Pilihan Yang Sulit

Pilihan Yang Sulit
Di kantin


__ADS_3

Di kantin, Vania tengah duduk berhadapan.


"Dah! kalau kamu mau makan, aku akan menemanimu." Ucap Ergan yang tengah duduk di hadapan Vania.


Tentu saja, membuat Vania terbayang-bayang dengan kekesalannya saat dirinya bertemu wajah seorang Ergan entah Ergian, pikirnya.


"Kamu jangan ikutan di kantin, kenapa. Aku tuh males, tau, jadi pusat perhatian semua orang di kantor kamu ini. Apalagi sekretaris kamu itu, benar-benar sombong itu orang, menyebalkan. Baru juga sekretaris, gimana jadinya kalau jadi istrimu. Sombongnya nyampe langit keknya." Ucap Vania yang juga menggerutu.


Ergan yang melihat ekspresi Vania yang menurutnya lucu, pun hanya tersenyum ketika memperhatikan calon istrinya itu.


"Yang mau jadi istriku kan, kamu. Bukan sekretaris ku, tapi kamu. Jadi, jangan sombong setelah menjadi istriku, oke." Jawab Ergan sambil memperhatikan Vania.


"Dih! apa yang mau aku sombongin soal kamu. Tampan aja pas-pasan, kaya juga gak, sama aja. Yang ada tuh aku bakal seperti mendapat sial setelah menikah denganmu, ngerti." Ucap Vania sambil memasang muka cemberut.


Lagi-lagi Ergan hanya tersenyum, dan tidak lama kemudian pesanannya pun datang.


"Sudahlah, jangan banyak protes ataupun komentar. Lebih baik kamu habisin dulu tuh makananmu itu." Ucap Ergan sambil menyuapi dirinya sendiri.


Begitu juga dengan Vania, tengah menyuapi dirinya sendiri.


"Memangnya kamu belum sarapan? masih jam segini udah minta makan."

__ADS_1


"Biarin. Memangnya kalau pingin makan itu nunggu waktunya jam makan? ya enggak lah. Mau makan berkali-kali juga gak masalah. Yang jadi masalah itu, udah tahu banyak masalah, tapi menambah masalah. Ya seperti kamu orang." Jawab Vania dengan ketus, dan sambil mengunyah makanan.


"Oh. Jadi, kamu masih mempermasalahkan soal mencelakai kamu itu? diingat ingat lagi, antara aku dengan Ergian, oke. Nama kita memang hampir sama, tapi otak dan aktivitas kita sangat berbeda. Jadi, hati-hati ketika menilai yang A ataupun yang B, paham."


Vania sama sekali tidak menanggapinya, ia terus mengunyah makanan, dan juga malas untuk berdebat.


"Permisi, Bos. Maaf, jika kedatangan saya sudah mengganggu." Ucap Yuna yang tengah menemui bosnya.


"Ada perlu apa kamu mencariku?" tanya Ergan yang tengah mengunyah makanan.


"Ini, ada berkas yang harus ditanda tangani. Kemarin Bos lupa menandatangani. Jadi, sekarang saya memintanya." Jawabnya sedikit membungkukkan badannya, yakni mulai sengaja memberi pusat perhatian kepada bosnya saat Ergan menandatangani.


"Ini, sepertinya cocok buat menutupi sesuatu yang berharga milikmu. Lain kali hati-hati ketika memakai baju, takutnya kekecilan dan sobek." Ucap Vania yang langsung memasangkan tisu tepat di bagian miliknya yang harus ditutup agar lalat tidak semestinya kena, pikir Vania.


Yuna yang tengah diperlakukan oleh Vania, hanya bisa menahan geram dan tidak berani untuk melawan.


'Awas saja kamu, nanti bakal aku balas pulangnya. Lihat saja, aku bakal singkirkan kamu dari kantor ini. Aku akan mengerjai kamu mulai dari sekarang.' Batin Yuna yang merasa geram dengan tingkah Vania.


Sedangkan Vania hanya senyum mengejek kepada Yuna.


"Vania! habiskan makananmu. Untuk Yuna, segera kembali ke ruang kerjamu, cepetan."

__ADS_1


"Baik, Tuan." Jawab Yuna yang langsung pergi.


Sedangkan Vania sendiri tidak peduli, juga memilih diam dan menghabiskan makanannya.


Ergan yang mengetahui apa yang sudah dilakukan Vania, hanya memperhatikannya sambil mengunyah makanannya.


"Kamu gak tertarik sama sekretaris kamu tadi lah? keknya dia menyukaimu."


"Kalau dia menyukaiku, kenapa? kamu cemburu kah dengannya?"


Vania yang mendengarnya, pun terbatuk. Ergan tersenyum, bahwa dirinya dapat menangkapnya lewat gerak geriknya.


"Dih! kepedean kamu itu. Siapa juga yang cemburu sama dia, gak sebanding denganku." Jawab Vania dengan ketus, lagi-lagi Ergan tertawa kecil.


"Kalau gak cemburu, kenapa kamu menutupinya? sepertinya kamu gak rela jika aku melihatnya."


"Dah dibilangin kalau aku tuh tidak cemburu, cuma gak suka aja lihat perempuan macam gak ada harga dirinya, gitu. Kalau soal kamu sih, cuma tidak ingin kalau kamu jadi lalat, dah! itu aja." Jawab Vania sambil mengunyah makanan, hinga tidak terasa sudah habis satu porsi.


"Kalau sudah kenyang, kembali ke ruangan, dan jangan kemana-mana, membuatku resah dan pusing, ngerti."


"Hem. Iya iya ya, cerewet." Jawab Vania dengan kesal.

__ADS_1


__ADS_2