Pilihan Yang Sulit

Pilihan Yang Sulit
Di kampus


__ADS_3

Setelah sudah berada di ruang makan, semua tengah menikmati sarapan paginya. Vania yang sedang mengunyah makanan, sama sekali tidak berani untuk menoleh ke sebelah, merasa kaku ketika teman akrabnya menjadi suaminya.


'Bagaimana ini? kalau nanti di kampus bakalan heboh. Mau ditaruh dimana muka aku ini? sungguh konyol kalau semua tahu bahwa aku sudah menjadi istrinya Viktor.' Batin Vania sambil memikirkan atas hubungan pernikahannya dengan Viktor, sampai-sampai tidak menyadari jika yang lainnya sudah selesai makan, termasuk Ergan yang sudah kembali ke kamarnya untuk mengecek kembali karena takutnya ada barang yang tertinggal.


Sedangkan Vania masih dengan santainya menikmati sarapan pagi.


"Temani dulu istri kamu. Hari ini kalian berdua libur dulu kuliahnya, jugaan sudah mau selesai, 'kan?".


Vania yang tersadar dari lamunannya, pun langsung mendongak dengan mulut yang masih mengunyah makanan. Tentunya langsung menggembung kedua pipinya.


"Ya, Ma. Mungkin hanya absen saja, dan sekalian nanti mengajak Vania jalan-jalan." Jawab Viktor, dan kemudian menoleh ke arah Vania sambil tersenyum.


Sedangkan Vania sendiri segera menghabiskan makanannya dengan ekspresi dibuat cemberut.


"Ya udah ya, Mama dan Papa mau pergi dulu, mau mengantarkan kakak kalian, si Ergan ke bandara. Ergian, kamu kerja yang benar."


"Ya, Ma." Jawab Ergian bersamaan dengan Viktor.


Setelah itu, Vania bersama Viktor segera kembali ke kamar untuk bersiap-siap berangkat ke kampus. Saat di dalam kamar, Vania duduk di sofa dengan rasa malas karena takut akan menjadi bahan pembicaraan soal pernikahannya.


"Aku di rumah orang tua aku aja ya, aku lagi males ke kampus." Ucap Vania secara tiba-tiba.


"Kenapa emangnya?" tanya Viktor yang ikutan duduk disebelah istrinya.


Tentu saja membuat Vania gugup, karena statusnya yang kini telah menjadi suami-istri.

__ADS_1


"Ya gak kenapa. Aku cuma lagi males aja ke kampus. Aku nunggunya di rumah orang tua aku aja, gimana?"


"Boleh. Tapi ada syaratnya."


"Syarat? kamu tuh ya, dari dulu selalu minta imbalan. Aku gak mau."


"Ya udah kalau gak mau. Berarti berangkat ke kampusnya bareng."


"Ya deh ya, apa syaratnya?"


"Setelah aku pulang dari kampus, kita jalan-jalan. Tapi, menginap."


"Syarat macam apa itu, selalu gak masuk akal."


Viktor tersenyum.


"Ya deh, aku ke kampus. Daripada kamu macem-macem denganku, mending berangkat ke kampus." Jawab Vania yang langsung bangkit dari posisi duduknya dan bergegas keluar dari kamar, Viktor pun mengikuti dari belakang.


Selama perjalanan menuju kampus, Vania maupun Viktor sama-sama diam dan tidak ada yang bersuara. Tanpa disadari oleh Vania sendiri kalau ternyata sudah sampai di kampus.


"Kita sudah sampai di kampus, ayo turun." Ucap Viktor sambil melepaskan sabuk pengaman.


"Iya kah?"


"Apa perlu aku menggendong kamu?"

__ADS_1


"Gak perlu. Aku bisa berjalan sendiri, terimakasih atas tawarannya." Jawab Vania yang baru saja melepaskan sabuk pengaman.


Kemudian, keduanya segera turun dari mobil. Saat baru saja menutup pintu mobil, Vania sudah dihadang oleh kedua temannya, yakni Noni dan Henifa.


"Cie ... yang udah resmi menikah. Eh! resmi jadi suami istri. Selamat ya, semoga kalian berdua berbahagia. Aku senang melihatnya, akhirnya doa Viktor dikabulkan." Ucap Noni memberi ucapan selamat, serta meledek sahabatnya.


"Apa-apaan sih kamu. Jangan keras-keras dong, nanti ketahuan, malu akunya." Jawab Vania sedikit ada rasa malu ketika temannya mengetahuinya statusnya.


"Aku duluan ya, nanti telepon aku kalau mau pulang." Ucap Viktor kepada Vania, yang sekarang sudah sah menjadi suaminya.


Sedangkan Henifa sendiri berusaha untuk tetap tenang, dan membuang rasa sukanya kepada Viktor, lantaran sudah menjadi suami sahabatnya sendiri.


Sedangkan Viktor sendiri berkumpul bersama temannya.


"Hei! Bro, baru datang, Lu? cie... yang menjadi pengantin baru."


"Tau dari mana kalau aku menikah, sok tahu kamunya."


"Udah sih, jawab aja dengan jujur. Selamat ya, Bro. Semoga bahagia dengan perempuan yang selama ini kamu sukai, dan langgeng pernikahan kamu dengan Vania." Ucap temannya memberi ucapan selamat, serta doa terbaik untuk kawannya.


"Terima kasih. Semoga kamu segera menyusul."


"Cie ... yang pada akhirnya menikah. Selamat ya, Vik. Semoga bahagia atas pernikahan kamu dengan Vania. Akhirnya keinginan kamu terpenuhi dan terkabul, dan tidak lagi terbayang-bayang wajahnya, karena sudah ada di depan mata." Ucapnya yang juga ikutan memberi ucapan selamat, serta doa untuk Viktor.


"Terima kasih banyak atas ucapan, serta doa dari kalian. Maaf ya, jika aku tidak mengundang kalian, soalnya acara pernikahanku dadakan."

__ADS_1


"Ya, Vik, gak apa-apa. Aku udah mendengarkan ceritanya dari Henifa. Kalau kamu menggantikan posisi kakak kamu. Tapi aku salut sama kamu, semoga menjadi suami yang bertanggung jawab." Ucapnya, Viktor pun tersenyum.


__ADS_2