Pilihan Yang Sulit

Pilihan Yang Sulit
Di rumah sakit


__ADS_3

Di rumah sakit, Vania yang tengah nunggu nomor urut antrian, akhirnya gilirannya untuk diobati.


"Ayo! temani aku, cepetan."


Vania pun memaksa Ergian untuk ikut masuk ke dalam, takutnya akan kabur dan melarikan diri, yang pasti tidak mau bertanggung jawab, pikirnya.


"Ogah. Masuk aja sendiri." Jawab Ergian dengan ketus.


"Enak aja gak mau tanggung jawab. Aku adukan sama adikmu dan biar melaporkannya ke ibumu, gimana, mau?"


"Iya, iya! iya iya. Bawel banget lah kamu ini. Cuma sakit gitu aja udah heboh. Da_sar! perempuan pemeras, setelah ini juga bakalan meras uang banyak." Jawab Ergian dengan asal nuduh.


"Kamu bilang apa tadi? meres kamu? beli mulutmu juga bisa, apa! mau apa?"


"Perempuan manja, resek pula. Sudah lah ayo cepetan, jangan buang buang waktuku."


Ergian langsung menarik bagian lengan yang tidak terluka, dan masuk kedalam ruangan.


Saat tengah diperiksa lukanya, Vania mendapat pertanyaan, dan langsung mendapat pengobatan.


Selesai diobati, Vania dengan Ergian bergegas keluar dan mencari keberadaan Viktor bersama ibunya.


"Udah ya, impas. Jadi, kamu jangan membuat kehebohan lagi di depan umum, awas saja kamu." Ucap Ergian sambil berjalan beriringan.


"Hem." Jawab Vania hanya berdehem.


Ergian yang tidak ingin berurusan dengan Vania, ingin secepatnya pergi dari rumah sakit.


Saat menemukan sosok Viktor, Ergian segera menghampirinya.


"Nih! teman kamu. Cepetan kamu antar dia pulang, menyusahkan saja dia ini."


Viktor yang melihat sikap dari kakaknya yang kedengaran kasar, merasa tidak enak hati kepada Vania.


"Dih! aku juga malas jika harus diantar sama kamu." Vania langsung menyahut.


"Sudah sana, cepetan kamu bawa perempuan itu pergi dari hadapanku. Benar-benar menyebalkan, bikin sial mah iya." Ucap Ergian dengan kesal, sekaligus menyibakkan tangannya seraya mengusir Vania pergi.


"Awas aja ya, kalau kamu membuatku sial yang kedua kalinya. Aku tidak akan memberi ampun kepadamu, dan akan aku doakan, semoga kamu gak laku dan gak nikah nikah." Jawab Vania dan menjulurkan lidahnya, yakni tanda mengejek.


Ergian yang dibuatnya kesal, pun terasa geram saat di pertemukan dengan Vania.

__ADS_1


Tidak ingin urus urusannya semakin panjang permasalahannya, Viktor langsung mengajak Vania untuk bergegas pergi meninggalkan rumah sakit.


"Kesel aku sama kakak kamu yang songong itu, benar-benar sombong itu manusia. Bodoh lah, mau itu kakak kamu, mau siapa kek, gak peduli aku." Gerutu Vania sambil berjalan beriringan dengan Viktor.


Sedangkan Viktor sendiri yang mendengar ketika Vania menggerutu, pun hanya tersenyum.


"Dih! cuma senyum senyum gitu, gak lucu ah."


"Kamu kenapa sih, Van? masih kesel gitu sama kak Er. Dah lah, lupain aja. Kakak aku emang begitu orangnya."


"Kamu juga, kenapa baru sekarang memberitahu aku kalau kamu punya kakak resek gitu. Benar-benar sial aku ini hari. Enggak pagi, enggak siang hari, sama aja."


"Hem. Kamunya aja yang sibuk dengan diri kamu sendiri, aku aja yang naksir aja dicuekin."


"Ya bukannya begitu, Vik. Aku tuh males pacaran, bikin hubungan jadi renggang. Makanya, aku milih banyak teman dari pada harus punya pacar."


"Kamu bilang apa tadi? kamu gak mau pacaran? berarti kalau langsung nikah mau dong."


Vania langsung melotot menatap Viktor.


Tanpa ada rasa malu dan canggung, Viktor langsung meraih tangannya Vania.


Bukannya memberi jawaban, justru Vania tertawa lepas. Viktor langsung melepaskan tangannya.


"Malah ketawa."


"Pacaran aja males, apa lagi nikah, aku belum siap."


