
Karena badan terasa gerah, akhirnya Vania memilih untuk segera mandi. Namun sebelum mandi, Vania memilih baju ganti terlebih dulu. Takutnya nanti terburu-buru untuk memilih baju yang pas untuk dipakai.
Sedangkan Viktor sendiri tengah berada di ruang keluarga sambil menunggu anggota keluarganya keluar dari kamar.
Ergan yang sudah membersihkan diri dan sudah siap untuk melakukan perjalanan jauh, tidak ada yang tertinggal sesuatu yang akan dibawa.
Sambil menuruni anak tangga, Ergan begitu rapi soal penampilannya. Tentu saja, Viktor merasa aneh dengan kakaknya sendiri. Apalagi asisten rumah tengah membawakan koper.
"Kak Ergan mau pergi kemana?" tanya Viktor penasaran.
Ergan tersenyum.
"Kakak mau pergi ke luar negri. Sekalian ada sesuatu yang diselesaikan. Jadi, kamu belajar dengan rajin, agar kamu bisa melanjutkan Kakak di kantor, sekalian menggantikan posisi Kakak. Nanti kalau Kakak sudah pulang, posisi kamu tidak lagi menjadi orang pemalas, tetapi seseorang yang bisa mengendalikan karyawannya. Semangat buat kamu, juga pernikahan kamu. Kakak doakan, semoga temukan bahagia dengan Vania." Jawab Ergan.
"Kak Ergan sedang tidak lagi menghindar, 'kan?"
"Enggak. Karena kamu sudah menikah, dan juga sebentar lagi selesai kuliah. Jadi, sudah saatnya kamu harus menjadi orang yang pekerja keras, bukan lagi ini itu dilakukan oleh orang tua atau kakak mu."
__ADS_1
"Benar. Yang dikatakan Kak Ergan ada benarnya. Jadi, siapkan mental kamu untuk masa depanmu." Timpal Ergian ikut berkomentar.
"Sudah lah, kamu tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting. Sekarang Vania sudah menjadi istrimu, tinggal kamu yang bekerja keras untuk mendapatkan cintanya." Ucap Ergan menyemangati adiknya.
Viktor mengangguk.
"Nah, begini 'kan, enak dipandang dan didengar. Jadi, kalian tetap akur dan tidak saling membenci." Ucap ibunya saat mendapati anak-anaknya akur damai.
"Iya dong, Ma. Kita bertiga harus damai, tidak boleh ada yang saling benci. Bukankah kita bertiga ini bersaudara? ya 'kan, Ma?"
Saat itu juga, ibunya memeluk ketiga putranya. Vania yang dapat melihat suasana di ruang keluarga, pun terharu.
Ibu mertua pun melihatnya, dan melepaskan pelukan dari anak ketiganya.
"Nak Vania, sudah bangun?" tanya ibu mertua.
"Sudah, Tante." Jawab Vania sambil berjalan mendekati.
__ADS_1
"Loh, kok panggil Tante. Panggil saja, Mama. Sekarang kamu sudah menjadi bagian keluarga Nugraha, yakni istri dari Viktor." Ucap Ibu mertua.
"I-iya, Ma." Jawab Vania sedikit malu.
"Ya udah kalau gitu. Sekarang 'kan, udah waktunya untuk sarapan pagi, kita sarapan pagi dulu. Oh ya, Mama mau panggil Papa kalian dulu, mendingan kalian duduk di ruang makan sambil menunggu Papa." Ucap Ibu dari tiga anak laki-laki.
Semua mengiyakan, termasuk Vania.
Sambil menunduk karena malu, Vania tidak berani untuk mendongak. Namun, tiba-tiba langkah kakinya terhalang oleh Ergan. Sedangkan Viktor memilih duduk dan tidak ingin ikut campur.
"Van."
Vania langsung mendongak.
"Aku mau minta maaf soal pernikahan kemarin, kalau aku memilih mundur. Aku ucapkan selamat untuk kamu, semoga bahagia dengan pernikahan kamu bersama Viktor." Ucap Ergan meminta maaf atas kesalahannya yang sudah memilih mundur.
"Kak Ergan tidak perlu meminta maaf. Terima kasih atas ucapannya, dan juga doanya. Semoga Kak Ergan segera menyusul, dan mendapatkan perempuan yang lebih baik dariku." Jawab Vania berusaha untuk bersikap tenang.
__ADS_1
Ergan tersenyum tipis kepada adik iparnya.