Pilihan Yang Sulit

Pilihan Yang Sulit
Penjelasan


__ADS_3

Sesudah turun dari mobil, Ergan mengajak mereka bertiga ke suatu tempat yang sudah di siapkan sejak malam hari.


"Kamu tunggu disini, aku ingin berbicara penting dengan mereka berdua. Tidak apa-apa, 'kan?"


Ergan pun meminta Henifa untuk menunggunya. Dengan sedikit kesal karena tidak diizinkan ikut menjadi pendengar, Henifa tidak bisa memaksakan diri untuk ikut dalam obrolan mereka bertiga. Mau tidak mau, Henifa tetap harus menunggu dan tidak diizinkannya ikut berbicara.


"Baiklah. Aku akan menunggu kalian bertiga disini." Jawab Henifa sedikit ada rasa kesal, namun ditahan.


Setelah itu, Ergan mengajak Vania dan Viktor untuk membicarakan sesuatu.


"Ada apa sebenarnya, Kak? kenapa Kak Ergan mengajak kami berdua ke tempat ini?" tanya Viktor yang tengah membuka obrolan karena rasa penasarannya.


"Aku ingin membahas soal yang semalam. Juga, ingin memantapkan jawaban kalian berdua. Ada beberapa pertanyaan yang ingin aku sampaikan sama kamu, Vik. Jadi, bersediakah kalian berdua menjawab pertanyaan dariku?"


Vania maupun Viktor sama-sama saling menoleh satu sama lain.


"Kenapa harus dibahas lagi? bukankah keputusan semalam sudah benar?" tanya Vania yang juga menyimpan rasa penasaran.


"Karena aku merasa keputusan semalam belum membuat puas untuk aku maupun Viktor sendiri. Jadi, aku ingin mendengar jawaban kalian berdua dengan jelas." Jawab Ergan.


"Kak. Kenapa masih dibahas lagi? bukankah keputusan yang semalam itu sudah ditentukan? kenapa mesti dipertanyakan dan dibahas lagi?"


"Karena aku ingin mendengar jawaban yang sesungguhnya dari kalian." Jawab Ergan yang ingin mengetahui jawaban yang jelas, pikirnya.


"Iya, kenapa mesti mengulang kalimat yang sama?"


Vania pun ikut mengomentari.


"Aku hanya ingin jawaban kalian berdua hanya di hadapan ku, bukan di hadapan mereka. Juga, aku ingin tahu alasan dari kamu, kenapa kamu tidak mau menerima cinta dari adikku, apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan? secara adikku begitu tulus mencintai, mu. Bahkan, dia terang-terangan mengatakan cinta di depan keluarga mu, juga keluarga ku." Jawab Ergan dan bertanya soal Vania yang menolak cintanya sang adik.


Saat itu juga, Viktor pun merasa penasaran dengan jawaban yang diberikan dari Vania atas penolakan rasa cintanya kepada Vania.


Vania yang mendapat pertanyaan dari Ergan yang seolah tengah memaksa dirinya untuk berkata jujur. Diam, hanya itu yang bisa dilakukan oleh Vania karena bingung untuk menjawab dengan jujur atau berbohong di depan dua laki-laki yang seolah menjadi terdakwa.


"Kenapa diam? jawab pertanyaan ku. Kenapa kamu menolak cinta dari adikku, Vania? katakan dengan jujur di hadapan kamu, jangan sampai kamu menutupinya dan membuat rasa sakit dan kecewa kepada adikku. Jika kamu tidak mau berterus terang, maka aku tidak akan menuruti kehendak perjodohan, yakni menikahimu, tidak peduli jika di antara keluarga masing-masing akan saling membenci satu sama lain." Ucap Ergan dengan tegas.

__ADS_1


Vania yang seperti mendapat paksaan untuk menjawab pertanyaan dari calon suaminya, yakni meminta untuk menjawabnya dengan jujur.


Vania terdiam, antara jujur atau harus tetap berbohong, pikirnya.


"Ayo! jawab." Bentak Ergan yang sengaja menggertak calon istrinya itu.


Vania mendadak seperti jantungan, yakni rasanya sangat menakutkan dan sudah seperti terdakwa.


"Jawab, Van. Tolong jawab pertanyaan dari kakakku. Aku pun ingin mendengarnya langsung darimu, kenapa kamu menolak cintaku? padahal aku begitu tulus mencintaimu, dan menginginkan mu untuk menikah dengan ku. Juga cita cita yang sama, pernah terbesit dalam pikiranku untuk menikahi kamu dan menyelesaikan pendidikan kita di luar negri sesuai keinginan kamu."


Vania yang teringat soal melanjutkan kuliahnya ke luar negri, pun kembali teringat dengan seseorang yang pernah berkata jujur kepadanya.


Lagi-lagi Vania terdiam seribu bahasa, masih bingung dan tidak tahu harus memulainya dari mana.


"Kenapa masih diam? ayo! jawab."


Kali ini Ergan lebih tegas lagi menggertak calon suaminya degan tatapannya yang tajam. Bahkan, gebrakannya terdengar oleh Henifa, meski sedikit samar, tapi suara keras itu kedengarannya melengking.


