Pilihan Yang Sulit

Pilihan Yang Sulit
Penat memikirkannya


__ADS_3

Vania masih diam, bingung memilih pastinya.


"Vania." Panggil sang ayah kepada putrinya.


"Em- Vania nurut saja sama Papa dan Mama. Vania percaya jika pilihan kalian berdua adalah yang terbaik. Apapun yang menjadi keputusan dan pilihan, Vania akan menerimanya." Jawab Vania yang akhirnya meminta kepada kedua orang tuanya untuk memberi pilihan.


"Baiklah, jika memang itu yang kamu inginkan. Tapi, apa kamu yakin dengan pilihan kami?"


Vania yang kembali mendapat pertanyaan dari ayahnya, kini menatap satu persatu diantara ketiga lelaki yang ada di depannya.


Vania mengangguk pelan.


Ergan dan Ergian yang tahu bakal adiknya yang menang, karena menunjukkan rasa cintanya, mereka berdua balik badan dan memilih pergi.


"Ergan, kamu yang kami pilih untuk menjadi suami dari putri keluarga Erlingga."


Seketika, Ergan maupun Ergian menghentikan langkah kakinya.


"Kamu yang menang, jangan pergi." Ucap Ergian yang memilih langsung pergi, karena namanya tidak untuk dipanggil.


Viktor yang mencintainya lebih dulu, harus menahan rasa sakit ketika cintanya bertepuk sebelah tangan. Sakit, kecewa, ingin marah, tapi hati kecilnya tidak mampu untuk melawan.


Dengan penuh kekecewaan, Viktor langsung pergi dan masuk ke dalam rumah dengan tubuhnya terasa lemas. Sedangkan Ergan, kini memutarbalikkan badan, dan mendekati orang tuanya.


"Pilihan awal akan tetap menjadi pilihan, dan sesuai keputusan. Jadi, kalian akan segera kami nikahkan secepatnya."


Ergan mengangguk.


"Terima kasih sudah memberi kepercayaan kepada saya, Tuan Daman. Saya akan menjaga amanat dari Tuan, yakni menikahi Nona Vania, dan bertanggung jawab atas dirinya." Jawab Ergan terdengar sangat santun.


Vania yang mendengarnya, pun terasa meleleh hatinya, ditambah lagi dengan sikapnya yang dingin, namun tetap santun.


"Akhirnya semua sudah selesai. Langkah selanjutnya adalah pernikahan mereka berdua, kita segera siapkan waktu yang tepat dan juga waktu yang baik. Kalau begitu kami pamit untuk pulang. Sampai bertemu lagi di kesempatan waktu yang akan datang." Ucap Tuan Daman sekaligus berpamitan.


"Sampai bertemu lagi, Tuan Daman dan Nyonya. Maaf, jika tidak ada jamuan di rumah kami." Jawab Tuan Robi.


Tuan Daman pun tersenyum.


"Tidak apa-apa, nanti jamuannya di rumah kami. Selamat malam, dan sampai bertemu lagi di kesempatan waktu, Permisi." Ucap Tuan Daman pamit pulang.


"Hati-hati diperjalanan, semoga selamat sampai rumah."


Tuan Daman bersama anak dan istri segera bergegas pulang.


Setelah keluarga Erlingga pulang, Ergan bergegas ke kamar.


"Ergan, tunggu." Panggil sang ayah saat Ergan hendak melangkahkan kakinya.


"Iya, Pa, ada apa?"


"Kamu gak menyesal, 'kan?"


Ergan menggelengkan kepalanya.


"Enggak, Pa. Ya udah ya, Pa, aku mau istirahat. Ma, Pa, selamat malam." Jawab Ergan dan pamit untuk istirahat, kedua orang tuanya mengangguk.

__ADS_1


Kini, tinggal lah Tuan Robi dan istrinya yang masih berada di ruang tamu. Seketika, keduanya teringat pada Viktor yang tengah kecewa dan sakit hati ketika cintanya di tolak.


