
Vania yang melihat sosok suami tengah berdiri dibelakangnya, pun nyengir kuda.
"Aku sudah ke kantor, dan tidak ada informasi apapun untuk hari. Nanti akan mendapatkan pesan dari pihak kampus. Jadi, kita tidak lagi membuang-buang waktu untuk datang ke kampus. Ayo, kita pulang." Ucap Viktor yang langsung menggandeng tangan milik istrinya.
Tentu saja membuat Vania menjadi malu, dan hanya bisa nurut dengan ajakan dari suaminya.
"Cie ... jangan lupa nanti malam berangkat ya, dandan yang keren buat kalian, biar bisa menutup mulut orang-orang suka komentar macam Nindi." Ucap Noni.
"Tenang saja, semua bisa aku atur." Jawab Viktor dan langsung menarik tangan istrinya.
Vania yang kesulitan untuk mengimbangi langkah kaki suaminya, pun susah payah agar tidak terpeleset.
"Kita mau pergi kemana? masa' pulang."
Viktor langsung menghentikan langkah kakinya. Kemudian, ia memutarbalikkan badannya, dan menatap serius pada Vania.
"Apakah kamu udah lupa? hem. Kita akan pergi berbelanja, dan sekaligus menikmati liburan kita hari ini. Jadi, siapkan diri kamu agar tidak merengek kelelahan." Jawab Viktor.
Sedangkan Vania hanya memasang muka masamnya.
__ADS_1
"Kita gak punya waktu lama, ayo aku antar dan temani kamu untuk berbelanja." Sambungnya dan berjalan menuju parkiran.
Vania yang tidak bisa melakukan penolakan, hanya bisa nurut dan pasrah dari pada terus berdebat.
'Mimpi buruk apa lagi sih, sampai-sampai aku harus bersuamikan teman sendiri. Oh! sungguh mimpi buruk untukku.' Batin Vania dengan kesal sambil berjalan mengikuti suaminya dari belakang.
Setelah sudah berada didalam mobil, Vania duduk sambil menatap luar jalanan agar tidak bertambah gugup dan salah tingkah.
Viktor yang tengah menyetir mobil, ia lebih memilih fokus dengan setirnya.
Dengan perasaan yang masih ada rasa kesal, sekilas menoleh ke arah suaminya. Nahas, saat itu juga si Viktor tengah menoleh ke arah istrinya, dan kembali menatap lurus ke depan.
Vania masih tetap tidak menoleh.
"Dih! kepedean banget, kamunya. Siapa yang grogi, biasa aja kok." Jawab Vania dengan ketus.
Viktor sendiri justru tersenyum mendengar ucapan dari istrinya, yakni dengan ekspresi yang cukup menggemaskan.
"Kalau gak grogi, kenapa kaku kek gitu. Biasa aja denganku. Kalau kamu terasa gak nyaman dengan status kita ini, anggap saja kita masih berteman, dan biasa aja ketika kita bersenda gurau. Awas loh, nanti sekali aku diemin kamu, cemburu kek tadi." Ucap Viktor lagi-lagi meledek istrinya.
__ADS_1
Saat itu juga, Vania langsung menoleh ke sebelahnya.
"Kamu bilang apa tadi? cemburu? kapan aku cemburu sama kamu, terlalu kepedean kamu mah, hem."
"Dah sampai. Ayo kita turun. Gak usah dibahas lagi, kita cari topik yang lainnya, agar kamu tidak semakin tegang." Ucap Viktor sambil melepaskan sabuk pengaman dan bergegas turun dari mobil.
Vania yang terasa geram, hanya berdecak kesal.
"Kenapa jadi nyebelin gitu sih dianya, aih. Kenapa mesti menikah dengan itu kunyuk. Udah jelas jelas bener sama kakaknya, malah sama model dia, dih. Jangan sampai deh jatuh cinta sama kunyuk macam dia, gak banget, nyebelin." Gumamnya sambil memasang muka cemberutnya.
Tanpa disadari, Viktor dapat mendengarkannya langsung karena pintu telah dibuka oleh dirinya.
"Udah ngomelnya?" tanya Viktor yang mendadak membuat Vania seperti jantungan.
Viktor sendiri tersenyum pada istrinya.
Seketika, Vania langsung menoleh dan melotot dan bengong ketika ucapannya dapat didengar oleh suaminya.
"Gak ada yang lucu. Jadi, gak perlu lah kamu itu senyum senyum di atas deritaku. Minggir. Aku mau keluar." Jawab Vania dengan ketus.
__ADS_1
Viktor segera menyingkir untuk memberi luang kepada istrinya agar dapat keluar dari mobil.