Pilihan Yang Sulit

Pilihan Yang Sulit
Ada yang bahagia


__ADS_3

Sampainya di depan pintu kamar yang paling atas, Viktor menurunkan istrinya dari gendongan.


"Silakan masuk, istriku." Ucap Viktor yang baru saja membukakan pintunya sambil melempar senyuman.


Sedangkan Vania sendiri melirik ke arah suaminya.


"Gak ada yang lucu, diam lah." Jawab Vania dengan ketus sambil masuk kedalam kamar.


Merasa capek dan lumayan sedikit gerah, Vania langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Bahkan, dirinya sama sekali tidak peduli dengan adanya sosok Viktor.


Viktor yang baru saja masuk, dirinya ikutan tiduran di sebelah istrinya.


"Capek ya, sini aku pijitin." Ucap Viktor membuka obrolan.


Vania masih menatap langit-langit dalam ruangan.


"Kenapa sih, kamu begitu nekad menikahi aku. Padahal aku sudah sering menolak kamu, tapi herannya tuh, kamu tidak pernah menyerah dan selalu memberi perhatian padaku. Juga, sudah ada perempuan yang menyukai kamu, tapi kamu tetap menolak dan memilih diriku. Memangnya sepenting apa sih, diriku ini padamu?"


Vania bertanya sama sekali tidak menoleh ke arah suaminya, lantaran gugup dan juga takut salah tingkah.

__ADS_1


Viktor yang mendapat pertanyaan dari istrinya, ia langsung mengganti posisinya dan kini tengah menghadap ke istrinya.


"Lihat aku." Pinta Viktor kepada istrinya.


Sebenernya Vania belum berani untuk menatap wajah suaminya dengan serius. Namun, mau bagaimana lagi. Mau tidak mau, Vania memberanikan diri untuk mengubah posisinya.


"Kamu beneran ingin tahu?" tanya Viktor dengan tatapan yang begitu serius.


Vania mengangguk, yakni tanda mengiyakan.


"Baiklah. Aku akan mengatakannya langsung padamu." Ucap Viktor.


"Karena aku sudah benar-benar jatuh cinta denganmu. Aku tidak peduli dengan perasaan orang lain yang menyukaiku, dan aku punya hak untuk mencintai perempuan yang aku pilih. Kamulah perempuan yang aku pilih, dan aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan kamu. Aku tidak peduli siapa kamu, karena aku mengenalmu jauh jauh hari sebelum mengetahui dari mana kamu berasal. Aku akan tetap memperjuangkan sampai aku menyerah dengan sendirinya." Sambung Viktor yang akhirnya menjawab pertanyaan dari istrinya.


Vania yang mendengar pengakuan yang begitu tulus dari suaminya, pun merasa malu. Vania terdiam, bingung harus mengatakannya apa.


Viktor bangkit dari posisinya, dan juga Vania yang akhirnya sama-sama duduk bersebelahan.


"Bagaimana dengan jawabanku, apakah kamu masih belum percaya dengan pengakuan dariku?" tanya Viktor yang ingin tahu tanggapan dari istrinya.

__ADS_1


Vania mengatur napasnya.


"Aku tidak tahu dengan perasaanku sendiri. Maaf." Jawab Vania yang sama sekali tidak berani menatap wajah suaminya.


Saat itu juga, Viktor meraih dagu milik istrinya dan menghadapkan wajahnya tepat didepannya.


"Aku tulus mencintai kamu, Van. Aku akan bertanggungjawab atas dirimu, dan akan aku korbankan demi kebahagiaan kamu. Cinta memang tidak bisa dipaksa, tapi cinta bisa dibiarkan tumbuh dengan sendirinya." Ucap Viktor sambil mendekati wajah istrinya semakin dekat.


Kemudian, menempelkan bi_birnya tepat di bibir istrinya yang terlihat serasa manis.


"Istirahat lah, agar nanti malam badan lumayan enakan." Ucap Viktor sambil melepas bajunya, dan menyisakan kaos oblong yang tipis.


Vania sendiri masih diam, terasa mimpi saat suaminya mencium bi_birnya walau hanya sekedar menempelkannya.


Vania memegangi bibirnya. Viktor yang dapat melihatnya, pun tersenyum bahagia saat istrinya tidak melakukan penolakan sama sekali.


Vania yang takut hilang kesadaran gara-gara bibir yang dicium suaminya, langsung beranjak dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi karena malu ketika teringat perlakuan suaminya.


Kini, giliran Viktor yang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.

__ADS_1


__ADS_2