Pilihan Yang Sulit

Pilihan Yang Sulit
Diikuti


__ADS_3

Karena tidak ingin putranya kenapa-napa, akhirnya menuruti kemauannya.


"Baiklah, Mama akan kembali ke kamar. Kalau kamu membutuhkan sesuatu, panggil saja Mama atau asisten rumah. Satu lagi, kalau ada masalah dan kamu berat untuk menerimanya, kamu bisa bicarakan atau ceritakan sama Mama." Ucap ibunya berpesan, Viktor mengangguk tanda mengiyakan.


"Iya, Ma." Jawab Viktor beralasan, sebenarnya ingin rasanya bercerita soal perasaannya dengan wanita yang dicintainya.


Lebih lagi kenyataannya bahwa perempuan yang dicintainya itu adalah perempuan yang dijodohkan dengan kakak kandungnya sendiri, tentu saja sangat menyakitkan. Namun, Viktor bisa apa? cintanya saja di tolak, pikirnya.


Setelah ibunya tidak lagi berada di kamarnya, Viktor menutup pintunya. Kemudian, ia berdiri di depan cermin sambil menatap sedih pada dirinya sendiri.


"Van. Kamu yakin mau menikah dengan kakakku? bagaimana perasaanku jika kamu benar-benar menikah dengan kak Ergan? aku tidak rela jika kamu menikah dengan saudara kandungku sendiri. Sungguh, aku tidak akan terima." Gumam Viktor sambil menunduk dan mengepal kuat pada kedua tangannya.


Rasa kecewa dan sakit hati, membuat Viktor memilih untuk berendam didalam air hangat untuk menetralkan pikirannya yang tidak karuan, lantaran terus memikirkan perempuan yang dicintainya itu, tentu saja sangat menyakitkan ketika harus mengingatnya. Lebih lagi ketika teringat saat Vania menolak cintanya, benar-benar hilang sudah harapannya.


Sedangkan di tempat lain, Vania sedang dalam perjalanan bersama kedua orang tuanya untuk menghadiri acara pernikahan di keluarga Gentasa.


"Ma, masih jauh ya? perasaan dari tadi belum sampai juga." Tanya Vania yang mulai resah didalam mobil.


"Namanya juga kena macet. Tidak jauh kok, sebentar lagi kita akan segera sampai, sabar aja dulu." Jawab sang ayah menimpali.


"Ya, Pa, iya. Habisnya lama banget sih." Ucap Vania sambil membenarkan gelang yang ia pakai. Namun, tobat ia teringat saat dirinya jatuh di trotoar.


'Kok aku seperti bertemu orang satu, tapi beda orang ya?' batin Vania yang menyadari saat mengingat keanehan dalam pertemuan dengan orang yang sama tapi berbeda dengan tanggapannya.


Seketika, Vania teringat saat menyemburkan minuman air mineral dalam botol kepada seseorang yang ia tahu kakaknya Viktor.


'Kenapa yang di kampus seolah gak kenal aku yang udah ditabrak ya? terus, yang di rumah sakit kenapa bajunya udah ganti? secepat itukah mengganti pakaiannya dan pergi ke rumah sakit sama ibunya? enggak enggak enggak.' Batin Vania bertanya tanya soal lelaki yang diketahui kakak dari teman kampusnya.


Kemudian, Vania memukul kepalanya berulang-ulang agar ingatannya kembali normal.


"Vania. Vania! kamu kenapa, Nak?"


Ibunya yang merasa aneh dengan putrinya, langsung menyadarkannya.


Vania pun langsung membuang napasnya dengan kasar, tidak peduli jika di dalam mobil sekalipun.


"Tidak apa-apa, Ma. Vania hanya ingat kejadian tadi, lelaki yang sudah menabrak dan lari dari tanggung jawab."


"Jadi, luka ditangan kamu ini ulah lelaki yang tidak bertanggung jawab? katakan sama Papa, dimana orangnya. Papa mau beri pelajaran kepada lelaki yang sudah mencelakai kamu."


"Udah di obatin kok sama orangnya. Itupun karena bertemu dengan ibunya, dan disuruh meminta maaf. Sudahlah, Pa, lupakan saja. Lagi pula juga kakak dari teman baiknya Vania. Jangan menambah perkara, karena urusannya sudah selesai." Ucap Vania yang tidak ingin masalahnya bertambah besar.


