Pilihan Yang Sulit

Pilihan Yang Sulit
Tidak ingin diganggu


__ADS_3

Viktor maupun Ergan langsung mendongak dan menatap serius pada Ergian.


"Saran yang sangat tidak masuk akal. Sudah sana pergi, ngapain masih ada disini, bikin tambah pusing kamu ini." Ucap Ergan mengusir saudara kembarnya.


"Kak Ergan juga, sudah sana keluar. Ngapain kalian berdua masih berada di kamarku. Kalian 'kan, punya kamar sendiri-sendiri." Timpal Viktor yang juga mengusir kedua kakak kembarnya.


"Kok malah kamu ikutan ngusir."


"Sudahlah sana kalian pergi. Kalau mau nikah, nikah aja sana. Tapi ingat, angkat kaki dari rumah ini." Ucap Viktor yang lepas kontrol dengan ucapannya.


Ergian yang mendengarnya, pun memilih keluar, tidak ingin ikut campur urusan adik dan saudara kembarnya.


Dengan susah payah, Ergan menelan salivanya.


"Aku 'kan, sudah bilang sama kamu. Aku akan mundur, tapi kamu tetap tidak mau untuk bertukar posisi. Jika kamu memang benar benar mencintainya, kita selesaikan secepatnya, sebelum tanggal pernikahan ditentukan. Baiklah, besok kita temui Vania, kita bicarakan hanya bertiga, kamu, aku, dan Vania." Ucap Ergan yang tidak ingin menjadi duri bagi adiknya.


"Lebih baik sekarang Kak Ergan keluar. Ini sudah larut malam, aku ingin istirahat."

__ADS_1


Viktor memilih mengusir kakaknya daripada menjawab ucapannya.


Ergan sendiri yang tidak ingin terjadi keributan, ia bergegas keluar dari kamar adiknya. Saat sudah berada di depan pintu, dirinya berhenti sejenak, yakni untuk mengatur napasnya yang terasa berat.


'Maafkan aku, Vik. Maafkan kakak kamu ini yang tidak bisa menjadi kakak yang baik untuk kamu.' Batin Ergan, dan kembali ke kamarnya.


Karena sedang tidak ingin berada di dalam kamar, Ergan memilih beristirahat di ruang keluarga yang menurutnya lebih nyaman untuk istirahat.


"Gimana dengan Viktor, Er? Apakah adikmu baik-baik saja?" tanya sang ayah yang tiba-tiba mengagetkannya.


"Aku tidak tahu, Pa. Yang jelas dia sedang kecewa, dan juga sakit hati, juga marah denganku. Maksudnya kesal, karena Vania yang akan menikah denganku. Papa kenapa buru-buru seperti ini, Pa? kenapa tidak dicari tahu dulu tentang sosok Vania, dekat dengan siapa, pacarnya siapa, atau yang lainnya, gitu."


"Kenapa begitu, Pa?"


"Karena Papa sudah percaya dengan keluarga Erlingga."


"Aneh Papa ini."

__ADS_1


"Kamu sendiri kenapa tidak mengetahui jika Tuan Daman mempunyai putri, ha?"


"Aku sudah mengetahuinya, Tuan Daman menunjukkan foto putrinya kepadaku."


"Jadi, kamu pura-pura tidak melihatnya, begitu kah?"


Ergan mengangguk.


"Benar. Lagi pula, aku belum pernah menyapanya, hanya mengenalnya lewat foto."


"Terus, apakah kamu mau mundur dan menyerahkan Vania kepada adikmu si Viktor?"


"Sudahlah, Pa. Aku mau istirahat, masih ada hari esok untuk lanjut ngobrolnya, sekarang sudah larut malam, selamat malam." Jawab Ergan dan langsung pergi ke dapur untuk mengambil air minum karena tenggorokan terasa kering.


Setelah itu, Ergan kembali ke ruang keluarga dan beristirahat.


Sang ayah yang tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya bisa diam dari pada harus berdebat dengan putranya sendiri.

__ADS_1


Dilain sisi, Viktor yang tengah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil melihat langit-langit kamarnya, ingatannya kembali dengan ucapan kakaknya.


"Aku yang egois, atau aku yang tidak tahu diri dan tidak malu." Ucapnya sambil mengingat obrolannya bersama kedua kakaknya.


__ADS_2