Pilihan Yang Sulit

Pilihan Yang Sulit
Dihina


__ADS_3

"Oh ya, selesai kuliah nanti, kalian jadi lanjut kuliah lagi gak nih? kata kalian mau ke luar negri."


Viktor pun memulai obrolan.


"Tau nih, orang tuaku tiba-tiba memintaku untuk melanjutkan posisi kakak aku. Soalnya kakak aku dapat orang luar, dan pastinya akan tinggal di luar negri. Sedangkan aku diberi tanggung jawab yang cukup lumayan bikin kepalaku pening. Tapi ya sudahlah, mungkin memang begitu alur ceritanya. Terus, kamu sendiri gimana?"


Temannya tanya balik pada Viktor.


"Sama aja. Kakak aku juga memilih untuk di luar negri, dan memintaku untuk menggantikan posisinya. Sebenarnya sih, aku mau lanjut ke luar negri, tapi mungkin nasib kita sama." Jawab Viktor.


"Sama aja kek Gue, kalau aku suruh gantiin posisi bokap Gue. Ya mau kek mana lagi, nasib anak tunggal." Sahut teman satunya.


"Makanya buruan nikah." Kedua temannya pun meledek.


"Sialan kalian berdua ini." Jawabnya sambil berkacak pinggang, niatnya hanya untuk bersenda gurau.


"Oh ya, aku mau menemui dosen dulu. Nanti aku tunggu di kantin, oke."


"Mau ngapain menemui dosen, Vik?"


"Tidak ada apa-apa, cuma mau tanya suatu hal."


"Cie ... pasti mau minta izin buat liburan. Eh! salah, bulan madu."

__ADS_1


"Sok tahu kamu itu, dah lah aku duluan." Ucap Viktor dan bergegas pergi, kedua temannya pun mengiyakan.


Sambil berjalan, Viktor senyum senyum sendiri tidak jelas, ia merasa bahagia karena dirinya telah berhasil menikahi perempuan yang dicintainya.


"Ekhem. Maaf udah ganggu." Ucap Nindi yang tiba-tiba datang dan ikut berjalan beriringan.


"Ada apa, Nin?" tanya Erdi sambil memperhatikan sikap aneh dari teman kampusnya.


"Tidak ada apa-apa. Hari ini kamu ada acara gak?"


"Kenapa emangnya, Nin?" tanya Viktor sambil berjalan beriringan.


Tanpa Viktor sadari, jika Vania dapat melihatnya.


"Bukan siapa-siapa. Yuk ah ke kantin. Jugaan sudah tidak ada materi hari ini." Jawab Vania dan mengajak kedua temannya pergi ke kantin.


"Oh, dia Viktor bareng Nindi. Kenapa gak kamu samperin, Van? awas loh, Nindi orangnya licik." Timpal Henifa ikut berkomentar.


"Gak penting. Sudah lah, yuk ke kantin." Ucap Vania dan menarik tangan kedua temannya.


Sedangkan Viktor masih berjalan beriringan dengan Nindi, terlihat jika mereka berdua tengah membicarakan sesuatu.


"Oh, kirain ada apa. Ulang tahun kamu rupanya. Aku usahain untuk datang. Ngomong-ngomong siapa aja yang diundang?"

__ADS_1


"Banyak kok, termasuk gengnya Vania, nanti aku umumkan. Janji ya, nanti malam datang ke tempat yang sudah aku sebutkan tadi."


"Ya, nanti aku usahakan untuk datang."


"Makasih ya. Kalau gitu aku mau ke kantin. Sampai ketemu lagi nanti malam." Ucap Nindi sekaligus pamit untuk pergi.


Viktor mengiyakan dan mengangguk.


'Yes! akhirnya aku berhasil mengundang Viktor. Lihat saja, Vania. Malam nanti aku pemenangnya. Dan kamu bakal disingkirkan oleh Viktor.' Batinnya yang sudah seperti menang lotre.


Saat di kantin, rupanya Nindi melihat Vania yang tengah duduk bersama kedua temannya.


"Lagi kumpul keknya. Nanti malam aku ada acara ulang tahunku, jangan lupa nanti malam kalian bertiga datang ya. Soalnya bakal ada pertunjukan yang bagus, oke." Ucap Nindi yang langsung pada topik pembicaraan.


Vania langsung bangkit dari posisinya.


"Pertunjukan yang bagus, maksudnya kamu apa?" tanya Vania dengan berani.


"Tidak ada apa-apa. Datang saja di acara ulang tahun ku. Tadi aku becandain kamu saja. Oh ya, pakai baju yang bagusan dikit ya, biar kamu gak kelihatan norak." Jawab Nindi yang seolah tengah mengejek, lantaran sosok Vania yang hanya dikenal kalangan orang biasa.


"Ya, nanti aku usahain." Ucap Vania dengan kesal, yakni mengenai ejekan dari Nindi.


Beberapa anak kampus lainnya tengah tertawa. Vania sendiri memilih untuk mengabaikannya.

__ADS_1


__ADS_2