"Kalau lelaki itu berulah lagi, bilang sama Papa." Kata sang ayah yang tidak ingin kenapa-kenapa dengan putrinya.


"Iya, Pa." Jawab Vania dengan anggukan.


Kemudian, Vania duduk sambil melihat jalanan untuk menghilangkan kejenuhannya. Tidak memakan waktu lama, akhirnya sampai juga di tempat tujuan, yakni di sebuah gedung yang cukup megah.


"Kita sudah sampai, ayo kita turun." Ucap Tuan Daman mengajak anak dan istrinya untuk segera turun dari mobil.


"Vania nunggu di dalam mobil aja ya, Ma, Pa?"

__ADS_1


"Calon suami kamu juga ikut, ini kesempatan kamu untuk bertemu dengannya agar lebih leluasa ketika mengobrol, ayo." Jawab sang ayah dan langsung mengajaknya masuk ke dalam.


"Ya deh, Pa, iya." Sahut Vania mengikuti kedua orang tuanya di belakang.


Namun, karena takut putrinya melarikan diri, Tuan Daman langsung menarik tangannya, dan menyuruh istrinya untuk menggandeng putrinya.


'Bener-bener sial aku ini malam. Kenapa juga tadi gak pura-pura sakit aja, kan beres. Pakai acara mau bertemu calon suami segala, Papa bener-bener nyebelin.' Batin Vania sambil menggerutu kesal.


Saat berada di dalam gedung, banyak mata yang mengarahkan pandangannya ke Vania, yakni yang tengah digandeng ibunya.


Kemudian, Tuan Daman mencari keberadaan sahabatnya yang tidak lain ayah dari Ergan, yakni Tuan Robi Nugraha.


"Aduh!" Vania langsung memegangi perutnya.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya sang ibu cemas.


"Perutnya Vania sakit, Ma, Pa, serius. Vania ke toilet dulu ya, beneran gak kabur kok. Kalaupun kabur, Vania siap dinikahkan secepatnya." Jawab Vania sambil memegangi perutnya sambil membungkukkan badan.


Tuan Daman yang rasanya ingin memarahi putrinya, sebisa mungkin untuk menahannya, takut jika putrinya benar-benar sakit, pikirnya.


"Biar Mama yang akan temani kamu, siapa tahu aja kamu mau kabur." Ucap sang ayah nyeletuk.


"Papa ini gimana sih. Anaknya sakit kok malah, udah main curigaan gitu. Ya udah, cepetan kamu ke toilet, Mama tunggu kamu di sini." Sahut ibunya Vania, dan meminta putrinya untuk segera pergi ke toilet.


Saat itu juga, karena sakit perutnya yang tidak lagi bisa ditahan, Vania langsung pergi menuju toilet. Tanpa disadari oleh Vania, rupanya ada yang mengikutinya.


"Akhirnya lega juga. Papa juga, makin curigaan banget sama aku sekarang mah. Bikin tidak bisa berkutik aja deh." Gumamnya sambil merapikan pakaiannya.


Setelah itu, Vania segera keluar dari toilet.


"Viktor." Vania langsung menyebutkan namanya.


"Van, kamu ingin kabur, 'kan? aku siap mengajakmu kabur dan menggagalkan perjodohan kamu dengan lelaki pilihan orang tua kamu." Ucap Viktor kepada Vania yang penuh harap untuk menerima ajakan darinya.


"Maaf ya, Vik. Aku gak bisa. Aku takut menambah masalah, dan semakin runyam permasalahannya." Jawab Vania sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Kalian. Ngapain kalian berdua disini? dan kamu Vik, kenapa kamu bisa ada disini? kenapa kamu gak bilang kalau kamu ingin ikut, dan bisa bertemu dengan perempuan ini."


"Bukan begitu, Kak. Gak tahunya yang nikah itu, teman aku sendiri yang laki-laki. Jadi, aku datang bersama teman-teman aku." Jawab Viktor beralasan, karena tujuannya hanya ingin menggagalkan pertemuan antara Vania dengan kakaknya sendiri, pikirnya.


"Oh. Kirain. Ya udah, aku duluan." Ucap Ergan setengah melirik ke arah Vania, dan bergegas pergi.


