
Setelah mengucapkan kalimat sakral, kini Vania telah sah menjadi suami istri. Di sudut ruangan, Henifa tersenyum getir saat melihat lelaki yang dicintainya telah menikah dengan sahabatnya sendiri.
'Mungkin Viktor bukanlah jodohku.' Batin Henifa dan bergegas pergi.
Sedangkan orang-orang lainnya yang menjadi tamu undangan, telah memberi ucapan selamat kepada kedua belah pihak pengantin, termasuk kedua orang tuanya masing-masing.
Vania masih seperti tidak percaya jika dirinya telah menikah dengan Viktor, yang tidak lain teman akrab akrabnya.
Acara terus berlangsung, hingga akhirnya usai sudah acara pernikahannya. Kemudian, Vania dan Viktor bersiap-siap untuk pulang.
"Jaga Vania dengan baik ya, Nak Viktor. Sekarang Vania sudah menjadi istrimu, tanggung jawab ada padamu." Ucap Tuan Daman kepada menantunya.
Viktor menganggukkan kepalanya.
"Baik, Paman. Maksudnya, Pa." Jawab Viktor masih terasa kaku ketika memanggil ayah mertuanya.
Tuan Daman pun tersenyum mendengarnya.
"Tidak apa-apa. Ya sudah ya, kami sekeluarga pamit pulang. Dan untuk Vania, jadilah istri yang patuh kepada suami kamu, dan jangan membuat masalah." Kata Tuan Daman kepada anak dan menantunya.
"Iya, Pa." Jawab Vania dengan lesu.
Setelah berpamitan satu persatu, kini Vania bersama suami dan keluarga mertua langsung pulang.
__ADS_1
Dalam perjalanan, Vania masih diam, terasa kaku ketika harus dihadapkan dengan teman dekat sendiri yang harus menjadi suaminya.
"Minumlah. Sepertinya dari tadi kamu tidak minum." Ucap Viktor sambil menyodorkan satu botol air mineral kepada istrinya.
"Terima kasih, aku sedang tidak haus." Jawab Vania menolak.
"Apakah kamu masih marah denganku?" tanya Viktor.
Vania menggelengkan kepalanya.
"Tidak." Jawabnya dengan singkat.
"Terus, kenapa?"
Viktor yang tidak ingin membuat emosi Vania meledak, memilih untuk diam dan tidak untuk mengganggu.
Vania sendiri masih kepikiran sahabatnya, yaitu Henifa yang diketahui sahabatnya sendiri telah menaruh hati kepada Viktor, yang sekarang ini telah menjadi suaminya.
'Maafkan aku, Henifa. Tidak seharusnya aku merebut Viktor dari kamu. Aku benar-benar minta maaf.' Batin Vania merasa bersalah.
Cukup lama dalam perjalanan pulang ke rumah mertuanya, Vania sudah tidak sadarkan diri karena rasa kantuk yang sulit untuk ditahan.
Viktor yang sempat menoleh dan melihat istrinya ketiduran, langsung merangkulnya. Karena posisi ada yang kurang pas, Viktor menidurkan istrinya dipangkuannya. Tidak lama kemudian, sampai juga di depan rumah. Dengan hati-hati karena takut istrinya terbangun dari tidurnya, susah payah untuk menggendong sampai didalam kamarnya.
__ADS_1
Ergan yang sudah ada di rumah lebih dulu, melihat Vania di gendong oleh Viktor, berusaha untuk tidak mempunyai rasa cemburu.
"Viktor, temui Papa di ruang kerja, sekarang juga." Ucap Tuan Robi saat memergoki putranya tengah berdiri tidak jauh dari anak tangga.
"Iya, Pa." Jawabnya dan langsung mengikuti langkah kaki ayahnya yang menuju ruang kerjanya.
"Ada apa Papa memanggilku?" tanya Ergan yang sudah berdiri di depan meja kerja.
"Duduk." Jawab Tuan Robi yang tidak menyukai basa-basi.
Ergan pun duduk.
"Kenapa kamu pergi di acara pernikah kamu?" tanya Tuan Robi dengan serius.
"Aku sadar saat Vando tengah berbicara dengan adik perempuannya. Vando memberi nasehat, dan aku rasa nasihatnya adalah benar. Kalimat yang aku tangkap, menikahlah dengan lelaki yang mencintai, bukan lelaki yang baru dikenal meski baik orangnya." Jawab Ergan.
"Tapi bukankah kamu menyukainya?"
"Tapi Vania tidak mengenaliku. Juga, Viktor lebih tepat untuk Vania. Mungkin sekarang ini Vania belum bisa menerima kehadirannya Viktor, lambat laun juga bakal jatuh hati padanya. Apalagi Viktor sudah paham tentang istrinya, sangat mudah untuk saling mencintai."
"Papa tidak bisa berkata apa-apa lagi sama kamu. Karena kamu sendiri yang memilih polihanmu sendiri. Jadi, Papa tidak bisa memaksakan kehendak."
"Terima kasih banyak, Pa. Mungkin Vania memang bukan jodohku. Besok, aku akan berangkat ke luar negri. Untuk sementara waktu entah lamanya, aku tidak bisa menentukan. Doakan saja yang terbaik untukku, Pa." Ucap Ergan, tanpa disadari ibunya ikut mendengarkan.
__ADS_1
Kemudian, ibunya mendekati dan berbicara banyak hal dengan putranya. Sedih ketika harus berpisah dengan keluarga, namun tidak ada pilihan lain selain menuruti keinginan putranya, meski terasa berat.