"Kenapa? memangnya lelaki seperti apa yang kamu inginkan, Van?"


Vania menggelengkan kepalanya.


"Yang jelas aku belum kepikiran, itu saja." Jawab Vania dan terus berjalan, Viktor pun mengejarnya.


Setelah sampai diparkiran, Vania maupun Viktor bergegas masuk ke mobil.


Dalam perjalanan pulang, keduanya saling diam dan tidak ada yang membuka suara.


"Sudah siang, bagaimana kalau kita pergi ke restoran. Kita makan siang dulu, setelah itu aku akan mengantarkan kamu pulang." Ucap Viktor yang akhirnya membuka suara saat sudah hampir sampai di restoran.


Vania yang tidak menkum pilihan, pun mengangguk dan mengiyakan. Baru saja Viktor menghentikan mobilnya di parkiran, tiba-tiba terdengar suara dering di ponselnya.

__ADS_1


"Aku angkat telepon dari ibu aku dulu ya, Vik?"


Viktor mengangguk.


"Silakan." Jawab Viktor sambil melepaskan sabuk pengamannya.


Vania yang mendapat panggilan dari ibunya, pun langsung menerima panggilan.


"Iya, Ma, ada apa?" tanya Vania lewat sambungan telepon.


Dengan serius, Vania memasang indra pendengarannya.


"Apa! pulang? aih. Iya deh ya, Ma. Nanti Vania segera pulang, ini lagi makan dulu di restoran bareng temen."


Tidak mau mendengar omelan dari ibunya, Vania langsung memilih untuk menyudahi obrolannya sama ibunya.


"Kok udah." Ucap Viktor saat mengetahui Vania hanya sebentar ketika berbicara di sambungan telepon.


"Gak apa-apa. Tadi Mama aku bilang, memintaku untuk segera pulang. Tapi tenang aja, aku udah minta izin kok." Jawab Vania.


"Iya sih, aku denger kalau kamu gak bohong. Tapi, gak gitu juga ketika menanggapi ucapan dari Mama kamu. Mau bagaimanapun, orang tua pasti khawatir dengan anak kesayangan. Jadi, perbaiki lagi ucapan kamu dengan orang tua kamu." Ucap Viktor sambil memberi nasehat kecil untuk Vania.


"Gimana ya. Aku tuh udah nolak perjodohan, tapi mereka itu masih saja ngotot buat nikahin aku dengan laki-laki yang aku kenal. Katanya cakep lah, seorang CEO, sekaligus pemilik Perusahaan yang dipimpinnya. Halah! gak tertarik akunya. Mau ganteng, tajir, seorang CEO sekalipun, gak mau akunya. Aku tuh masih ingin menikmati masa mudaku dengan puas, dan gak mau nyia-nyiain masa mudaku."


"Namanya orang tua, pasti tidak mau melihat anaknya sendirian ketika sudah tumbuh dewasa. Sama juga dengan kakak aku, dia pun nolak perjodohan, alasannya ya itu, lagi pingin sendiri. Entahlah, aku sendiri justru berbeda, aku ingin menikah, tapi yang aku ajak nikah, malah gak mau, terus gimana? bisakah kamu memberiku solusi?"


Lagi-lagi Vania tertawa lepas mendengar kalimat terakhir dari Viktor.


"Ketawa lagi, 'kan. Gak ada yang lucu, mendingan juga kamu diam." Ucap Viktor tidak bersemangat.


"Bukan niatku buat mengejek kamu, Vik. Seharusnya kalau aku nolak, kamu cari wanita lain yang mau menikah dengan kamu. Juga, siapkan diri kamu, mental kamu, dan lainnya. Intinya kamu harus fokus dengan tujuan kamu untuk menikah, siapapun perempuan itu."


"Van, bisa gak sih, kalau aku lagi ngomong serius, kamu dengarkan ucapan aku. Ini tidak ada yang lucu, aku serius mau menikahi kamu. Juga, aku serius mencintaimu, Van. Aku tulus, aku siap untuk membahagiakan kamu, tidak bohong." Ucap Viktor dengan serius ketika mengungkapkan perasaannya di hadapan Vania, perempuan yang sangat dicintainya itu.


............


Vania yang seperti menjadi terdakwah, tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Viktor menghela napasnya.


"Jawab dari lubuk hatimu, Van. Katakan iya, jika memang iya jawaban dari mu. Katakan tidak, jika memang kamu tidak mengharapkan aku untuk menjadi suami kamu. Atau- mungkin saja kamu berat untuk menolak permintaan orang tua kamu soal perjodohan."

__ADS_1


__ADS_2