
Sambil berjalan beriringan, Viktor langsung menggandeng tangan milik istrinya.
Vania langsung berhenti, dan mendongak ke suaminya.
"Kenapa? apakah ada yang tertinggal?" tanya Viktor yang belum mengerti.
Kemudian, Vania langsung mengarahkan pandangannya ke tangannya.
"Oh. Kenapa? gak mau aku gandeng. Nanti takutnya kehilangan jejak. Jadi, mendingan nurut saja, oke."
"Kamu ini ya, udah macam orang gak percayaan saja denganku. Tenang aja, aku gak bakal hilang." Jawab Vania dengan ketus.
Viktor hanya tersenyum mendengarnya. Kemudian, langsung melepaskan tangan milik istrinya. Vania sendiri merasa bebas dan berjalan tanpa ada yang membuatnya kesal.
"Hari ini jatah kamu berbelanja. Silakan beli segala macam kebutuhan kamu. Juga, pakaian lengkap kamu." Ucap Viktor sambil mengikutinya dari belakang.
"Oke. Baiklah, aku akan berbelanja." Jawab Vania dan langsung menyambar sesuatu yang dia inginkan.
Sedangkan Viktor sendiri mengikutinya dari belakang sambil mengamati di sekeliling istrinya.
"Vik! Hei."
__ADS_1
Tiba-tiba datang seseorang tengah mengagetkan Viktor.
"Zuna, Elu. Ngapain ada disini? bukannya kamu ke luar negri?"
"Ah! kaya gak tahu aja sama diriku. Aku lagi dikasih libur sama bokap. Sebenarnya sih, males banget harus kuliah di luar negri. Tapi, mau kek mana lagi. Jodoh mungkin kitanya. Kamu kapan rencana berangkat ke luar negeri?"
Viktor tersenyum.
"Aku sudah menikah. Dia istriku. Jadi, aku putuskan untuk tidak melanjutkan kuliah di luar negri. Tapi, gak tahu juga nanti. Kalau istriku mau merubah pikiran, mungkin lanjut ke luar negri." Jawab Viktor, dan langsung mengatakannya dengan jujur, serta menunjuk ke arah Vania yang statusnya sudah menjadi istrinya.
Vania yang kebetulan menoleh dan mendengar pengakuan dari Viktor, langsung menyibukkan diri dengan belanjaannya.
Viktor langsung menghampiri Vania dan meraih tangannya, serta mengajaknya untuk diperkenalkan dengan Zuna.
"Perkenalkan, dia Vania istriku." Ucap Viktor memperkenalkan istrinya.
"Zuna."
"Vania. Salam kenal kembali." Jawab Vania sambil mengulurkan tangannya.
"Selamat ya, atas pernikahan kalian. Semoga bahagia." Ucap Zuna memberi ucapan selamat kepada Vania, juga Viktor.
__ADS_1
"Terima kasih." Jawab Viktor dan Vania secara bersamaan.
"Ya udah ya, aku duluan." Ucap Zuna dan langsung pamit pergi.
Viktor mengangguk, juga Vania tersenyum dan mengangguk.
Setelah tidak terlihat lagi bayangan Zuna, kini tinggal Vania dan Viktor yang masih berdiri.
"Sepertinya perempuan tadi menyukai kamu." Ucap Vania yang langsung pergi begitu saja.
Nahas. Viktor langsung menyambar lengannya.
"Van. Jangan menambah masalah. Aku harus bilang beberapa kali sih sama kamu, kalau aku hanya menyukai kamu, tidak untuk perempuan lain. Kalaupun aku mau, aku sudah pacari Henifa, atau perempuan tadi. Tapi, aku tidak tertarik." Sahut Viktor yang tidak peduli dengan orang-orang yang dapat mendengarkannya.
"Sudahlah, lepaskan. Aku belum selesai berbelanja. Juga, badanku pada capek, aku ingin cepat-cepat makan siang dan istirahat. Jadi, jangan gangguin aku." Ucap Vania dengan mukanya yang terlihat masam.
Bukannya marah atau kesal, justru Viktor tersenyum ketika istrinya ada rasa jengkel padanya.
'Apa mungkin kamu mulai cemburu? semoga saja. Dengan begitu, aku memiliki peluang emas untuk memilikimu seutuhnya.' Batin Viktor sambil berjalan mengikuti langkah istrinya dari belakang.
Vania sendiri justru terngiang-ngiang dalam benak pikirannya soal pertemuan Viktor dengan Zuna.
__ADS_1