"Ya! aku akan menjawabnya dengan jujur. Aku menolak cintanya Viktor ada poin yang tidak bisa aku rubah, ngerti. Aku tidak menaruhkan hatiku padanya itu, karena ada perempuan lain yang lebih dulu mencintainya. Dan aku, aku tidak tertarik dengannya karena wanita lain yang lebih rela menyembunyikan perasaannya dari pada harus mengungkapkannya dengan jujur. Dia! orangnya."


Tentu saja, Viktor kaget bukan main saat mendapat jawaban dari Vania yang begitu jelas, juga langsung menunjuk ke arah Henifa sebagai teman terdekatnya Vania diantara kedua temannya.


"Henifa yang lebih dulu mencintaimu. Dia sama sekali tidak berani mengatakannya padamu, karena dia tahu jika kamu menyukai ku. Aku tidak mau menjadi duri dibalik sahabatku sendiri, dan aku lebih menjaga perasaannya daripada aku harus belajar mencintaimu dan merebut khayalannya yang tengah mencintaimu." Ucap Vania yang akhirnya berterus terang.


Saat itu juga, Vania langsung mendekati Henifa untuk dihadapannya di hadapan Viktor, yakni untuk memberi kejujurannya.


"Vik. Sebenarnya ada apa dengan dirimu, Viktor, dan kakaknya Viktor?"


Henifa yang penasaran, pun bertanya sambil berjalan mengikuti langkah kaki Vania karena tengah menarik tangannya.


"Sebenarnya ada apa dengan kalian, Van?" tanya Henifa penasaran.


"Katakan kepada kami, yakni atas perasaan mu kepada lelaki yang kamu cintai dalam diammu. Katakan dengan jujur, kalau kamu mencintainya."


Vania pun langsung berbicara pada pokok intinya, dan tidak ada yang ditutup-tutupi soal kebenaran.

__ADS_1


Alangkah terkejutnya saat Vania membuka rahasianya di hadapan Viktor, juga di hadapan Ergan.


Viktor sendiri hanya diam, tidak tahu harus bagaimana untuk menyikapinya.


"Ayo jawab, Hen. Katakan dengan jujur, kalau kamu mencintai Viktor. Jangan kamu bohongi perasaan kamu, atau kamu akan menyesal." Ucap Vania yang tengah mendesak Henifa untuk berkata jujur.


Malu, takut, bingung, gugup, tengah dirasakan oleh Henifa yang seolah dirinya sudah seperti terdakwa ketika dirinya dicecar untuk mengatakannya dengan jujur, yakni tentang perasaannya.


Sedangkan Viktor sendiri tengah menunggu jawaban dari Henifa, yakni untuk memastikan kebenaran yang diucapkan oleh Vania.


"Iya. Aku memang mencintai Viktor, dan aku menyembunyikannya darinya, karena aku seorang perempuan yang tidak mungkin untuk mendahuluinya. Tapi, karena Vania memaksaku untuk berkata jujur, maka aku menjawabnya dengan jujur, tidak untuk berbohong. Kedengarannya memang konyol dan murahan, maka dari itu, ucapan ku ini tidak perlu untuk ditanggapinya dengan serius." Jawab Henifa yang akhirnya mengatakannya dengan jujur di hadapan Vania, Viktor, dan juga Ergan.


Jawaban yang membuat Ergan penasaran atas jawaban dari Vania, akhirnya terjawab sudah lewat Henifa, yakni perempuan yang telah mencintai adiknya dengan diam.


Vania yang merasa lega karena dapat menjelaskan alasan kenapa tidak bisa menerima cinta dari Viktor, karena ada perempuan yang lebih dulu menjaga perasaannya atas cinta yang tumbuh dihatinya.


Viktor yang mendengar kejujuran dari Henifa, sungguh sakit ketika untuk didengar. Cinta yang di harapkan oleh Viktor dari perempuan yang dicintainya, kini harus berakhir karena sebuah perjodohan. Sakit, itu sudah pasti.


"Sekarang gimana denganmu, Vik? apakah kamu akan menerima cinta dari Henifa? perempuan yang mencintaimu begitu lama memendam perasaannya, sama sepertimu yang memendam perasaan mu kepada Vania. Sekarang silakan ambil keputusan kalian, dan jangan sampai meninggalkan jejak kebencian diantara kalian." Ucap Ergan.


Ketiganya masih diam, yakni tidak tahu harus menjawabnya apa, dan bagaimana untuk menanggapinya.


Sedangkan Henifa yang belum mengetahui soal perjodohan antara Vania dan Ergan, ia mencoba mengatur pernapasannya. Kemudian ia mendongak.


"Aku pamit." Ucap Henifa.


"Tunggu." Panggil Ergan.


"Kenapa?"


Saat itu juga, Vania langsung menggandeng tangan miliknya Ergan.


"Kalian selesaikan masalah perasaan kalian, maksud aku perasaan kalian berdua. Aku tunggu di mobil." Ucap Vania yang sengaja memberi kode, bahwa dirinya telah memiliki pilihannya.


Ergan yang mengerti maksudnya, pun langsung mengikuti ajakan dari Vania.

__ADS_1


__ADS_2