
Saat sudah tidak terlihat, Vania langsung melepaskan tangannya.
"Maaf. Tadi cuma drama. Satu lagi, jangan kepedean. Siapa juga yang mau menikah dengan mu. Aku masih curiga denganmu, pasti kamu yang udah mencelakai aku. Kamu sengaja melempar batu sembunyi tangan, dan kembaran kamu yang dijadikan sasarannya. Karena orang salah itu, pasti bersikap seolah-olah tidak melakukan kesalahan. Jahat banget kamu, mentang-mentang punya kembaran, cih." Ucap Vania sedikit mendengkus kesal.
"Kamu bilang apa tadi? aku yang mencelakai kamu? enak aja kalau ngomong. Memangnya mata kamu ada dimana? gak bisa bedain kah, antara di jalan dan di kampus?"
"Dah lah. Pokoknya aku menerima perjodohan denganmu itu, hanya sebatas sandiwara. Aku lagi males jalani hubungan pernikahan sama siapapun. Lelaki itu sama aja, suka menyakiti pasangannya." Ucap Vania yang akhirnya membahas soal perjodohan.
"Kenapa gak sama Viktor saja? dia lebih bisa diajak kompromi."
"Aku gak mau menjadi duri untuk sahabatku sendiri, ngerti gak sih kamu itu? lama-lama kamu ku jadikan adonan donat nanti, benar-benar menyebalkan." Ucap Vania sambil berkacak pinggang.
"Sudahlah, tidak perlu kamu membahasnya, aku mau langsung pulang. Kalau kamu mau pulang bareng, ya ayo. Kalau mau pulang bareng Viktor dan sahabatmu itu, juga terserah kamu."
Vania yang tidak ingin mengganggu Viktor bersama Henifa, pun tidak ingin merubah suasana. Jadi, mau tidak mau akhirnya ikut pulang bareng Ergan naik taksi.
Sedangkan Viktor yang tengah bersama Henifa, masih hening.
"Maafkan aku ya, Hen. Sepertinya aku tidak bisa menerima cinta darimu. Aku masih mencintai Vania, meski dia akan menikah dengan kakakku sendiri. Namun, perasaanku tidak bisa untuk di ubah. Biarlah aku tahan rasa sakitku ini, maafkan aku." Ucap Viktor yang akhirnya mengatakannya kepada Henifa.
Sakit, kecewa, sedih, itu sudah pasti tengah dirasakan oleh Henifa yang tengah ditolak cintanya.
"Tidak apa-apa. Maaf, sudah menjadi pengacau antara kamu dengan Vania. Mungkin kalau aku tidak pernah bercerita akan perasaanku, mungkin Vania akan menjadi milikmu. Sekali lagi aku minta maaf, atas kesalahan ku yang sudah lancang menaruh hati kepadamu." Jawab Henifa.
"Tidak apa-apa, itu hal yang lumrah." Ucap Viktor.
"Kalau begitu, aku pamit. Sekali lagi aku minta maaf, sampai jumpa." Jawab Henifa dan bergegas pergi dari hadapannya Viktor.
"Tunggu."
"Kenapa lagi?" tanya Henifa yang tengah menoleh ke arah Viktor.
"Kamu mau pulang dengan siapa? aku antar kamu pulang, bagaimana?"
Henifa menggelengkan kepalanya, yakni menolak tawaran dari Viktor.
"Gak usah, aku bisa pulang naik taksi. Ya udah ya, aku pulang duluan." Jawab Henifa dan memilih pulang sendiri naik taksi.
Viktor yang suasana hatinya sedang tidak lagi baik-baik saja, serasa malas mau melakukan aktivitas, termasuk untuk kembali ke kampus. Namun, dirinya memilih untuk pulang ke rumah, yakni untuk memenangkan pikirannya.
Lain lagi dengan Vania, kini tengah di antar oleh calon suaminya kembali ke kampusnya.
"Sudah sampai, silakan turun." Ucap Ergan membuyarkan lamunannya Vania.
"Eh udah sampai ya. Terus, jalan kaki, gitu kah?"
Ergan mengangguk.
