Pilihan Yang Sulit

Pilihan Yang Sulit
Dikejutkan


__ADS_3

Sudah cukup waktunya untuk istirahat, Ergan kembali melanjutkan pekerjaannya agar tidak terbengkalai, dan segera pulang ke rumah. Sedangkan Vania sendiri tengah tidur dengan pulas, lantaran suhu ruangan yang cukup dingin.


Sambil menyibukkan diri dengan layar komputer, Ergan berkali-kali menoleh ke arah Vania yang tidur pulas.


Kemudian, Ergan segera menyelesaikan pekerjaannya.


Cukup lama saat menyelesaikan pekerjaannya, akhirnya selesai juga. Setelah itu, Ergan membereskan meja kerjanya.


Saat meja kerjanya sudah dibereskan, Ergan mendekati Vania. Karena tidak ingin mengganggu calon istrinya yang sedang tidur pulas, Ergan meminta salah seorang karyawannya untuk membawakan tas miliknya dan tas milik calon istrinya.


Salah seorang karyawannya datang, Ergan memintanya untuk membawakan tasnya.


"Tolong bawakan tasnya sampai di mobil, sekalian pintunya ditutup kembali." Perintah Ergan kepada karyawannya.


"Baik, Bos." Jawabnya dengan anggukan.

__ADS_1


Setelah itu, ia segera keluar. Sedangkan Ergan pelan-pelan menggendong calon istrinya agar tidak terbangun dari tidurnya.


Sambil berjalan, juga sambil menggendong perempuan yang tidak lain calon istrinya, kini telah menjadi pusat perhatian oleh para karyawannya yang melihat. Bahkan, beberapa karywan tengah membicarakan bosnya.


Yuna yang melihatnya, pun sangat terkejut ketika bosnya tengah menggendong perempuan yang ia ketahui sebagai karyawan baru di kantor miliknya Ergan.


"Yuna, ada apa? minggir, aku mau lewat."


"Dia ini siapa, Bos?" tanya Yuna karena penasaran.


"Dia calon istriku, kenapa? cepetan minggir, aku mau lewat." Jawab Ergan yang sudah tidak sabar ketika jalannya yang dihalangi.


Saat itu juga, Vania terbangun dari tidurnya yang tengah berada gendongan calon suaminya.


"Lepaskan aku, maksudnya turunkan aku." Ucap Vania mengagetkan dan langsung turun dari gendongan calon suaminya.

__ADS_1


"Eh, ada apa ini? kok aku ada di gendongan kamu?" sambung Vania yang masih belum terkumpul kesadarannya, merasa bingung pastinya saat berada di gendongan calon suaminya.


"Tidak ada apa-apa, ayo kita pulang." Jawab Ergan yang langsung menarik tangan milik calon istrinya.


Vania yang merasa bingung, hanya bisa mengikuti langkah kaki calon suaminya yang cukup gesit, hingga Vania sendiri kualahan untuk mengimbanginya.


Sedangkan Yuna yang merasa geram dan kesal ketika bosnya mengatakan bahwa Vania adalah calon istrinya, tentu saja terbakar oleh api cemburu.


"Katanya karyawan baru, kok calon istrinya? wah wah wah, ke salip dong sama cewek lain. Yang sabar, ya." Celetuk seseorang yang tengah mengagetkan Yuna yang sedang cemburu ketika bosnya menjawab pertanyaan darinya.


"Diam! kamu." Jawab Yuna dan langsung pergi begitu saja.


Teman-teman karyawan yang lainnya pun tertawa ketika melihat Yuna tengah kesal karena cintanya tidak ada balasan dari bosnya.


"Makanya jadi orang gak usah sombong. Baru juga jadi sekretaris, udah belagu. Giliran si Bos punya calon istri, cemburu." Ucap salah seorang karyawan yang tidak menyukai sosok Yuna.

__ADS_1


"Ya iyalah, mana mungkin si Bos mau menikah dengan perempuan biasa biasa saja, pasti juga melihat dari bibit, bebet, dan bobotnya. Apalagi seorang bos, jarang ditemui menikahi perempuan asal. Kecuali yang mendapatkan keberuntungan, itupun tetap ada nilai plusnya." Timpal salah seorang karyawan yang juga ikut berkomentar soal sekretaris dan si bos.


"Bener banget. Kita tunggu aja hari pernikahannya, pasti dalam surat undangan akan kita ketahui pihak keluarga perempuan." Ucap salah satunya lagi yang juga ikut mengomentari.


__ADS_2