"Mama mau menemui Viktor dulu ya, Pa. Kasihan dia, perasaannya pasti hancur. Tapi, mau bagaimana lagi, sesuai janji, Ergan yang harus dijodohkan, bukan Viktor."


"Iya, Ma. Sebenarnya Papa juga kasihan dengannya, tapi mau bagaimana lagi, kita tidak mempunyai pilihan." Jawab Tuan Robi merasa kasihan kepada putranya.


"Mungkin memang belum berjodoh dengan Viktor, makanya tidak akan bisa bersatu." Ucap istrinya Tuan Robi.


"Ya udah kalau gitu, Mama temui Viktor dulu, dan hibur dia. Mau bagaimanapun, dia putra kita." Kata Tuan Robi yang tengah meminta istri untuk menemui putranya.


"Ya, Pa. Papa duluan istirahat, nanti Mama nyusul." Ucapnya dan bergegas ke kamar putranya.


Sedangkan Viktor yang tengah berada di kamar, tengah memandangi foto kebersamaannya dengan Vania, kenangan kenangannya pun begitu banyak, dan kini yang tersisa hanyalah rasa sakit dan kecewa.


"Van. Apa masalahnya sampai-sampai kamu tidak mau menerima cintaku? kamu bilang, kamu ingin sendiri, tapi apa? kenyataannya kamu menerima perjodohan itu." Ucapnya lirih sambil mengusap foto bersama dengan Vania.


Ibunya yang baru saja masuk ke kamar karena pintu tidak terkunci, duduk di sebelah putranya.


"Maafkan Mama, Nak. Mama tidak bisa memberi pembelaan untuk kamu." Ucap sang ibu yang tiba-tiba membuat Viktor kaget.


Saat itu pula, Viktor langsung menoleh ke ibunya.


"Mama. Ada perlu apa Mama kemari? aku sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun, dan aku ingin sendirian." Jawab Viktor yang tidak ingin diganggu.


"Mama mengerti perasaan kamu. Tapi, kamu jangan menyiksa diri kamu seperti ini. Percayalah, jodoh tidak akan kemana, dan mungkin jodoh kamu sedang menantimu." Ucap sang ibu yang mencoba untuk meyakinkannya.


Viktor menggelengkan kepalanya.


Suara ketukan pintu tengah mengganggu konsentrasi antara anak dan ibu.


"Boleh, tapi kamu harus ingat batasannya." Jawab sang ibu.


"Juga, aku." Sahut Ergian yang juga ikut menimpali.


"Kamu." Ucap Ergan dan Viktor bersamaan.


Ergian nyengir kuda saat kakak dan adiknya ada kekompakan.


"Kenapa? aku juga kakaknya Viktor, ya 'kan, Ma?"


"Gak lagi mau adu jotos, 'kan?"


"Enggak, Ma. Tadi itu, Viktor hanya salah paham aja sama Kak Ergan, aslinya sih gak ada niat buat ngelawan."


"Ya udah kalau gitu, Mama keluar. Tapi ingat, jangan berantem lagi."


"Iya, Ma. Mama tenang saja, kita gak akan mengulanginya lagi." Jawab Ergian, sedangkan Ergan memilih diam.


"Awas, ya." Ucap sang ibu yang tak lupa memberi ancaman kepada ketiga anak laki-lakinya.


"Iya, Ma." Jawab ketiganya dengan serempak.


Setelah itu, ibunya keluar, mencoba untuk mempercayai ucapan dari ketiga putranya.


Kini tinggal lah Ergan bersama kedua adiknya tengah berada di dalam kamar.

__ADS_1


"Ada perlu apa Kak Ergan dan Kak Ergian kemari?" tanya Viktor setelah meletakkan fotonya dengan cara dibalik, takutnya dapat dilihat oleh Ergan maupun Ergian, kedua kakak kembarnya.