"Ya, benar. Ini mobil taksi, dilarang memasuki arena kampus. Jadi, silakan turun." Jawab Ergan.
Vania justru menguap, rasanya benar-benar malas ketika harus berjalan kaki untuk memasuki area kampus.
__ADS_1
"Kenapa? gak mau turun? ya udah kalau gak mau. Pak, jalan, Pak. Tambahin kecepatannya."
Saat itu juga, mobil tengah melaju dengan kecepatan tinggi. Vania terkejut bukan main. Rasa kantuk yang tengah menyerang dirinya, kini seolah seperti sedang bermain wahana.
"Aaaaaaa! stop! stop! aku gak mati sia-sia, woi! aku belum nikah." Teriak Vania yang begitu heboh ketika mobil yang ditumpanginya tengah melaju dengan kecepatan yang tinggi, dan sangat menakutkan.
Ergan yang melihat Vania seperti ketakutan, pun tetap duduk dengan santai. Sedangkan Vania sendiri seperti senam jantung, tidak karuan rasanya hingga tidak kerasa sudah sampai di kantor miliknya Ergan.
Vania celingukan mencari tahu ada dimana dirinya.
"Dimana ini?" tanya Vania sambil mengamati disekitarnya.
"Sudah ayo turun, jangan banyak komentar ataupun protes." Jawab Ergan sambil melepas sabuk pengaman.
Dengan wajahnya yang dibuat cemberut dan juga kesal, Vania tidak mempunyai cara lain selain mengikuti ajakan darinya, meski sebenarnya ingin menolak.
Tidak ada pilihan lain selain nurut, Vania cepat-cepat segera turun dari mobil. Setelah itu, Vania mengikuti Ergan masuk ke kantor.
Sambil berjalan beriringan, semua yang melihat bosnya berjalan dengan seorang perempuan, tidak lepas dari komentar oleh para karyawannya.
Namun, Ergan sendiri tidak mempedulikannya.
Vania yang merasa risih ketika dirinya dijadikan pusat perhatian, ingin rasanya bersembunyi. Namun, apa lah dayanya, hanya bisa nurut.
"Selamat pagi, Bos." Sapa dari beberapa karyawan yang tengah berpapasan dengannya.
Vania yang merasa risih saat menjadi pusat perhatikan, ia berjalan tanpa menoleh kanan kiri, yakni tetap berjalan lurus ke depan.
"Ayo masuk. Satu lagi, jangan bikin gaduh atau membuat masalah, dan juga onar. Jadi, kamu harus bisa jaga sikapmu itu, ngerti." Ucap Ergan sebelum masuk ke ruang kerjanya.
Vania mengangguk pelan.
"Iya, ya." Jawabnya dengan mukanya yang terlihat masam.
Setelah itu, Ergan segera masuk ke ruang kerjanya, dan diikuti oleh Vania dari belakang.
"Duduklah di situ, tunggu aku sampai selesai pekerjaan ku. Jadi, jangan menambah masalah buatku, paham." Ucap Ergan memberi pesan dan juga ancaman.
Vania yang tidak bisa berkutik lagi, benar-benar terasa hambar ketika berada di dalam ruang kerja calon suaminya.
'Sial bener aku ini lah, mana gak jadi ke kampus, lagi. Itu orang ya, benar-benar menyebalkan. Tidak tahu apa, rasanya duduk di dalam kantor itu gak nyaman gini. Dia mah enak, ada kesibukan, lah aku.' Batin Vania dengan kesal.
Karena di dalam kantor terasa tidak nyaman, akhirnya Vania mencari ide agar dirinya tidak merasa jenuh di dalam kantor.
"Aku bosan di dalam ruangan kerja kamu ini. Bagaimana kalau aku keluar saja, membosankan." Ucap Vania mengajukan permintaan kepada calon suaminya.
"Boleh. Tapi ingat, jangan membuat onar sama masalah. Juga, jaga sikapmu di kantor ku ini, ngerti." Jawab Ergan yang tidak lepas dengan syarat dan juga ancaman.
Vania sama sekali tidak peduli, yang terpenting dirinya bisa keluar dari ruangan kerja miliknya calon suami.
