Pilihan Yang Sulit

Pilihan Yang Sulit
Diajak ke suatu tempat


__ADS_3

Setelah melewati malam, paginya tengah disambut dengan sinar mentari yang menghangatkan tubuh maupun yang lainnya.


Vania yang sudah siap untuk berangkat ke kampus, ia tengah menikmati sarapan pagi bersama kedua orang tuanya.


"Pa, kapan kak Vando pulang?" tanya Vania sambil mengunyah makanan.


"Nanti siang kakak kamu pulang, kenapa?"


"Gak apa-apa, cuma tanya aja. Soalnya udah lama gak ketemu, pingin jalan-jalan bareng kak Vando." Jawab Vania yang tengah menikmati sarapan pagi.


"Oh. Kirain Papa kenapa. Ya udah, habisin dulu sarapannya, setelah itu berangkat kuliah." Ucap sang ayah.


"Iya, Pa." Jawab Vania yang tengah mengunyah makanannya yang terakhir.


"Jangan bikin gaduh lagi di kampus, Mama sama Papa tidak suka itu." Ucap sang ibu menimpali.


"Ya, Ma. Tenang aja, sekarang Vania gak akan lagi membuat masalah ataupun perkara. Ya udah ya, Ma, Pa, Vania berangkat dulu, Bye." Jawab Vania yang langsung menyambar tasnya yang ada di tempat duduk yang berada disebelahnya.


Begitu juga dengan keluarga Nugraha, Ergan bersama kedua saudaranya dan kedua orang tuanya yang baru saja selesai sarapan pagi, mereka sama juga dengan keluarga Erlingga yang tengah bersiap-siap untuk berangkat ke tempat kerja ataupun ke kampus.


Ergan yang sudah siap berangkat, dirinya teringat dengan janjinya, yakni untuk menyelesaikan masalahnya dengan adiknya, juga Vania, perempuan yang akan dijodohkan dengannya.


"Vik, kita berangkatnya bareng aja. Soalnya aku ada urusan penting sama kamu. Untuk mobil, biar pak Kamul yang membawa mobilmu. Jadi, kamu akan satu mobil denganku." Ucap Ergan yang mengajak adiknya untuk satu mobil.


Sedangkan Ergian sendiri hanya menjadi pendengar setia untuk kakak dan adiknya. Begitu juga dengan kedua orang tuanya, tengah melakukan hal yang sama seperti Ergian yang memilih diam dan menjadi pendengar setia.


Viktor yang mendapat ajakan, dirinya sempat terdiam sejenak. Kemudian, dirinya tengah memberi keputusan.


"Baiklah. Aku akan turuti kemauannya Kakak." Jawab Viktor dengan tegas, Ergan pun akhirnya tersenyum.


Ketika mendapat persetujuan dari adiknya, Ergan segera berangkat untuk mengantarkan adiknya ke kampus.


Dalam perjalanan, keduanya sama-sama diam, kelihatan sekali jika mereka berdua seperti tidak ingin berdebat. Sebisa mungkin untuk tidak saling emosi.


Tidak memakan waktu yang lama untuk menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya sampai juga di halaman kampus.


"Katanya mau mengatakan sesuatu padaku, apa itu?" tanya Viktor sambil melepaskan sabuk pengaman.


Viktor terpaksa bertanya, meski itu semua hanyalah hayalan semata saja.


"Kita tunggu Vania datang, baru aku akan mengatakannya padamu, tapi tidak didalam kampus ini. Cepat kamu hubungi Vania, dan suruh menghampiri kita." Jawab Ergan yang berusaha untuk tetap tenang dan tidak untuk gegabah ketika ingin membicarakan sesuatu dengan adiknya, juga Vania sebagai calon istrinya.


"Baiklah. Jika itu yang Kak Ergan inginkan, aku akan segera menghubungi Vania." Ucap Viktor mengiyakan.

__ADS_1


Seperti yang diminta sang kakak, Viktor segera menghubungi Vania.


Saat sambungan telepon tersambung, Vania yang baru saja sampai di halaman kampus, pun langsung menerima sebuah panggilan dari Viktor.


'Ada apa dia menelpon ku?' gumam Vania bertanya-tanya soal Viktor tengah menghubunginya.


Karena penasaran dan ingin tahu, akhirnya menerima panggilan dari Viktor.


"Ada apa, Vik?" tanya Vania lewat sambungan telepon.


Kemudian, dengan fokus mendengar apa yang akan disampaikan oleh Viktor.


Dibalik sambungan telepon, Viktor akhirnya mengatakannya dengan jujur soal memintanya untuk menemui di halaman kampus yang disebutkan.