"Foto siapa itu?" tanya Ergan balik.


"Bukan foto siapa-siapa, teman sekolah." Jawab Viktor beralasan.


"Oh."


"Jawab pertanyaanku dulu. Ada perlu apa kalian berdua menemuiku?" tanya Viktor ingin tahu.


"Kita duduk dulu. Tidak baik ketika membicarakan sesuatu dengan posisi berdiri, capek." Jawab Ergian mengajaknya duduk ketimbang menjawab pertanyaan dari adiknya.


Ergan maupun Viktor segera duduk.


"Nah. Begini 'kan, enak. Kedatanganku menemui kamu itu- em."


"Satu-satu kalau mau bicara. Kak Ergan dulu, setelah itu baru Kak Ergian." Ucap Viktor yang langsung memotong pembicaraan kakaknya.


"Baik, yang paling tua dulu yang bicara." Jawab Ergian.


Ergan tiba-tiba terdiam, entah apa yang sedang dipikirkannya, sampai begitu fokus dengan posisi duduk dan terdiam.


"Kak Ergan, kenapa diam?" tanya Viktor membuyarkan lamunannya.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin berbicara sesuatu padamu." Jawab Ergan.


"Katakan saja." Ucap Viktor.


"Setelah aku pikir, aku sebagai Kakak yang sangat egois. Aku menyadari atas perasaan kamu kepada Vania. Maafkan aku. Kalau kamu benar-benar mencintainya, aku akan mundur."


"Bukankah tadi sudah Kakak katakan, bahwa Kakak akan mundur, tapi apa? Vania memilih keputusan yang diambil ayahnya, bukan keputusan yang diambil atas kemauannya. Lagi pula, Vania sudah beberapa kali menolak cintaku. Jadi, mungkin memang benar, dia bukan jodohku."


"Apa katamu? Kamu sudah beberapa kali di tolak oleh Vania? Terus, kamu masih mengejarnya?" tanya Ergian ikut menimpali.


Viktor akhirnya mengangguk dan mengakui semuanya.


"Aku tidak tahu apa alasannya, yang jelas dia selalu menolak dan membuat jawaban yang selalu sama." Jawab Viktor.


"Mungkin ada perempuan yang mencintaimu secara diam tanpa sepengetahuan kamu. Sedangkan Vania mengetahuinya. Jadi, alasan yang cukup kuat jika ada perempuan yang mencintaimu secara diam-diam. Makanya, Vania tidak mau mengatakannya padamu." Ucap Ergian menebak.


"Bisa jadi." Timpal Ergan.


"Entah lah. Aku sendiri tidak tahu. Aku hanya dekat dengan Vania, hanya dia."


"Coba kamu tanyakan kepada Vania, apa alasannya. Bentak dia sampai mengatakannya dengan jujur." Ucap Ergan ikut memberi saran.


"Untuk apa? gak penting. Sudahlah, kalian berdua ngapain masih di kamarku, ha? sudah sana sana pergi. Aku lagi males mikir apapun. Mendingan tuh, Kak Ergian sama Kak Ergan keluar."


"Aku tidak akan menikah jika hatimu masih terluka." Ucap Ergan.


"Gini aja, gimana kalau Vania tinggal di rumah ini?"


"Kau! otak licik apa lagi yang sedang kamu rencanakan, ha?"


"Lagian, satu gak mau nikah, satunya merasa gak diterima karena ditolak cintanya. Ya udah, buat aku aja. Siapa tahu aja, Vania tinggal di rumah ini bisa jatuh cinta denganku, dan kalian berdua akan menyesal. Apa? kenapa? cemburu kalian?"

__ADS_1


Viktor maupun Ergan sama-sama diam, dilema itu sudah pasti. Apalagi si Ergian memberi saran yang sama sekali tidak masuk akal, pikirnya.


__ADS_2