rasa sakit di kepalanya, juga terasa pusing.
Vania yang mendengar Ergan tengah meringis menahan rasa sakit dan juga pusing di bagian kepalanya, pun kaget.
Cepat-cepat Vania bangkit dari posisi duduknya, lantaran melihat Ergan yang tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya.
Dengan sigap, Vania langsung menahannya, takut jatuh tersungkur, pikirnya.
"Kepalaku sakit banget. Minuman apa sih tadi yang aku minum, gila bener, sampai kek gini pusingnya, aw!"
"Kamu juga, minuman ada didepan mata main embat aja. Kamu 'kan, bisa lihat warnanya, kenapa gak kamu lihat dulu dan kamu cium baunya. Gini nih, yang ada kamu merepotkan aku saja. Kamu pasti mabuk." Jawab Vania dengan kesal.
Karena tidak mampu memapah tubuh Ergan yang cukup besar dan juga tinggi, akhirnya Vania meminta bantuan seseorang untuk mengantarkannya ke tempat parkir.
Kemudian, Ergan memberi kunci mobilnya kepada Vania.
"Ini kunci mobilnya, cepat pergi dari tempat ini." Perintah Ergan yang terasa gak karuan.
Vania langsung menyambar kunci mobil yang ada di tangannya Ergan, kemudian setelah itu si Vania masuk kedalam mobil dan duduk di tempat duduk pengemudi.
Dengan kecepatan sedang, Vania melajukan mobilnya. Sedangkan Ergan sendiri tengah membuka bajunya yang terasa panas, tentunya membuat Vania bergidik ngeri saat melihat Ergan lewat kaca mobil yang ada di depan.
"Dimana alamat rumahmu?" tanya Vania sambil fokus dengan setir mobil.
__ADS_1
"Jalan merpati, nomor dua ratus tiga, sesudah lampu merah belok kanan." Jawab Ergan yang tengah kepanasan akibat minuman yang ia minum hingga tandas tidak tersisa.
Vania yang sudah hafal dengan jalanan, ia tidak begitu sulit untuk mencari jalan pintas hingga sampai di rumah Ergan.
Saat sudah sampai di depan pintu gerbang, segera dibukakan oleh penjaga rumah. Kemudian, Vania melajukan mobilnya sampai di depan rumahnya.
"Sudah sampai. Ayo kita turun." Ucap Vania sambil melepaskan sabuk pengamannya.
Ergan sendiri masih berusaha menahannya, meski terasa panas dan tidak karuan. Vania yang tidak ingin membuang-buang waktu, segera turun dan membantu Ergan.
Saat pantu mobil dibuka, Ergan dengan nekad langsung menarik tangan miliknya Vania hingga terjatuh di a_tas tubuh Ergan. Naas, Vania mencium Ergan, dan keduanya saling melotot satu sama lain.
Saat itu juga, Viktor yang mengetahui, langsung menarik tubuh Vania dan juga menarik tubuh sang kakak yang tidak mengenakan baju.
Tanpa pikir panjang, Viktor langsung melayangkan sebuah tinjuan tepat di bagian rahang milik kakaknya.
BUG!
BUG!
BUG!
Ergan yang hilang kesadarannya, sama sekali tidak melawan. Jangankan untuk melawan, menjaga keseimbangan tubuhnya saja, dirinya sama sekali tidak mampu.
"Vik! hentikan. Vik! dia itu kakak kamu."
Dengan suara yang keras, Vania mencoba untuk menghentikan keributan antara kakak-beradik. Saat itu juga, beberapa orang yang tidak lain penjaga rumah tengah mencoba untuk memisahkan adanya keributan antara kakak-beradik.
"Kalau kak Ergan butuh bela_ian, buruan menikah. Tapi tidak dengan Vania, dia perempuan baik-baik, tidak pantas untuk di rusak oleh kamu Kak Ergan."
__ADS_1
Ergan yang masih sempoyongan dan sudah babak belur, benar-benar tidak bisa melakukan perlawanan.