
Hari pernikahan yang dinanti-nantikan oleh kedua belah pihak keluarga, kini tengah disibukkan dengan aktivitas yang cukup memakan waktu yang begitu lama dalam sehari menunggu selesai persiapan.
Vania, perempuan yang dipaksa menikah dengan lelaki yang tidak dikenalinya, daripada menerima cinta dari laki-laki yang mencintainya.
Berbeda dengan pihak calon pengantin laki-laki, rupanya sudah jatuh hati lewat foto yang diberikan oleh orang tua dari pihak calon pengantin perempuan.
Tidak peduli jika harus menyakiti peradangan adiknya, Ergan tetap memilih pilihannya, yakni menikahi perempuan yang dicintai adiknya. Tidak peduli juga jika perempuan yang akan dinikahinya tidak menginginkan pernikahan lantaran masih ingin menggapai cita-citanya.
Di dalam ruang ganti, Vania masih enggan untuk di rias. Pikirannya masih mencari ide agar dirinya bisa kabur dari pernikahan. Meski awalnya mengiyakan permintaan orang tuanya, namun setelah dipikir, dirinya menyadari untuk tidak menikah tanpa rasa cinta.
'Bagaimana ini? aku harus bagaimana? apa iya, aku harus menikah? apa harus kabur?' batinnya bertanya-tanya pada diri sendiri.
Vania celingukan untuk mencari cara agar dirinya bisa melarikan diri dengan baik, dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.
"Ah! iya, aku tahu sekarang. Viktor. Bodohnya aku, kenapa gak minta tolong sama itu anak. Tapi- mana dia mau membantuku, cintanya aja aku tolak." Gumamnya.
Namun tidak ada pilihan lain. Mau tidak mau, Vania menginginkan kabur. Tidak ingin waktu terbuang sia-sia, Vania segera merogoh ponsel dari tas kecilnya untuk menghubungi Viktor.
__ADS_1
Sedangkan yang tengah dihubungi, orangnya sedang berada didalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Vania." Ucapnya lirih sambil menyebut nama kontak di ponsel adiknya, siapa lagi kalau Bukan Ergian.
Karena pikirnya ada sesuatu yang penting, pikir Ergian, ia langsung menerima panggilan dari Vania.
"Ada apa?" tanya Ergian lewat sambungan telepon.
Karena ada rasa takut ketahuan, Vania sampai lupa jika yang menerima panggilan teleponnya adalah saudara kembar calon suaminya.
"Aku mohon sama kamu cepetan datang ke sini dan tolong aku. Cepetan." Jawab Vania was-was.
"Eh! tadi siapa yang menerima telepon ku? suaranya lain. Terus, tadi yang jawab telepon ku, siapa?"
Vania langsung bengong dan otaknya mencoba untuk berpikir keras ketika tersadar dengan suara yang menerima panggilan telepon darinya.
"Oh! tidak. Aku harus menelponnya lagi."
__ADS_1
Vania yang takut salah orang, akhirnya menghubungi Viktor kembali. Sedangkan yang dihubungi baru saja keluar dari kamar mandi.
"Barusan Vania telepon kamu. Dia minta sama kamu untuk cepetan datang. Vania meminta tolong sama kamu, tapi dianya gak bilang apa-apa, teleponnya langsung dimatiin." Ucap Ergian yang tengah duduk di sofa.
"Biarin aja, Vania memang begitu." Jawab Viktor mengabaikannya.
Saat itu juga, ponselnya pun kembali berdering dan Viktor mengabaikannya.
Ergian yang penasaran siapa yang menelpon dirinya, langsung menyambar dan melihat nama kontak yang tertera.
"Vania." Ucap Ergian sambil menyodorkan ponsel milik adiknya.
"Gak penting. Biarin aja." Jawab Viktor yang tidak ingin berbicara dengan Vania, hatinya masih terasa sakit ketika cintanya tertolak dan memilih kakaknya.
"Jangan begitu, mungkin saja Vania benar-benar membutuhkan kamu." Ucap Ergian mencoba untuk meyakinkan adiknya.
"Untuk apa? aku gak penting untuknya. Kenapa gak minta tolong sama kak Ergan saja, lelaki yang dia pilih, kenapa mesti aku?"
__ADS_1
Ergian sejenak diam, lantaran yang diucapkan oleh adiknya ada benarnya.