Pilihan Yang Sulit

Pilihan Yang Sulit
Kembali ke ruangan


__ADS_3

Setelah menikmati makanan, Vania dan Ergan kembali ke ruangan. Saat sudah berada di dalam ruangan, Vania memilih untuk menyibukkan diri dengan ponselnya daripada harus berdebat dengan calon suaminya.


Saat itu juga, rupanya ada yang menekan tombol, Ergan langsung membuka pintunya hanya sekali tekan.


Pintu pun terbuka dengan lebar, kemudian ada yang masuk. Siapa lagi kalau bukan kembarannya, yakni si Ergian.


"Kamu!"


Keduanya sambil menuding satu sama lain.


Arah pandangannya Ergian tertuju pada Ergan, kembarannya sambil menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Aku yang sengaja membawanya ke kantor, dia malas turun dari mobil, dan aku membawanya kemari." Ucap Ergan.


"Bukan urusanku. Aku datang kemari hanya untuk mengantarkan undangan pertemuan dengan perusahaan Group Derwangga. Ada kesempatan emas untukmu, jatuh kerja sama di luar negri. Jadi, kamu bisa bawa kabur itu perempuan ke luar negri, biar lebih aman." Jawab Ergian sambil menyodorkan kertas undangan kepada saudara kembarnya.

__ADS_1


Vania yang mendengar kalimat luar negri, seolah seperti mendapatkan kesialan.


"Aku gak mau, kamu aja sana yang menemani saudara kembar mu. Aku sih ogah, males jugaan."


"Kamu ini gimana, katanya mau kuliah ke luar negri? hem." Timpal Ergian.


"Udah gak kepingin. Males juga buat mikir, karena mikirin kembaran kamu aja udah rumit, udah gitu suruh kuliah, yang ada otakku tak mampu menampungnya." Jawab Vania dengan wajah yang dibuat cemberut, juga semakin terasa geram dan juga kesal.


"Ah sudahlah. Aku mau ada perlu, silakan ambil keputusan kalian setelah menikah." Ucap Ergian dan langsung keluar dari ruang kerja saudara kembarannya.


Merasa jenuh dan juga kesal, ingin rasanya ingin cepat-cepat pulang, pikirnya.


Cukup lama harus berada di dalam kantor, sampai tidak terasa sudah waktunya jam istirahat dan makan siang. Namun, karena masih terasa kenyang, rupanya Vania tertidur tanpa disadari oleh Ergan yang masih sibuk dengan kerjaannya.


Namun, tiba-tiba arah pandangannya tertuju ke arah Vania yang terlihat tidur dengan pulas.

__ADS_1


Karena melihat posisinya yang tidak mengenakan, akhirnya bangkit dan mendekatinya. Kemudian, Ergan membenarkan posisinya. Nahas, Vania langsung melingkarkan kedua tangannya tepat di bagian lehernya Ergan hingga kesulitan untuk berdiri.


"Aku tuh maunya menikah dengan orang yang bertanggungjawab, bukan dengan lelaki yang suka kabur dari tanggungjawab. Juga, aku pantang untuk menikah dengan lelaki yang dicintai perempuan yang aku kenal, apalagi sahabat, aku tidak akan pernah menaruh hati." Ucap Vania sambil mengigau dengan asal.


Ergan yang mendengarnya, pun tidak menanggapinya, dan mencoba untuk melepaskan tangan miliknya Vania yang tengah melingkar di bagian lehernya yang terasa sakit karena tenaga Vania yang lumayan cukup kuat.


Pelan-pelan dan hati-hati, Ergan akhirnya dapat melepaskan tangannya dan dapat bernapas dengan lega.


Setelah membantu Vania untuk mengubah posisi tidurnya, Ergan langsung membuang napasnya dengan kasar. Kemudian, Ergan segera memesan kopi panas dan juga yang pahit untuk menemani jam istirahat.


Sambil menunggu kopi panas, Ergan membereskan meja kerjanya.


Tidak menunggu lama, kopi panas yang ia pesan akhirnya datang juga. Karena tidak ingin menganggu calon istrinya yang tengah tidur dengan pulas, Ergan tetap duduk santai di tempat duduknya.


Saat baru menyeruput minuman kopi, tiba-tiba dirinya teringat soal Vania yang tengah mengigau soal tanggung jawab bagi seorang laki-laki. Juga, ucapannya seperti tamparan bagi dirinya sebelum menikah.

__ADS_1


__ADS_2