Tentu saja, Vania yang tengah mendengarkannya dengan fokus, pun kaget saat Viktor mengatakan atas keinginannya sang kakak.


Di lain sisi, Vania yang diminta untuk menemui Viktor dengan lelaki yang menjadi calon suaminya, tidak ada pilihan lain selain mengiyakan.


"Baiklah, aku akan menemui kamu." Jawab Vania lewat sambungan telepon ketika Viktor membujuknya.


Kemudian, sambungan telepon pun terputus.


"Ada apa lagi dengan mereka? apa iya, mereka itu berantem lagi? kurang kerjaan macam orang ingin jadi jagoan saja." Gumamnya yang tengah bertanya-tanya soal kakak-beradik yang kedengarannya saling berpendapat.


Sedangkan Viktor dengan kakaknya tengah sabar menunggu seseorang yang dinantikannya.


Ketika melihat Vania yang sedang berjalan menuju ke arah mobil yang ditumpanginya, Viktor langsung melambaikan tangannya untuk memberi kode.


Vania yang dapat melihatnya dan paham siapa yang melambaikan tangan, pun langsung berjalan mendekatinya.


Viktor langsung membuka pintu mobilnya.


"Ayo masuk." Ucap Viktor.


"Kemana?" tanya Vania.


"Tidak kemana-mana, hanya ingin membicarakan sesuatu saja." Jawab Viktor.


Vania yang dapat melihat jika didalam mobil ada calon suaminya, merasa yakin jika yang akan dibicarakan pasti soal perjodohan, pikirnya.


"Kenapa diam? ayo masuk."


"Mau kemana kalian berdua? aku ikut."

__ADS_1


Tiba-tiba sosok perempuan datang dan mendaftarkan diri untuk ikut.


Vania langsung menoleh.


"Henifa." Viktor maupun Vania menyebutkan namanya.


"Kalian mau kemana? ikut ya."


Vania menatap Viktor sambil meminta jawaban.


"Aku setuju kalau Henifa ikut, karena aku tidak ingin sendirian, setidaknya aku dan Henifa ikut, lagi pula ada kakak kamu, 'kan? ya udah, biar adil dan gak ada yang sendirian, gimana?"


"Aku setuju, jika Henifa ikut." Ucap Ergan langsung menimpali, serta menyetujuinya.


"Iya, benar, aku juga sangat setuju." Sambung Vania yang juga ikut menyetujuinya.


Viktor yang tidak punya pilihan lain, pun mengiyakan atas permintaan mereka bertiga.


"Ya udah, kalian boleh naik." Ucap Viktor dan terpaksa mengiyakan.


Setelah itu, Vania dan Henifa akhirnya naik ke mobil. Kemudian, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju tempat yang sudah ditunjukkan oleh Ergan.


Saat dalam perjalanan yang tidak jauh dari kampus, mereka semua yang ada didalam telah hening dan tidak ada yang membuka suara.


"Kalau boleh tahu, kita mau kemana?" tanya Vania yang akhirnya angkat bicara.


"Tidak kemana-mana, nanti juga bakal tahu sendiri." Jawab Ergan tanpa menoleh ke belakang.


"Loh, ada kakak kamu yang kemarin itu? aduh! jangan-jangan- Vania, kita gak lagi sedang masuk perangkap, 'kan?"


Henifa yang menyadari jika di dalam mobil selain Viktor itu teman kampusnya, justru malah kakaknya Viktor sendiri. Tentu saja, Henifa langsung teringat soal kejadian Vania yang menyemburkan air dalam botol mineral di khalayak umum.


"Iya, ada kakaknya Viktor." Jawab Vania dengan jujur.


"Van, kita gak lagi mau dikerjain, 'kan? kok dari tadi kamu gak ngomong sih. Kenapa baru sekarang kamu bilangnya? aduh! bisa jadi adonan kita ini, tau." Ucap Henifa dengan cara berbisik di dekat daun telinganya Vania, yakni agar tidak kedengaran oleh Viktor maupun Ergan.


Vania justru tersenyum.


"Malah senyum, lagi. Kamu gak tahu ya, ini sangat mencekam, macam menjadi tahanan saja, tau Van." Bisik Henifa yang tengah bergidik ngeri ketika dirinya mendapat kesialan, pikirnya.


"Kita sudah sampai, ayo turun." Ucap Viktor yang mengagetkan Vania maupun Henifa.


Tanpa menjawab, keduanya langsung turun dari mobil. Begitu juga dengan Ergan maupun Viktor, juga ikutan turun.

__ADS_1


__ADS_2