"Ih! kenapa sih aku mesti sial lagi. Benar-benar sangat menyebalkan." Gerutu Vania berdecak kesal saat harus bertemu lagi dengan lelaki yang ia kira sudah mencelakainya.


"Kamu masih kesal dengan kakakku?" tanya Viktor.


"Enggak cuma kesal, lebih malah."


'Baguslah, semoga saja setelah kamu tahu jika kak Ergan yang akan dijodohkan denganmu, kamu langsung memutuskan untuk menolak perjodohan.' Batin Viktor penuh harap.


"Van."

__ADS_1


"Iya, ada apa? oh ya, aku duluan ya. Soalnya aku takut kalau kedua orang tua aku nyariin. Soalnya nanti dikira aku kabur, aku lagi males bikin gara-gara."


Viktor hanya mengangguk, dirinya sama sekali tidak bisa menghalanginya. Kemudian, Viktor memilih pergi dari tempat tersebut dan pulang ke rumahnya karena tidak ingin perasaannya bertambah sakit.


Vania sendiri buru-buru mencari keberadaan kedua orang tuanya yang entah ada dimana.


BRUG!


Tanpa sengaja, Vania menabrak seseorang.


"Aaaa!" teriak Vania yang tengah menjerit saat dirinya hendak terjatuh.


Saat itu juga, seseorang yang ditabrak dirinya langsung menangkap tubuhnya agar tidak terjatuh dilantai, juga keduanya terlihat seperti tengah berdansa layaknya sepasang kekasih ataupun sepasang pengantin baru. Bahkan, lampu yang begitu terang tengah menyorot ke arah keduanya. Juga, banyak orang tengah melihatnya begitu jelas.


"Kamu!"


Keduanya sama-sama memekik karena kaget.


"Sengaja ya, mau cari kesempatan." Ucap Vania dengan berani menuduh.


"Enak saja. Bukannya kamu sendiri yang mencari kesempatan." Jawabnya yang tidak terima ketika dirinya di tuding.


"Dih! lempar batu beraninya."


"Makanya kalau punya mata itu buat lihat jalan. Bukan asal nabrak dan nyalahin orang, paham." Jawabnya dengan kesal.


"Stop! apa-apaan kalian berdua ini. Kenapa kalian berdua berantem? damai." Ucap Tuan Robi dengan tegas.


"Iya! damai." Timpal Tuan Daman ikut bicara.


Vania maupun Ergan sama-sama bingung dibuatnya. Bahkan, mereka berdua saling menunjuk satu sama lainnya.


"Ya udah, ayo ikut kami. Kalian pasti masih bingung. Ayo kita duduk di sana, sekalian ngobrolin kalian berdua." Ucap Tuan Robi yang langsung menarik tangannya Ergan.


Begitu juga dengan Tuan Daman, sama halnya menarik tangannya Vania dan diikuti oleh ibunya. Tentu saja membuat Vania maupun Ergan bingung seketika.


"Duduklah." Perintah Tuan Daman dan Tuan Robi bersamaan saat meminta anak-anaknya untuk duduk.


Tidak ada pilihan lagi, mau tidak mau keduanya duduk saling berhadapan.


"Baiklah. Kalau begitu akan kita bahas pokok intinya. Ergan, yang dimaksud perempuan yang akan Papa jodohkan sama kamu itu, ya dia ini, perempuan yang bernama Vania, dia yang akan menjadi calon istrimu, sekaligus yang akan menjadi istrimu." Ucap Tuan Robi.


Ergan dan Vania sama-sama melotot.


"Benar. Lelaki yang ada dihadapan kamu ini adalah calon suami kamu, sekaligus yang akan menjadi suami kamu nanti, namanya Erganta Nugraha kembaran dari Ergianta Nugraha. Calon suami kamu ini putra pertama dari keluar Nugraha." Timpal Tuan Daman ikut angkat bicara kepada putrinya.


"Apa!"


BRAK!


Vania dan Ergan sama-sama menggebrak meja cukup kuat, hingga menjadi pusat perhatian para tamu undangan yang lainnya.

__ADS_1


"Sudah cukup kalian marahnya?" tanya Tuan Robi.


Kini mereka berdua sama diamnya, dan hanya saling menatap satu sama lainnya.


__ADS_2