Vania yang seperti menang lotre, pun merasa girang.
__ADS_1
"Di kantor kamu ini ada kantin, 'kan?" tanya Vania yang tiba-tiba merasa lapar.
"Ada. Nanti kamu tanya saja sama karyawan lainnya, atau OB." Jawab Ergan.
Vania tersenyum mengembang. Tanpa pikir-pikir lagi, Vania langsung keluar tanpa membawa tasnya.
"Akhirnya, aku tidak seperti di penjara." Gumamnya saat bari saja keluar dari ruang kerja calon suaminya.
Kemudian, Vania asal berjalan dan tidak peduli jika harus tersesat, pikirnya.
Sambil berjalan sendirian, lagi lagi yang lainnya tengah memperhatikan gerak geriknya Vania.
"Mbak, mbak, mbak, tunggu." Panggil Vania kepada salah satu karyawan yang berpapasan dengannya.
"Ya, ada apa? karyawan baru ya?" tanyanya sambil memperhatikan penampilan Vania yang udah berantakan karena di dalam mobil saat melaju dengan kecepatan tinggi.
"Iya, saya karyawan baru disini." Jawab Vania yang akhirnya berbohong, karena tidak ada cara lain selain berpura-pura.
"Karyawan baru, kirain pacarnya si Bos. Gak tahunya karyawan baru. Pasti pakai orang dalam, gak mungkin berangkatnya bisa bareng si Bos." Celetuk salah seorang karyawan ikut menimpali.
"Iya, tadi saya numpang sama si Bos. Soalnya tadi daftarnya di rumah Bos, maksudnya saya anak dari pembantunya." Ucap Vania yang kembali berbohong.
"Ada apa ini? bukannya bekerja, ini malah berkumpul."
Seorang wanita yang tidak kalah cantiknya, tengah menghampiri Vania dan karyawan lainnya.
"Ini, ada karyawan baru." Jawabnya.
"Anda siapa ya?" tanya Vania dengan entengnya.
"Dia ini sekretarisnya Bos Ergan. Jadi, jaga sikapmu dengan sekretaris Yuna." Jawab salah seorang karyawan yang memperkenalkan sekretaris Yuna.
"Oh. Sekretarisnya si Bos Ergan ya? maaf, saya tidak tahu." Ucap Vania.
"Ruangan kerja kamu mana? kenapa masih keluyuran. Sekarang ini udah jam kerja, cepat kamu kembali ke ruangan kerja kamu."
"Tapi, saya lapar. Jadinya saya mau ke kantin dulu, setelah itu baru kerja. Serius, aku udah minta izin sama si Bos." Kata Vania.
"Ada apa dengan kalian? sekarang sudah waktunya bekerja. Jadi, kembali ke tempat kerja kalian masing-masing, juga kamu." Ucap Ergan yang tiba-tiba datang untuk mengajak Vania agar tidak banyak drama dan membuat onar di dalam kantornya.
"Sedangkan kamu, ayo ikut denganku." Sambung Ergan yang langsung menarik tangan miliknya Vania.
Yuna yang sebagai sekretarisnya, pun kaget melihatnya. Juga karyawan lainnya yang juga terkejut melihatnya.
"Sekretaris Yuna, Bos Ergan kenapa? kok seperti sama pacarnya sendiri. Bukankah tadi bilang kalau dia itu karyawan baru. Wah wah wah, ternyata seleranya Bos kita bukan sekretarisnya, tapi karyawan baru." Ucap salah seorang karyawan laki-laki yang sengaja mengejek karena cintanya yang ditolak berkali-kali.
Yuna mengepal kuat tangannya yang terasa geram saat melihat Bosnya menggandeng wanita lain yang diketahui karyawan baru.
"Diam! kau Don. Jangan sekali-kali kamu mengusikku." Bentak Yuna dengan kesal.
"Makanya, jangan mencari di atas mu yang lebih, karena rasanya itu sakit." Ucapnya dan langsung pergi dan kembali ke ruang kerjanya.
__ADS_1
Yuna sendiri merasa cemburu ketika dirinya tidak diperhatikan.