Pilihan Yang Sulit

Pilihan Yang Sulit
Diujung kebahagiaan


__ADS_3

Nindi yang merasa jika Viktor memang sudah dekat dengan Vania, justru tertawa mendengarnya.


"Aku gak percaya sama kamu, Vik. Secara, kalau Vania memang dari golongan orang kaya, gak mungkin dong berpenampilan macam ini. Juga, kalau memang dia istrimu, gak gini gini amat, 'kan, penampilannya? sudah paham aku mah sama kamu, kalau kamu hanya menutupinya sebagai pembelaan." Ucap Nindi yang tetap tidak percaya.


"Vania adikku, kenapa? identitasnya memang tidak seheboh diri kamu yang pura-pura menjadi orang kaya. Tangkap dia, Pak Polisi." Sahut Vando sebagai kakak dari Vania tengah meringkus Nindi dari kejaran polisi.


Semuanya benar-benar terkejut.


"Lepaskan! apa salahku. Lepaskan! aku." Bentak Nindi melakukan pemberontakan, lantaran tidak terima ketika mendapat perlakuan yang menurutnya mencoreng nama baiknya.


"Lebih baik kamu jelaskan di kantor polisi, ayo." Jawab pak polisi sambil memborgol tangan miliknya Nindi.


Sedangkan didalam ruangan tengah terjadi kericuhan antara gengnya Nindi dengan teman-teman lainnya.


"Diam!"


Kali ini Vando yang membentak, berharap semuanya tenang dan tidak ada yang bersuara.


"Kalian tidak perlu melakukan keributan. Silakan nikmati pestanya. Jika ada yang ingin keluar, silakan. Acara ini sudah bukan menjadi urusannya Nindi, tetapi menjadi urusan saya, karena hotel ini milik dari bagian kami. Jika kalian penasaran, cari beritanya sendiri." Ucap Vando dengan sangat tegas.


Setelah mendengar penjelasan dari Vando, ada beberapa sebagian yang memilih pulang. Sedangkan sebagian yang berpihak kepada Viktor, tetap berada di dalam ruangan. Tentunya ingin mengetahui pasti soal Nindi, pikir mereka, termasuk Noni dan Henifa, maupun teman dekat dari Viktor. Juga, Vania sendiri ingin mengetahui kebenarannya.


"Memangnya Nindi kenapa, Kak?" tanya Vania kepada kakaknya.


"Ya, kenapa dengan Nindi?"

__ADS_1


Salah satu teman Viktor, pun ikut bertanya.


"Jadi begini. Nindi tengah menjadi buronan polisi, dan kami mendapat informasi untuk menjaga ketat hotel ini. Rupa-rupanya, ternyata Nindi masuk ke hotel ini dan membuat acara. Kasus Nindi soal narkoba. Dia bandar narkoba, juga penyelundupan barang-barang ilegal lainnya." Jawab Vando menjelaskannya dengan detail.


Seketika, semua yang ada didalam ruangan tersebut, langsung tercengang. Nindi yang dikenal orang kaya yang sombong, rupanya ada tindak kejahatan yang disembunyikan. Berbanding terbalik dengan Vania, justru menyembunyikan identitasnya agar dirinya dapat bergaul dengan siapapun, serta mendapat teman yang benar-benar tulus. Bahkan, Viktor sendiri tidak mengetahui jika Vania tidak lain adalah anak dari sahabat dekat orang tuanya sendiri, juga memiliki kerjasama dalam bisnis.


Ketika sudah mendapatkan penjelasan yang akurat, akhirnya semua dapat bernapas dengan lega. Kemudian, menikmati sisa-sisa acara yang sebenarnya belum dimulai.


Tidak ada lagi acara yang penting, satu-persatu meninggalkan ruangan tersebut, termasuk Noni bersama Henifa, juga dengan teman-teman yang lainnya.


Kini, tinggallah Vania dengan Viktor, dan kakaknya.


"Sudah hampir larut malam, pulanglah. Atau, mau menginap di hotel." Ucap Vando mengingatkan.


"Kami berdua memang sudah berencana menginap di hotel, kamar yang dipakai ada di bawah. Jadi, jika Kak Vando mau pulang, silakan. Jika mau menginap, silakan." Jawab Viktor.


"Malam juga, Kak." Jawab Viktor.


Setelah itu, Vando bergegas pulang. Sedangkan Viktor bersama Vania segera kembali ke kamar hotelnya.


Saat sudah berada di dalam kamar, Vania duduk di tepi tempat tidur, dan Viktor ikutan duduk di sebelah istrinya.


"Nggak nyangka ya, kalau Nindi gak tahunya setara jadi orang jahat." Ucap Vania.


"Namanya sesuatu tuntutan untuk menjadi wah atau biar dipandang berkelas, tentu saja segala cara dilakukan. Tapi ya sudah lah, itu semua sudah menjadi resikonya. Sudah malam jugaan, ayo kita tidur, istirahat." Jawab Viktor.

__ADS_1


Vania masih diam, sama sekali tidak menjawab. Viktor pun merasa aneh dengan istrinya.


"Kamu kenapa?" tanya Viktor penasaran.


"Tidak apa-apa." Jawab Vania dan langsung membenarkan posisinya menghadap pada sang suami.


"Oh. Apa karena bingung mau tidur dimana? aku gak maksa kamu untuk tidur satu ranj_ang. Aku bisa tidur di kamar lainnya."


"Bukan itu maksud aku, gak apa-apa kok, kalau kamu mau tidur satu ran_jang denganku. Kan, kita suami-istri."


"Nanti aku nakal, gimana? bisa aja aku jadi aneh. Maksudnya, sebagai lelaki normal." Ucap Viktor dengan serius.


"Enggak apa-apa kok. Aku sudah siap menerima kamu untuk menjadi suami aku. Kamu berhak memiliki aku sepenuhnya, seperti yang kamu harapkan. Jiwa serta ragaku, aku siap menjadi milikmu seutuhnya." Ucap Vania dengan tatapan yang juga serius.


Viktor yang mendapat jawaban dari istrinya, pun tersenyum bahagia. Bukan lagi mimpi, tetapi kenyataan.


Saat itu juga, Viktor langsung memeluk istrinya dengan penuh kebahagiaan.


"Terima kasih ya, sayang. Akhirnya aku mendengarkan langsung dari ucapan mu yang sangat aku nantikan. Aku sangat bahagia mendengarnya. Aku janji, aku akan membahagiakan mu dengan segenap jiwaku. Juga, aku akan bertanggung jawab atas diri kamu."


Viktor pun bahagia dengan ucapan yang terlontar oleh istrinya.


"Terima kasih, karena kamu begitu tulus mencintaiku. Aku akan belajar dari kamu, yaitu mencintai mu." Ucap Vania yang masih berada dalam pelukan suaminya.


Dan akhirnya, Vania mampu menerima kehadiran seorang Viktor yang dianggap teman baiknya, kini telah diterima dengan tulus sebagai suaminya.

__ADS_1


Terkadang cinta memang sulit untuk ditebak, sekalipun pengakuan, jika hati belum terketuk, tetap saja akan sulit untuk membukakan pintu hatinya kepada lelaki lain. Tapi, siapa sangka, jika Vania akhirnya menerima Viktor sebagai suaminya.


TAMAT.


__ADS_2